
Matahari mulai menyinari mansion Duchy, cahaya nya masuk melalui celah-celah jendela namun hal itu tidak mengusik tidur pulas Livy.
Tok... tok... tok
Kriet
Dalin masuk ke kamar Livy, saat masuk dia bisa melihat wajah menggemaskan nonanya yang tengah tertidur dengan damai.
'Andai ada alat yang mampu menyimpan gambar' batin Dalin sambil memandangi wajah damai nonanya, dia sangat ingin mengabadikan hal ini dan menyimpan nya sebagai harta karun.
Dalin memperhatikan nonanya sambil tersenyum hangat, dia tidak rela kehilangan momen ini, namun bagaimana pun nonanya harus segera bangun dan bersiap karena hari ini mereka harus ke ibukota untuk membuat gaun yang akan digunakan pada pesta ulang tahun Raja.
Dalin menghampiri nonanya dan menggoncang kan tubuhnya agar nonanya segera terbangun dari tidurnya.
"Nona, bangun lah! matahari telah terbit" Mendengar panggilan dan merasakan goncangan Livy membuka matanya perlahan.
"Aku bangun" lirih Livy dengan mata sedikit terbuka, Livy menerjapkan matanya untuk menyesuaikan pencahayaan pada penglihatan nya.
"Hoammm"
Livy mendudukkan dirinya dipinggir kasur sambil meregang kan tubuh nya yang sedikit kaku.
Setelah mengumpulkan energi Livy pun beranjak dari kasur nya dan menuju kamar mandi, dengan bantuan Dalin Livy mandi dan berpakaian.
...
Tap...tap...tap
Seperti biasa Livy sarapan bersama ayah dan kedua kakaknya, mereka makan dengan damai, setelah nya Livy pun pergi ke perpustakaan karena Livy tidak memiliki pekerjaan jadi dia belajar sihir bersama Lisgred.
Livy menyimak penjelasan dari Lisgred yang detail dan mudah dipahami, dia bisa merasakan ketulusan Lisgred dalam mengajarinya.
"Kak apa semua penyihir harus menggunakan tongkat sihir" tanya Livy sambil mengangkat tangan nya keatas.
__ADS_1
"Tidak juga, ada beberapa penyihir yang bisa menciptakan sihir tanpa bantuan tongkat sihir. Namun umumnya penyihir menggunakan tongkat agar sihir menjadi lebih stabil dan lebih mudah dilakukan" jelas Lisgred dengan wajah datar.
"..." Lisgred kembali melanjutkan penjelasan nya yang tertunda akibat pertanyaan dari Livy tadi.
Setelah dua jam Lisgred mengakhiri pembelajaran nya bersama Livy, yah walau dia sedikit tidak rela untuk berpisah dengan Livy namun apa daya dia masih memiliki pekerjaan di menara penyihir.
...
Livy kembali kekamarnya karena masih cukup pagi jadi dia memutuskan untuk pergi ke butik dan memesan gaun.
Saat ini Livy sudah ada didalam kereta kuda, namun dia tidak mengalami sakit pinggang seperti sebelumnya itu karena Lisgred memantrai semua kereta si mansion Duchy dengan sihir angin nya.
Hal itu karena Livy mengeluh pada Lisgred kalau pinggang nya sakit setiap menaiki kereta kuda jadi Lisgred memantrai semua kereta kuda.
"Hehehe... memiliki kakak yang bisa diandalkan itu sangat menyenangkan" gumam Livy pelan, dia tersenyum sendiri saat memikirkan kesenangan ini, namun rasa senang kali ini berbeda dengan kesenangan yang dia rasakan saat dia menghukum boneka yang tidak patuh.
"Bagaimana kabar para boneka-boneka ku" gumam Livy sambil menatap jendela, meski tidak bisa dibilang bahwa dia merindukan dunia lamanya namun dia hanya sedikit penasaran akan kabar mainan nya.
Sudah sangat lama Livy tidak bermain jadi permainan kali ini tidak akan seru jika selesai dengan cepat.
"Kuharap dia bisa bertahan cukup lama" ucap Livy seraya tertawa senang, dia sangat menanti kan permainan dimulai.
Tok... tok... tok
Dalin membuka kereta kan pintu kereta yang mana membuat Livy kembali memasang wajah datar.
"Nona kita telah tiba" Livy hanya mengangguk kemudian melangkah turun dengab batuan kesatria.
'Oh akan bagus jika aku memilik kesatria pribadi' batin Livy saat menerima uluran tangan kesatria Duchy.
Meski Livy cukup mahir berpedang dan sihir namun dia harus berakting seperti wanita bangsawan yang anggun jadi dia tidak bisa menggunakan pedang secara berlebihan dan dia juga tidak ingin musuhnya mengetahui jika dia bisa sihir.
"Mari nona" Dalin menuntun Livy menuju butik yang cukup terkenal dan Livy melangkah dengan anggun dan angkuh.
__ADS_1
Ting
Kriet
Dalin membukakan pintu agar Livy bisa masuk dan Livy pun melangkah masuk tidak lupa dengan anggun.
"Selamat datang lady Reichburgh, silahkan duduk dulu saya akan segera memanggil kan madam Elose." ucap pelayan toko
Madam Elose adalah desainer terkenal dikerjaaan Trianty, bahkan dia adalah desainer pribadi dari Ayala, tentu Livy mengetahui nya lewat novel.
Livy duduk dengan anggun, tidak lupa juga dalin menyusun cookies di piring, sebelumnya dia tau jika mereka akan disuruh menunggu jadi dia membawa teh dalam botol yang telah dimantrai sihir agar tetap hangat dan Beberapa cookies.
"Sambil menunggu bagaimana jika nona membaca novel ini, saya membawakan beberapa novel yang belum anda baca" ucap dalin seraya meletakkan beberapa novel diatas meja.
"Kenapa kamu berfikir ini akan lama" ucap Livy tidak suka, namun sebenarnya dia hanya berakting seperti livyana.
"Itu karena madam Elose harus mencatat pesanan dari beberapa lady terlebih dahulu nona" jelas Dalin.
Livy memasang wajah tidak suka kemudian memakan cookies dan meminum tehnya.
"Astaga, siapa ini yang saya jumpai" ucap seorang wanita dengan gaun merah yang kontras dengan rambut biru dan mata merah muda miliknya.
"Ah lady Fronderyte, saya kira siapa" ucap Livy dengan senyum anggun.
....
Thanks for Readers
Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See You
Next eps...
__ADS_1