Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 94


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang penuh dengan buku yang tersusun rapi di rak, mirip seperti perpustakaan namun tempatnya sedikit kecil.


Seorang gadis berambut hitam sedang membaca buku dengam serius. Dia membalik halaman dengan perlahan, seolah-olah enggan membalik halamannya.


Tok...tok...tok


"Iya" jawab nya masih fokus pada bukunya.


"Nona ini sudah masuk waktu makan siang. Tuan dan Nyonya menyuruh anda turun untuk makan" jawab seorang wanita yang ada di luar.


Kilatan dingim melintas di matanya saat mendengar perkataan itu. Dia menyincingkan matanya penuh dengan kebencian.


Dia menghela nafas lalu memejamkan matanya dan membukanya kembali. Sekejab ekspresinya berubah menjadi datar lalu tersenyum lembut.


Dia meletakkan penanda pada buku dan menutupnya. Ia berdiri dan pergi turun kebawah untuk makan siang.


"Livy, kami akan tinggal seminggu disini setelah itu harus pergi lagi" ucap seorang pria paruh baya dengan nada datar. Livy melirik pria yang merupakan ayahnya, menatapnya dengan dingin namun senyum manis menghiasi bibirnya.


"Ayah, Livy memenangkan lomba Matematika tingkat negara 3 hari yang lalu" ucap Livy dengan nada ceria meski begitu matanya tidak ikut tersenyum.


"Hm...Ayah akan membelikanmu kalung berlian nanti" jawabnya dengan acuh. Senyum di wajah Livy hilang, meski hanya 2 detik.


"Ibu akan memberimu tas mahal nanti" lanjut wanita paruh baya yang merupakan ibu Livy. Livy mengepalkan tangannya lalu mengangguk dengam antusias.


Meski Livy sudah tau jawaban yang akan di berikan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih menyimpan sedikit harapan jauh dilubuk hatinya yang paling dalam.


Namun kenyataan sangat menyakitkan, hingga membuat Livy semakin membenci kedua orang tuanya. Livy tidak mengharapkan lebih, dia hanya ingin agar kedua orang tuanya memuji hasil kerjanya.

__ADS_1


...


Di ruangan bergaya eropa, seorang gadis berambut perak sedang terbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat, ia berkeringat banyak namun wanita dengan pakaian pelayan dengan hati-hati dan lembut menyeka keringatnya.


"Nona, cepatlah sembuh! semua orang mengkhawatirkan anda" ucap dalin masih setia menyeka tubuh nonanya yang telah 3 hari tidak sadarkan diri.


Dalin dengan telaten membersihkan tubuh Livy. Dia juga tidak lupa membuat cemilan kesukaan nonanya. Dia takut nonanya akan kelaparan saat bangun nanti.


Setelah mengganti baju Livy dengan yang bersih, dia pergi dari sana. Tak lama setelah Dalin keluar, Isgrid masuk ke kamar Livy untuk menjaganya.


Selama Livy sakit dia tidak pernah dibiarkan sendirian dikamar. Itu karena Duke takut akan ada penyusup yang akan mencoba mencelakai putrinya.


Sarmael berjaga di depan kamar Livy untuk mencegah siapapun masuk, selain Duke, Isgrid, Lisgred, Juan, dan Dalin yang terus bergantian untuk menjaga Livy.


Karena seberapapun enggan mereka meninggalkan Livy, namun mereka masih memiliki pekerjaan masing-masing.


"Livy cepat sembuh!" lirih Isgrid.


...


Sementara itu di ruangannya, Duke sedang kesal setelah membaca laporan dari bawahannya. Tiga hari yang lalu dia mendapatkan pesan rahasia, yang menyatakan jika putrinya sedang di incar oleh Paman sang Raja Trianty saat ini.


Setelah menerima pesan itu, dia segera menyelidiki keberadaan Helras, namun hasilnya nihil. Awalnya dia ingin melaporkan kepada Raja jika Helras masih hidup.


Namun dia tidak memiliki bukti yang kuat sehingga, dia menahan keinginannya sampai menemukan bukti tentang keberadaan Helras.


'Helras! kau berani menyentuh putriku! kalau begitu bersiaplah untuk menemui Raja neraka.' batin Duke tatapan tajam.

__ADS_1


"Pergilah cari tau siapa saja yang melakukan kontak langsung dengan Putriku" ucap duke dengan nada dingin.


"Baik, Tuan Duke" ucap pria berpakaian hitam itu sebelum menghilang dari hadapannya.


...


Sementara itu di Kerajaan Crastine, Juan sedang dalam susana hati yang buruk. Sehingga di ruang rapat, memiliki atmosfir yang mencekam.


Louis yang mengetahui penyebab buruknya suasana hati Juan hanya bersikap acuh. Meski dia ikut khawatir dengan kondisi Livy, namun dia tidak ingin di limpahkan pekerjaan milik Juan.


Jika tidak dia akan segera menemui Raja Neraka karenanya. Meski begitu dengan memaksa Juan bekerja saat Livy sedang sakit sama saja dengan menghadapi malaikat maut.


Namun bukan Louis jika tidak bisa membujuk Juan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Di tambah lagi dengan adanya Ayah dan Kedua kakak Livy yang selalu menjaga Livy sehingga Juan bisa tenang untuk meninggalkan Livy.


Meski Louis bersikap acuh, namun tidak dengan bangsawan lainnya. Mereka berteriak didalam hati mereka berharap bisa pergi dari rapat ini dalam keadaan hidup.


Karena takut dengan aura Juan sehingga mereka bahkan tidak berani membantah perkataan Juan dan menyelesaikan laporan mereka dengan cepat.


...


Thanks for Readers


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.


See You


Next Eps...

__ADS_1


__ADS_2