
Penilevy marah dengan sikap sombong Livy. "Jadi beginikah sopan santun Lady Reichburgh, sungguh sangat sombong" sindir Penilevy secara terang-terangan.
Livy menaikkan alisnya sebelum tersenyum. "Apa maksud anda saya harus membungkuk pada seorang pelayan putri bangsawan Count? Apakah lady Asgrey memandang rendah Duke Reichburgh"
Wajah Penilevy berubah menjadi hijau, dia tidak menyangka akan di permalukan didepan umum.
"Lady Asgrey tata krama kerajaan sangat ketat, jadi aku tidak bisa seperti anda yang membiarkan seorang pelayan yang memanggil nama majikannya seperti anda." jeda livy lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Penilevy.
"Dia hanya pelayan, tidak sebanding dengan statusku, sebaiknya jangan terlalu berharap aku akan meminta maaf padanya" bisik livy dengan penuh sarkastik. Livy berdiri kemudian berbalik pergi.
"Lady Asgrey tolong peringatkan pelayanmu agar tidak berkeliaran di tengah jalan, agar dia tidak di tabrak lagi secara tidak sengaja" ucap Livy lalu kembali kedalam keretanya.
Penilevy yang mendengarnya sangat marah. Dia ingin sekali mencabik-cabik Livy namun status Livy lebih tinggi darinya.
...
Setelah kepergian Livy, Penilevy membantu Ayala berdiri dan mengajaknya ke toko kue. Penilevy memeriksa seluruh tubuh Ayala untuk memastikan Ayala baik-baik saja.
Setelah memastikan Ayala tidak terluka serius hanya beberapa lecet, dia pun menghela nafas lega dan duduk dikursi kemudian memesan kue dan teh.
"Aya sebaiknya kamu tidak mendengarkan perkataan Lady Reichburgh. Aku menganggapmu sebagai temanku" ucap Penilevy berusaha menghibur Ayala yang sedang murung.
Ayala tersenyum manis dan mengangguk, dia kemudian mengeluarkan kantong uang yang tadi diberikan oleh Livy lalu menyerahkannya kepada Penilevy.
__ADS_1
"Peni bisakah kamu membantuku mengembalikan uang ini kepada Lady Reichburgh" tanya Ayala dengan nada lembut sambil tersenyum tulus.
"Itu tidak perlu! Dia tidak kekurangan uang, karena dia sudah memberikannya kepadamu, maka uang itu adalah milikmu. Lagipula aku tidak ingin bertemu dengannya" jelas Penilevy sambil mendorong kembali kantong uang ke tangan Ayala.
"Tapi..."
Penilevy memotong ucapan Ayala "Uang itu di berikannya karena telah menabrakmu secara tidak sengaja, meski dia sombong tapi setiap perkataannya benar, jadi aku tidak ingin berdebat lagi dengannya"
Meski Penilevy tidak menyukai sifat sombong Livy tapi dia tidak membencinya. Faktanya begitulah sifat bangsawan, sombong pada mereka yang derajatnya lebih rendah.
Bahkan Penilevy juga tidak terkecuali, jadi dia tidak bisa mencari masalah dengan Livy yang jelas statusnya lebih tinggi darinya. Meski begitu dia akan membela Ayala jika saja Livy mengganggunya.
"Benarkah tidak apa?" tanya Ayala dengan sedikit keraguan, dia tidak ingin menerima uang Livy begitu saja, namun disisi lain dia juga membutuhkannya.
"Tidak akan ada masalah, dia sendiri yang memberikannya bukan berarti kau mencurinya." Ucap Penilevy mencoba manyakinkan Ayala untuk mengambil uang itu.
Meski Penilevy menganggap Ayala sebagai teman, tapi dia tidak sampai rela menggunakan uangnya untuk membayar hutang keluarga Ayala.
Nyatanya Penilevy masih memiliki sikap egois seorang bangsawan yang selalu mementingkan diri mereka sendiri. Bagi Penilevy memberi Ayala pekerjaan merupakan sebuah kebaikan karena dia telah memberi Ayala jalan untuk mendapatkan uang.
Ayala terhibur saat mendengar perkataan Penilevy, nyatanya dia juga adalah manusia yang egois. Dia tidak bisa menyangkal jika dia membutuhkan uang, jadi dia mencari alasan untuk dirinya sendiri.
...
__ADS_1
Livy telah kembali ke mansion Duke Reichburgh, hari sudah sore saat Livy kembali. Karena Livy pergi pagi tadi jadi dia melewatkan kelas pedang sehingga saat pulang dia harus pergi menghibur kakak tertuanya.
"Kak Isg maaf ya, Livy terlalu asik membaca sehingga lupa waktu." ucap Livy dengan wajah memohon, nyatanya Isgrid tidak bisa menahan gemas saat melihat Livy namun dia tidak ingin melepaskan Livy dengan mudah.
"Bukankah kamu bisa membawa buku itu kerumah, kenapa harus membaca disana" ucap Isgrid dengan cemberut, dia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Livy.
Livy menghela nafas pasrah dengan sikap kakak tertuanya yang sangat kekanak-kanakan. Meski begitu Livy masih akan menghiburnya, Livy menertawakan perubahan dirinya.
Jika itu dulu, Livy tidak akan repot untuk melakukan hal ini. Dia sudah biasa menerima cinta orang lain, namun tidak pernah memberi orang lain cinta dalam bentuk apapun.
Meski demikian semenjak dia ada disini, Livy mulai berubah, bahkan Livy mulai memperhatikan pandangan orang lain terhadapnya.
Livy memasang wajah sedih lalu menunduk "Maaf...aku tidak berfikir akan berada disana sangat lama" lirih livy dengan wajah murung.
Isgrid yang melihatnya segera menjadi panik, dia bahkan melupakan amarahnya dan langsung memeluk Livy untuk menghiburnya.
"Maaf kakak tidak bermaksud begitu" jelas Isgrid dengan nada lirih, apapun itu dia bisa menahannya namun dia tidak akan sanggup melihat air mata adik kesayangannya.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
__ADS_1
See you
Next Eps...