Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 52


__ADS_3

Livy makan dalam diam sama seperti biasanya, meski kehidupan yang dijalaninya Livy biasa-biasa saja namun bagi Livy ini adalah momen yang sangat berharga.


Ia bisa mendapatkan kembali rasa kasih sayang keluarga, juga mendapatkan kembali emosi dan rasa empatinya. Sudah cukup Livy hidup seperti robot dan terus berpura-pura.


'Malam ini penyatuan jiwa kami akan selesai' batin Livy sambil memotong daging di piringnya. Livy sangat senang dengan efek dari penyatuan jiwa ini namun disisi lain ia hanya tidak suka jika tidak bisa mengendalikan tubuh nya yang sekarang.


'Ck kenapa aku harus menanggung rasa malu yang dibuat oleh livyana' Alis Livy berkedut pelan, dia sangat kesal akan tingkah livyana akhir-akhir ini namun bukan berarti dia tidak menyukai nya, Livy hanya tidak terbiasa.


Selesai makan malam Livy segera kembali ke kamarnya dan pergi tidur, ia sudah cukup lelah bermain bersama Juan hari ini.


...


Semerbak angin menerpa wajah wanita cantik yang tengah tertidur di atas hamparan Padang rumput yang hijau. Bunga dan dedaunan pohon menari-nari saat terkena hembusan angin.


Wush


Angin sejuk menerbangkan Surai hitam milik wanita itu, karena merasa terganggu ia pun membuka matanya.


"Hoam..." Ia meregangkan tubuhnya dan menerjapkan matanya berulang kali.


"Apa ini dunia mimpi" ucap Livy sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Aneh, kenapa aku memiliki kesadaran didalam mimpi" gumam Livy sambil menggerakkan tangan nya. Tidak seperti umumnya Livy bisa bergerak bebas sesuai keinginan nya.

__ADS_1


Umumnya mimpi adalah rekaman ulang semua peristiwa yang dialami oleh seseorang, biasa nya mimpi didasarkan pada stres dan kelelahan batin.


...


"Livy, selamat datang" Livy menoleh ke sumber suara, ia bisa melihat seorang wanita dengan rambut perak dan mata merah menyala, ia berjalan mendekati Livy.


"Begitu ya, jadi kenapa kamu memanggil ku hari ini padahal saat pertama kali aku bangun ditubuh mu kau tidak menemuiku sama sekali" terang Livy dengan wajah datar.


"Sebelumnya aku hanya kurang yakin apa kamu bisa mencegah takdir malang ku dan keluarga ku" jelas Livyana sambil tersenyum canggung.


Livy menatap Livyana dingin, ia sangat tidak suka jika ada orang yang meragukan kemampuan nya.


"Jika kau menemuiku lebih awal mungkin aku bisa menyelesaikan masalah internal duchy lebih cepat" ucap Livy datar, Livy cukup sadar jika kepercayaan tidak datang secara tiba-tiba. Kebanyakan orang hanya akan percaya jika telah menyaksikan langsung.


"..."Livyana hanya diam mendengarkan perkataan Livy, ia tau jika Livy marah padanya namun ia tidak menunjukkan nya.


Livy akan lebih menghargai nyawa manusia dan lebih mendambakan kebahagiaan hidup dari pada kesenangan. Meski Livy dipaksa untuk meninggalkan kesenangan nya namun Livy tidak membencinya, karena nyatanya Livy juga mendapat keuntungan.


'Satu-satunya alasan aku membiarkan livyana menyatukan jiwa dengan ku hanya karena aku mendambakan kasih sayang keluarga dan aku berharap bisa merasakan apa itu cinta' batin Livy sambil memejamkan matanya.


Livy tau kekurangan dirinya, bahkan meski di dunia lain namun Livy masih tidak lebih dari robot tanpa emosi dan perasaan. Livy terkadang iri pada manusia normal, yang mana ia bisa bermimpi, bisa jatuh cinta, bisa merasakan kesedihan, bisa marah dan bisa kecewa.


Livy tidak bisa semua itu, terkadang saat dia menginginkan sesuatu ia tidak memerlukan usaha yang berlebihan. Livy tidak bisa menikmati sensasi mendapat sesuatu dengan usaha nya sendiri.

__ADS_1


Perasaan Livy juga hanya akting, Livy tidak pernah merasakan gejolak emosi sedikitpun dari manusia, itulah sebabnya Livy hanya menganggap mereka sebagai boneka.


...


"Aku hanya khawatir saat melihat masa lalu mu..."


"Kau tidak perlu bersimpati kepada ku" sela Livy dengan nada dingin, Livy terluka dengan fakta jika Livyana mendapat kan semua hal yang selama ini Livy dambakan namun Livyana tidak pernah menghargai anugrah itu.


"Livy aku..."


"Kau lihat hatiku merasa sakit saat ini tapi aku tidak bisa menangis, rasanya sesak, kalau bisa aku tidak pernah ingin terlahir seperti ini." Ucap Livy dengan nada datar.


"..." Livyana terdiam ia sudah mengetahui semua masa lalu Livy, otak Livy yang pintar sejak kecil membuat Livy memiliki pemikiran yang melebihi usianya. Perlahan hal itu membuat Livy menghilangkan semua emosi masa kanak-kanak nya.


"Aku hanya ingin hidup seperti gadis normal lainnya" lirih Livy sambil memejamkan matanya.


"Maaf Livy, aku tidak bersimpati kepada mu aku hanya ingin agar ayah dan kedua kakakku tidak mengetahui kematian ku" jelas Livyana.


...


Thanks for Readers


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata, maaf kemarin gak up ya seperti biasa kemari aku sibuk banget jadi gak sempat buat novel. Tetap nantikan kelanjutanya cerita ku ya.

__ADS_1


See You


Next Eps...


__ADS_2