
Pagi ini Juan berencana mencari Livy, sebab semalam dia harus begadang bersama Louis. Entah kenapa mood nya sedang sangat jelek jadi dia mencoba menghilangnya dengan sarapan bersama Livy.
Juan memerintahkan pelayan untuk membantu Livy bersiap juga dia menyuruh koki untuk membuat cookies coklat yang enak, itu karena sepertinya Livy sangat menyukai cookies.
Setelah menyiapkan semuanya Juan pun kembali kekamarnya, karena mereka hari ini ada kencan jadi dia harus terlihat rapi.
Selesai bersiap Juan pun pergi
kekamarnya Livy, namun saat dia datang dia melihat jika pelayan yang diperintahkan nya untuk membantu Livy berada diluar.
"Kenapa kalian masih disini" tanya juan dingin, kenapa mereka belum melaksanakan perintahnya.
"Yang mulia..."kaget ketiga pelayan itu, mereka bingung harus menjawab apa.
Melihat wajah bingung pelayan itu membuat Juan naik darah. "Jawab" bentak Juan kesal, sungguh dia tidak suka atas ketidak kompetenan mereka.
"Itu...yang mulia Ratu menyuruh kami keluar, dia bilang ingin sendiri" ucap salah satu dari mereka, dia menyebut Livy sebagai Ratu untuk menangkan Raja mereka.
"Kalian pasti melakukan kesalahan, katakan apa yang terjadi" tanya juan dingin, pelayan itu tersentak kaget mendengar nada dingin Raja mereka.
"Tidak ada yang mulia, sebelumnya kami mengetuk pintu dan yang mulia Ratu mempersilahkan kami masuk. Setelahnya Ratu bertanya apa 'air mandinya sudah siap' kami sedikit bingung harus menjawab apa, karena ini masih pagi jadi kami mengira jika Ratu masih tidur. Sebelum kami menjawab Ratu menyuruh kami keluar, tentu kami tidak langsung keluar namun Ratu mengatakan jika dia ingin sendiri. Karena kami masih diam saja Ratu pun membentak kami dan menyuruh kami keluar, karena takut kami langsung keluar" jelas pelayan dengan rambut ungu.
Juan kesal mendengar penjelasan dari pelayan itu, namun seharusnya Livy tidak terlalu marah pasti ada sesuatu yang membuat nya kesal.
__ADS_1
"Apa tidak ada yang lain" tanya juan datar dia sudah menghilangkan aura penekanan nya.
Ketiga pelayan itu menggeleng membuat Juan menghela nafas, dia akan mencoba berbicara kepada Livy. Dia melambaikan tangannya menyuruh ketiga pelayan itu pergi. Setelahnya dia masuk kedalam.
Kriet
Juan melangkah masuk, saat masuk dia melihat jika kamar Livy kosong jadi dia mencoba menunggu siapa tau jika Livy sedang mandi.
1 jam kemudian, Juan mulai kesal dan khawatir dia membuka kamar mandi namun tidak ada siapa pun hal itu membuatnya panik. Dia mencari Livy ke perpustakaan namun tidak ada.
Juan tambah panik dia memerintahkan pengawal dan pelayan untuk mencari Livy namun hasilnya nihil. Juan dengan putus asa kembali kekamarnya Livy. Dia sangat kelelahan saat dia mendudukkan dirinya dia merasakan ada sihir yang mengarah ke ruangan ini.
Dan ya tebakannya benar Livy muncul di tengah ruangan, membuat Juan kesal sendiri. Kemana Livy pergi tanpa memberitahu dirinya.
...
"Kau berada di kerajaan ku, jadi aku harus tau apa yang kamu lakukan" bentak Juan membuat Livy tersentak kaget. Entah kenapa dia merasa sangat emosional hari ini.
"Aku paling benci pria yang suka mengatur, hanya karena kamu Raja jadi kamu bisa bersikap seenaknya." balas Livy dingin, Juan mengingatkannya pada Afgaren didalam novel, sungguh pria yang menyebalkan yang mengekang seseorang atas nama cinta dan bahkan tega membuang tunangannya hanya karena dia seorang raja.
"Aku tidak suka berada disini, pelayan disini sangat buruk. Mereka hanya bergerak jika disuruh dan tidak melakukan apapun jika tidak disuruh." jelas Livy kesal, sejak memakan cookies tidak enak tadi pagi mood Livy menjadi rusak Untung saja Dalin mampu memperbaiki moodnya.
"Kamu hanya perlu memerintah kan, jika kamu tidak bilang apa yang kamu perlukan mereka tidak akan tau. Asal kamu tau Livy pekerja di kerajaan ini adalah bangsawan bukan rakyat biasa, jadi jangan samakan dengan pelayan dirumahmu" bentak Juan kesal, kenapa hanya karena hal sepele itu Livy sampai pergi tanpa pamit.
__ADS_1
Livy kesal mendengar perkataan Juan yang seakan-akan menghina para pekerja di rumahnya. Bagaimana bisa Juan berkata seperti itu.
"Memang beda, para pelayan dan pekerjaan di mansionku kebanyakan sangat setia kepada Duchy Reichburgh, berbeda dengan istana yang memiliki mata-mata dimana-mana" ucap Livy dingin, dia sangat tidak suka mendengar Juan menjelek-jelekkan pelayan di rumahnya.
"Itu..."
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu" Livy membaca mantra teleportasi dan cahaya menyelimuti Livy, dia sangat tidak ingin berlama-lama disana.
"Livy"
Juan mencoba meraih Livy namun Livy sudah pergi tanpa jejak. Juan menghela nafas kasar, entah kenapa dia sangat mudah marah saat ini.
Awalnya ia hanya ingin marah sebentar, ia berharap Livy meminta maaf dan menjelaskan kepergian nya. Namun jawaban Livy membuat Juan kecewa dan marah, sehingga dia menjadi meledak-ledak dan tidak mampu mengontrol emosi nya.
"Harusnya aku tidak mengatakan itu padanya" lirih Juan setelah dapat berfikir jernih, memang benar dia belum memiliki hubungan khusus dengan Livy maka seharusnya dia tidak berperilaku seperti suami yang menangkap basah istrinya yang keluar malam tanpa pamit.
Juan menjatuhkan dirinya di kasur, ia memijat kepalanya yang pusing memikirkan perbuatan nya tadi, bukan membuat Livy menyukai nya namun dia malah membuat Livy membencinya.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. So tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya
__ADS_1
See you
Next eps...