Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 37


__ADS_3

Juan pun pergi mandi di kamar Livy, itu karena Rise sudah menyiapkan air mandi untuknya.


'Pantas saja dia tidak suka dengan pelayanan di sini sebelum nya, apa pelayan di Duchy Reichburgh cepat tanggap seperti ini' batin Juan sambil berjalan menuju bak mandi.


Setelah Rajanya pergi, Rise pun memerintahkan pelayan untuk menyiapkan pakaian untuk Juan, saat Rise memerintahkan hal itu pelayan itu sedikit kaget, mereka mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


...


Rise kembali masuk ke kamar, kemudian menyusun cookies dan teh di atas meja, setelah nya dia pun membangun kan Livy.


"Nona ini waktunya Cemilan siang" Ucap Rise sambil menggoyangkan tubuh Livy, Livy membuka matanya karena merasakan goncangan yang cukup kuat.


"Ugh... aku bangun" gumam Livy sambil meregang kan tubuh nya. Livy mendudukkan dirinya disamping kasur, dia masih mencoba mengumpulkan untuk tenaganya.


"Rise aku ingin mandi" ucap Livy pelan.


"Itu nona, air mandi Anda dipakai oleh yang mulia Raja" ucap Rise pelan, dia sedikit takut karena sudah bersikap lancang.


Livy menatap Rise dengan tajam, Livy berdiri dan menatap Rise dingin.


"Maaf nona, saya melihat tubuh yang mulia penuh dengan darah, jadi..."


"Apa dia tidak punya kamar" sela Livy sedikit berteriak, tapi sekesal apapun dia tidak bisa memarahi Juan karena memang ini adalah kerajaan nya.


"Akan saya siapkan air mandi lagi nona" Rise segera pergi melangkah keluar namun langkaknya dihentikan oleh Livy.


"Siapkan air mandi di kamar lain, yang mulia Raja butuh waktu lama untuk menghilangkan noda darah ditubuhnya"ucap Livy datar, dia sedang kesal dengan Juan.


"Baik nona" Rise pun pergi meninggalkan Livy sendirian. Setelah Rise pergi Livy pun duduk di kursi dan memakan cookies yang ada diatas meja.


Drt...drt...drt..

__ADS_1


Bunyi telepon mengganggu waktu santai Livy, Livy mengambil telepon dibalik bajunya. Alis Livy berkerut saat melihat nomor pemanggil di layar telepon.


"Dalin" Tak ingin membuang waktu lagi Livy pun mengangkat telepon dari dalin.


"Ada apa" tanya Livy dengan nada datar, karena jika Dalin menghubungi dia terlebih dahulu itu artinya ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


(Nona, ada undangan dari kerajaan untuk pesta ulang tahun yang mulia Raja) ucap dalin dari dalam telepon.


"Pesta ulang tahun Raja, jadi?" tanya Livy dengan heran,ia bertanya-tanya apa hubungannya hal itu dengan dirinya.


(Nona, Duke ingin menemui Anda, jadi tadi dia bertanya apa anda memiliki waktu) ucap dalin dengan nada khawatir, dia takut jika penyamaran nonanya terbongkar.


"Katakan pada Duke aku akan menemui nya saat makan malam" Livy menghela nafas pasrah, sebelumnya karena reputasinya buruk jadi tidak ada yang mengundang dirinya ke pesta bahkan untuk ulang tahun Raja sekalipun tidak ada yang mengundang dirinya.


Namun Livyana selalu datang ke pesta bahkan jika tidak diundang, Livy pun memanfaatkan hal itu untuk membuat alasan untuk tidak pergi tea party.


Livy pun mematikan telepon dengan kesal, dia rasanya ingin mencabik-cabik Afgaren, karena bahkan setelah pertunangan mereka dibatalkan dia masih tidak membiarkan dirinya tenang.


...


Tok...tok...tok


Rise masuk kedalam kemudian menghampiri Livy yang sedang menikmati tehnya.


"Nona air mandinya telah siap" ucap Rise sambil tersenyum. Livy pun berdiri, ia melangkah keluar dengan diikuti Rise.


Saat Livy akan keluar, ada pelayan dengan membawa pakaian untuk Juan, mereka kaget saat melihat Livy dan Rise kaluar.


"Kenapa" tanya Livy dingin, pelayan itu tidak menjawab dan hanya diam, hal itu membuat Livy kesal.


"Mereka membawakan pakaian untuk yang mulia Raja, nona" sebelum Livy marah, Rise sudah terlebih dahulu menjawabnya, meski baru hari ini dia menjadi pelayan pribadi Livy tapi dia sangat peka dan cepat tanggap.

__ADS_1


"Ya sudah" Livy pun melangkah pergi dengan diikuti oleh Rise.


Rise memberi kode untuk meletakkan pakaian Juan kedalam, kemudian menyusul Livy kembali.


Setibanya Livy pun mandi dengan bantuan Rise, setelah selesai mandi Livy pun berias dengan bantuan Rise, Rise membiarkan rambut Livy terurai.


...


Saat ini Livy sudah kembali ke kamarnya, Livy sedang membaca novel sambil menunggu makan siang, tentu dengan Cookies dan teh hijau buatan Rise.


Kriet


Juan masuk kedalam, sebelumya setelah mandi dan berpakaian dia kembali kekamarnya kemudian pergi keruang bacanya untuk memeriksa pekerjaan penting yang tidak dapat di tunda, setelah nya dia kembali lagi ke kamar Livy.


"Livy" panggil Juan pelan, namun masih bisa didengar oleh Livy. Karena masih kesal Livy tidak menghiraukan Juan dan tetap membaca novel.


"Livy" panggil Juan sedikit keras, merasa diabaikan Juan pun mendekati Livy dan mengambil novel yang sedang dibacanya membuat Livy memasang wajah cemberut.


"Ada apa?" tanya Livy dingin, di melipat tangannya dan menatap Juan datar.


"Kau masih marah" gumam Juan pelan, Ia melirik Livy yang masih memasang wajah datar dan menatapnya dingin.


...


Thanks for Readers


Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.


See you


Next eps...

__ADS_1


__ADS_2