
Karena merasa lelah Juan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar mansion untuk menenangkan pikiran nya.
"Sangat sulit mengerti pikiran Livy" guna Juan seraya berjalan-jalan dikoridor, sesekali Juan akan memandangi lukisan-lukisan dan beberapa perabotan lainnya.
"Untuk seukuran duke bangunan ini sangat mewah" ucap Juan lalu melanjutkan berjalan-jalan. Hingga Juan tiba di taman yang dipenuhi bunga mawar dengan berbagai macam warna.
Juan kemudian membaringkan dibawah pohon beringin yang cukup besar, juan lalu memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin sore.
"Disini sangat tenang" gumam Juan dengan nada sendu, jujur saja dia sangat merindukan perasaan ini, sejak menjadi raja Juan lebih fokus ke urusan negara dan tidak memiliki waktu untuk bersantai.
Mungkin jika tidak bertemu dengan Livy dia akan terus bekerja tanpa memikirkan urusan percintaan dan mungkin saja Juan hanya akan menikah untuk mendapatkan keturunan saja.
"Livy pertemuan kita adalah hal yang sangat berharga bagi ku, awalnya mungkin hanya rasa tertarik namun hari itu semakin aku mengenal mu entah kenapa aku semakin tidak bisa melepaskan kan pandangan ku" ucap Juan dengan senyum tipis.
Namun Juan kemudian teringat akan pertengkaran pertama nya dengan Livy meski hubungan mereka belum dekat dan dia hanya bisa menghela nafas.
Juan sedikit khawatir akan rencana Livy saat ini, sebab itu tidak menutup kemungkinan hal yang berbahaya, meski Juan tau kemampuan Livy tapi dia tidak bisa berhenti khawatir.
Meski Juan tau garis besar rencana Livy tapi dia tidak tau secara rinci, apalagi Livy melarang nya untuk terlalu ikut campur jadi dia hanya berharap Livy tidak terlalu nekat hingga membahayakan dirinya.
"Setidaknya dia tidak melarang ku ikut serta dalam rencananya" lirih Juan lalu menutup matanya sambil merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya.
...
__ADS_1
Disisi afgaren dia saat ini sedang memilih pakaian agar terlihat keren dan membuat Livy terpikat, jujur saja dia ingin sekali mengerjai Livy.
Dia ingin melihat bagaimana reaksi Livy saat tau bahwa dirinya adalah mantan tunangan nya.
"Sikap dingin nya itu pasti karena dia melupakan wajahku, aku sangat yakin dia tidak mengingat nya" gumam afgaren sambil tersenyum tipis. Ia sangat tertarik untuk melihat ekspresi terkejut Livy. Namun dia juga penasaran kenapa Livy bisa melupakan dirinya.
"Luke kau sudah menyelidiki tentang livyana" tanya afgaren pada Luke.
"Sudah yang mulia, menurut laporan terjadi kecelakaan pada lady Reichburgh beberapa hari sebelum permintaan pembatalan pertunangan dikirim Duke" jelas Luke singkat, padat dan jelas.
"Begitu" Afgaren pun melanjutkan aktivitas nya sambil menunggu matahari terbenam.
...
Di sebuah ruangan yang cukup gelap, terdapat pria paruh baya dengan rambut hitam pekat dan mata ungu gelap, meski ia sudah cukup berumur namun dia masih terlihat gagah dan menawan. Ia adalah Paman afgaren atau Helrasvy Rous Van Trianty.
"Duke Reichburgh kuharap kau bisa mengatasi yang satu ini" ucap Helras seraya tertawa senang, dia telah menyusun rencana sedemikian rupa untuk menumbangkan Duke Reichburgh.
Malam ini adalah awal dari kejatuhan kehancuran, baik itu untuk helras, Livy, maupun afgaren. Siapapun yang memenangkan permainan malam ini akan berada dipuncak untuk kedepannya, dan mereka yang kalah akan dipaksa menggunakan kartu as mereka.
Dan hal itu bagian dari rencana Livy, juga Livy memiliki keyakinan penuh untuk menang, kecuali jika ada variabel pengganggu yang mengganggu jalannya skenario yang dibuat Livy.
...
__ADS_1
Kembali ke Livy, tidak seperti sebelumnya Livy saat ini sendiri dikamar sambil membaca novel dan cemilan tentunya.
"Aaaahh, sangat seru" ucap Livy dengan semangat seraya meletakkan novel ke atas meja kecil disamping tempat tidur Livy.
Karena ceritanya sangat seru Livy bahkan mengulang sebanyak 5 kali, namun dia harus menghentikan nya sebab ia masih harus memikirkan peristiwa yang akan terjadi malam ini.
"Cih... merepotkan" gerutu Livy dengan kesal, meski begitu Livy harus mengecek ulang persiapan nya agar tidak berakibat fatal nantinya.
"Hmmm...." pikir Livy seraya mengetukkan jari nya ke dagu. Meski Livy ingin mengubah alur novel namun dia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu, jadi dasar dari rencana Livy adalah Duke dan kedua kakak nya.
Karena jika Livy menarik perhatian yang tidak perlu, bisa-bisa helras terburu-buru dan mengacaukan segala alur novel.
"Harusnya aku tidak memulai nya terlalu awal" gumam Livy dengan bimbang. Seharusnya Livy tidak perlu mencari tau siapa yang ingin menggulingkan duchy Reichburgh lebih awal.
Livy harus nya membangun kekuasaan dan relasi yang kuat terlebih dahulu baru mencari musuh namun hal itu kacau sebab pertemuan tak sengaja nya dengan afgaren dan Juan tentunya.
Saat memikirkan hal itu Livy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Maaf kemarin gak sempat up habis lagi gak ada ide. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
__ADS_1
See You
Next Eps...