
Juan masih memasang wajah dingin saat mendengar laporan-laporan dari para bangsawan. Mulai dari masalah bahan pangan tidak mencukupi, bahkan meski mereka punya banyak uang tapi uang itu tidak bisa langsung dimakan.
"Apa sudah mengimpor pangan dari kerajaan lain?" tanya Juan dengan nada dingin. Dia tidak menyangka masalah yang awalnya hanya kemiskinan berubah menjadi langka nya bahan pangan.
"Sudah yang mulia, tapi waktu yang diperlukan untuk mengimpor pangan dalam jumlah besar ke dalam kerajaan cukup lama" jelas Duke Gesiele.
Juan mengangguk menyetujui perkataan dari Duke Gesiele. Bahkan meski masalah pajak yang menurun telah teratasi namun kerajaan mereka kekurangan bahan pangan.
Itu semua karena banyaknya lahan pertanian yang rusak karena energinya di serap oleh batu sihir manmer. Juan memijit pelipisnya dengan pelan.
Dia merasa jika masalah kerajaan mereka tidak ada habisnya, di tambah lagi dia di pusingkan dengan kondisi Livy yang saat ini masih belum sadarkan diri.
"Berapa waktu yang diperlukan untuk mengirim pangan?" tanya juan masih dengan nada datar.
"Kurang lebih 1 bulan yang mulia! Belum dengan kemungkinan kecelakaan di tengah jalan" jawab Duke Gesiele.
"Minta penyihir Cahaya tipe pelindung untuk menggunakan mantra teleportasi untuk memindahkan sepertiga bahan pangan ke kerajaan. Bayar dengan batu sihir, kita tidak kekurangan batu sihir" ucap Juan lalu pergi meninggalkan ruang rapat.
Semua orang yang ada disana tidak ada yang berani untuk menghentikan kepergian Juan. Mereka bahkan bersukur masih bisa pulang dengan selamat.
...
Juan kembali keruang kerjanya bersama dengan Louis yang setia mengikuti di belakangknya. Juan duduk di kursi sambil memijat pelipisnya.
"Yang mulia, ada banyak dokumen yang harus anda tanda tangani" Louis meletakkan setumpuk dokumen di meja Juan. "Saya telah memeriksanya, anda hanya tinggal menanda tangani saja".
Juan masih tidak bergeming saat mendengar perkataan dari Louis, pikirannya saat ini tertuju pada Livy. Louis hanya bisa menghela nafas dengan Rajanya yang berubah dari Raja gila kerja menjadi Raja gila cinta.
__ADS_1
"Yang mulia! saya tau anda menghawatirkan kondisi nona Livyana. Namun bukan berarti anda bisa mengabaikan kerajaan dan rakyat anda" Louis menghela nafas pelan.
Juan mendengus kesal karena Louis berani menasihati dirinya. "Aku tau! Aku hanya tidak bisa fokus dengan pekerjaan ini sebelum mengecek kondisi Livy".
" Saya mengerti yang mulia, tapi tidak ada gunanya anda menunda pekerjaan anda karena hal itu." Juan ingin membantah namun di dahului oleh Louis.
"Semakin cepat anda menyelesaikan pekerjaan anda! Akan semakin cepat juga bagi yang mulia untuk bertemu dengan nona Livyana" jelas Louis dengan nada yang hormat.
Meski saat ini dia sedang mengutuk Juan yang seenaknya mengabaikan kerajaannya. Yang pada akhirnya hanya akan menambah pekerjaannya sebagai asisten kepercayaan Raja.
'Sigh...mereka hanya bisa menyusahkanku dengan urusan percintaan mereka.' batin Louis menggerutu.
...
Seorang gadis dengan surai hitam sedang meringkuk disudut ruangan yang gelap. Ruangan itu sangat berantakan dengan pecahan vas ada di lantai.
"Hiks...hiks" Gadis itu meringkuk sambil menangis dengan pelan. Seakan-akan takut jika dunia tau jika dia sedang menangis.
Ia mendongak saat mendengar ketukan pintu. Dia menatap pintu dengan tatapan kosong sebentar lalu kembali datar.
"Nona! apa anda baik-baik saja?" ucap seorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Tidak apa bi! Livy tadi tidak sengaja memecahkan vas" ucap Livy dengan lembut.
"Baiklah, jika butuh sesuatu bilang pada bibi" ucapnya dengan sedikit khawatir. Livy diam tidak menjawab, setelah pelayan itu pergi dia bagun dari duduknya lalu merapikan kembali kamarnya yang berantakan.
"Mereka hanya pura-pura khawatir" cibir Livy dengan nada penuh cemoohan. Livy sangat tau perilaku pelayan di rumah ini yang akan pura-pura khawatir agar tidak dipecat.
__ADS_1
Jika saja mereka memang khawatir mereka pasti tidak akan langsung pergi seperti tadi. Mereka benar-benar terlihat seperti robot yang hanya bergerak jika di perintah saja.
Livy mengetukkan jari lentiknya di dagunya, dia memiringkan kepalanya sambil tersenyum smirk.
"Karena mereka seperti robot, tidak ada salahnya jika diperlakukan seperti robot. Lagipula mereka telah berperilaku seperti itu" gumam Livy sambil tersenyum miring.
...
Di ruangan dengan gaya eropa, seorang gadis cantik dengan surai perak tengah terbaring di atas ranjang dengan damai. Di sampingnya seorang pria dengan surai kuning keemasan tengah menggenggam lembut tangan gadis itu.
Dia menatap sedih pada gadis yang sedang terbaring. Tak lama kemudian matanya berkedip.
"Livy" ucap pria yang tidak lain adalah Isgrid, dia merasakan pergerakan dari tangan adiknya.
Mata Livy perlahan terbuka, ia menerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya pada matanya.
Livy mengedarkan pandangannya yang dingin pada ruangan yang asing namun juga familiar. Dia mencoba bangkit, namun sebuah tangan menghentikannya.
"Livy, kau baru bangun! Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu!" jelas Isgrid dengan nada lembut. Isgrid mengelus kepala Livy dengan lembut.
"..." Livy hanya diam saja sambil memperhatikan Isgrid yang menatapnya dengan kasih sayang.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
__ADS_1
See you
Next Eps...