Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 102


__ADS_3

"Ayah, saya ingin izin pergi ke luar" Setelah menunggu selama setengah jam Livy memutuskan untuk mengatakan maksud kedatangannya.


Duke memandang putrinya yang teguh ingin pergi keluar, dia tahu jika putrinya pasti bosan berada di mansion namun dia tidak bisa berhenti cemas.


Semenjak terakhir kali Livyana pergi keluar dan kembali dalam keadaan sakit dia selalu cemas setiap kali Livyana ingin keluar.


"Ayah akan mengijinkanmu jika kamu pergi bersama kakakmu" Duke hanya bisa berkompromi dengan putrinya karena tidak mungkin dia terus mengurung nya di mansion.


Livy sebenarnya ingin menolak namun dia pikir tidak masalah pergi bersama kakaknya dari pada dengan puluhan prajurit.


"Um baiklah, kalau begitu saya pamit ayah" Livy membungkuk sopan lalu melangkah pergi. Duke hanya bisa menatap sedih putrinya yang menjaga jarak dengannya.


Hal itu diketahui Livy melalui tatapan duke. Dia menghela nafas melangkah maju mengecup pipi Duke. Meski canggung namun Livy berusaha tidak menunjukkannya.


Suasana hati duke meningkat saat Livyana mancium pipinya. Livy yang bisa melihatnya dengan jelas hanya tersenyum tipis.


Setelah itu Livy kembali kekamarnya dan bersiap untuk pergi dia berencana pergi.


...


Livy bersandar dengan malas sambil menatap keluar, dia sedang berfikir bagaimana mengelabui kakaknya karena Livy pergi bersama Isgrid.


Dia bisa tahu jika tidak akan bisa bergerak bebas jika dia tidak menyingkirkannya. Bagaimanapun tujuannya keluar untuk mencari informasi.


"Kak Isg, aku ingin membaca di perpustakaan hingga sore apa kamu ingin bersamaku?" tentu Livy mengajak Isgrid karena tahu dia bukan orang yang suka membaca. Karena itu dia mengajak Isgrid dan bukan Lisgred.


"Aku ingin menemanimu" jawab Isgrid dengan ragu-ragu, dia ingin menemani adiknya namun dia benar-benar anti terhadap buku hanya Lisgred saja yang gemar membaca buku.

__ADS_1


Livy tersenyum tipis, dia tahu jika Isgrid ragu-ragu, dia tentu harus memberinya alasan untuk tidak terus mengikutinya.


Livy tersenyum dan berkata "Jika kak Isg memiliki pekerjaan, kakak bisa pergi dulu dan menjemputku nanti sore".


Mata Isgrid bersinar saat mendengar perkataan Livy, bagaimanapun dia bimbang. Awalnya dia masih memiliki beberapa pekerjaan namun dia tidak ingin melewatkan keluar bersama adiknya.


Terlebih dia akan mati kebosanan jika terus diperpustakaan. "Apa tidak masalah, aku takut terjadi sesuatu tanpa aku disampingmu"


"Tidak masalah kak, aku tidak akan kaluar dari perpustakaan kecuali kamu menjemputku. Juga kita bisa berjalan-jalan di pasar nanti"


Livy tahu jika kakaknya ingin menghabiskan waktu dengan nya namun dia masih ada urusan jadi dia hanya bisa membodohi kakak nya untuk maninggalkan nya sendiri.


Bagaimanapun dia harus memiliki ruang untuk privasinya. Livy tersenyum pada Isgrid dan berakting sebagai adik yang perhatian.


Walau sebenarnya Isgrid tidak lah bodoh namun IQ dan EQ nya menurun saat bersama adiknya. Dia selalu mempercayai Livy tanpa syarat hingga ke dia tidak akan mengatakan tidak kepada Livy.


"Baik, aku akan menjemputmu nanti. Ingat jangan pergi sendirian" Isgrid menepuk kepala Livy dengan lembut seolah-oalah dia adalah boneka porselen yang rapuh.


"Aku akab menunggumu" Livy mengangguk dengan patuh.


...


Setibanya di perpustakaan Livy segera masuk bersama dalin. Sementara Isgrid pergi ke istana dengan menunggangi kuda.


"Dalin kuharap kau tidak membocorkan apa yang kulakukan dan kubicarakan disini" ucap Livy dengan nada dingin.


"Nona adalah satu-satunya tuan saya" jawab dalin dengan patuh, bagaimanapun dia sudah sering menyaksikan nonanya melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Duke atau kedua kakaknya.

__ADS_1


"Itu bagus" Livy bisa melihat jika Dalin tahu satu hal, dia tidak terkejut atau panik dan tidak mencoba menghentikannya, seolah-olah hal ini sering terjadi.


Awalnya dia masih tidak percaya dengan Dalin namun reaksi dan jawabannya tadi membuatnya yakin jika Dalin benar-benar ada dipihaknya. Tidak pada musuhnya ataupun ayah dan kakaknya.


Livy berfikir jika dalin lebih seperti budak dari pada bawahan, bagaimanapun dia menuruti semua perkataannya tanpa bantahan.


"Itu bagus jika kamu mengerti" Livy sedikit menyesal karena tidak menguji kesetiaan Dalin lebih awal jika tidak dia pasti tidak akan repot mencari informasi.


'aku akan bertanya padanya nanti, lagipula bukan rahasia jika aku kehilangan ingatanku' batin nya sambil terus melangkah.


...


Livy memandang perpustakaan dengan kagum, bagaimanapun tempat ini sangat tenang dan nyaman hingga membuat orang lain enggan untuk pergi.


Dia tidak bisa untuk berhenti mengaguminya, meski dia tidak menunjukkannya di wajahnya. bagaimanapun Livy sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.


Dia mulai menjelajahi rak dengan mata yang berbinar cerah, dia akan mengambil buku apapun yang menurutnya menarik dan layak dibaca.


...


Thanks for reading


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata, tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.


See you..


Next eps...

__ADS_1


__ADS_2