
Livy ikut meluk Isgrid, dia hanya bermaksud terlihat sedih dan menyesal, namun dia tidak menyangka jika kakaknya menganggapnya sedih karena dimarahi.
Livy tidak tau harus tertawa atau menangis. Dia hanya bisa mengatakan satu hal, kakak tertuanya adalah seorang pencinta adik. Jika tidak dia tidak akan berubah begitu cepat saat livy memasang wajah sedih.
Meski begitu, Livy bisa merasakan ketulusan dari Isgrid. Jadi Livy tidak menolak cinta yang di berikan oleh kakaknya. Meski Livy belum bisa membalas dengan cinta yang sama namun dia hanya bisa memberikan ketulusan didalam usahanya.
"Kakak, Aku belum makan siang, tadi setelah pulang aku segera menemuimu. Jadi saat ini aku sangat kelaparan" Ucap Livy dengan nada manja. Livy tidak ingin Isgrid terus merasa bersalah jadi dia mengalihkan topik.
"Kalau begitu kembali lah kekamarmu! aku akan meminta dalin membuatkanmu cemilan" Livy hanya mengangguk patuh kemudian melepaskan pelukan Isgrid dengan enggan.
Livy tidak bisa menyangkal, jika dia masih ingin merasakan kehangatan kasih sayang yang diberikan kakaknya. Livy berjalan pergi dengan ragu. Ingatan melintas di benak Livy.
Livy mengingat tindakan tidak tahu malu Reim tadi, Livy bisa mengerti perasaan Reim saat memeluknya. Livy mengerucutkan bibirnya, meski dia tidak ingin mengakuinya namun Livy sedikit iri dengan Reim yang bisa menunjukkan perasaannya dengan jelas.
Tiba-tiba Livy merasa ragu untuk pergi, dia berhenti kemudian berbalik. Dengan sedikit keraguan Livy kemudian berlari dan memeluk Isgrid.
Saat sadar dengan tindakannya yang kekanakan, wajah Livy bersemu merah. Livy menenggelamkan wajahnya di dada Isgrid.
Sedangkan Isgrid yang terkejut dengan tindakan Livy yang tiba-tiba berlari dan memeluknya. Butuh beberapa saat hingga dia sadar dari keterkejutannya.
Isgrid tersenyum kemudian memeluk Livy dengan erat namun lembut. "Ada apa hm?" tanya Isgrid dengan nada lembut. Telinga Livy memerah saat mendengar perkataan lembut dari kakaknya.
__ADS_1
Livy semakin membenamkan wajahnya "Tidak apa! Aku hanya merindukan kakak" ucap livy dengan nada kecil namun masih bisa didengar oleh Isgrid.
Isgrid sangat senang saat mendengar jawaban dari Livy sehingga dia lebih mengeratkan pelukannya.
Livy bisa merasakan jika pelukan Isgrid semakin mengencang, Livy membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan. Hingga Livy merasakan jika dirinya tidak lagi menginjak lantai.
"Ah.."
Isgrid menggendong Livy dengan satu tangan, nyatanya Livy sangatlah ringan sehingga dia bahkan bisa di angkat dengan satu tangan seperti anak kecil atau tidak bagi orang biasa livy tidak terlalu ringan.
Namun bagi Isgrid dia seperti membawa bulu, itu karena dia terbiasa memegang pedang yang beratnya puluhan kilo dengan satu tangan.
Livy hanya bisa pasrah saat Isgrid menggendongnya seperti anak kecil. Meski begitu itu lebih baik dari pada di gendong seperti putri.
Tidak peduli seberapa ingin dia, namun dia tidak bisa melalaikan tanggung jawannya. Yah dia hanya bisa menghabiskan sedikit waktu dengan adik kecilnya.
Livy sedikit kecewa mendengar perkataan Isgrid, meski begitu Livy tidak ingin bertindak egois. Lagipula Isgrid pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Tidak masalah, aku senang menghabiskan waktu dengan kakak meski hanya sebentar" ucap Livy mencoba menyakinkan Isgrid jika dia baik-baik saja.
"Ah Livy...tidak bisakah kamu jangan cepat-cepat menikah? Kakak tidak rela!" ucap Isgrid sambil memasang wajah masam.
__ADS_1
Livy tertawa lalu mengecup singkat pipi Isgrid. "Rencananya tidak akan berubah, tapi aku janji akan selalu mengunjungi kakak nanti" Livy tidak mengubah pendiriannya karena itu akan tidak adil bagi Juan.
Itu karena Livy bisa merasakan ketulusan yang diberikan Juan yang sebanding dengan keluarganya. Bagaimanapun dia juga masih berusaha membalas cinta Juan.
Isgrid cemberut karena tidak bisa mengubah pendirian adiknya. Bagaimanapun dia masih tidak rela jika adiknya akan menikah 2 tahun lagi.
Meski dia tau putri seorang bangsawan tidak bisa menikah lebih lambat dari usia 18 tahun, jika tidak orang-orang akan menganggapnya tidak menarik. (bahasa kasarnya itu tidak laku ya)
Isgrid tidak lagi mengungkit masalah pernikahan, dia pun mengobrol sepanjang perjalanan ke kamar Livy. Hal itu memakan waktu sekitar 15 menit. Itu karena mansion Duke Reichburgh sangatlah besar, Meski tidak sebesr Istana.
Isgrid menurun kan Livy di depan kamarnya lalu menepuk kepala Livy dengan lembut. Kemudian kembali keruang kerjanya dengan enggan.
Livy hanya terkekeh pelan saat melihat kakaknya yang pergi dengan ketidakrelaan di wajahnya. Livy kemudian berbalik dan masuk kekamar.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.
See You
__ADS_1
Next Eps...