Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Pernikahan Karin


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu dan hari ini tepat acara hari pernikahan Karin.


Vino juga hari ini datang karena Karin mengundangnya, Vino dan Caca sudah siap mereka langsung menuju ke rumah Aftar untuk menjemput Aftar dan Kinan.


Malam ini Caca terlihat sangat cantik dengan balutan dress warna biru dongker, riasan yang tipis tapi sangat natural dan jepitan berbentuk mahkota menghiasi rambut yang di sanggul agak berantakan.


Vino juga sangat tampan dengan setelan jas warna hitamnya yang di padukan dengan dasi dan kemeja warna biru dongker.


Malam ini dua sejoli terlihat begitu serasi dengan pakaian yang mereka kenakan.


Setelan menempuh perjalanan beberapa lama, Akhirnya Vino dan Caca sampai di depan rumah Aftar.


Aftar dan Kinan juga sudah siap.


Kinan terlihat cantik dengan dress hamilnya yang berwarna pink, dengan riasan yang natural dan rambut terurai membuat malam ini dirinya terlihat cantik dan elegan.


Aftar juga sangat tampan dengan setelan jas warna putihnya yang di padukan dengan dasi kupu-kupu.


Kini Aftar dan Kinan sudah masuk ke dalam mobil, Vino kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat acara pernikahan Karin.


Di dalam mobil Kinan terus menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Apa kamu lelah?" Tanya Aftar yang terlihat kawatir.


"Tidak mas, oh iya mas kamu tahu seperti apa calon suaminya Karin?" Tanya Kinan.


"Tidak lebih tampan dari mas," jawab Aftar dan Kinan langsung membenarkan posisinya. "Terus saja mas, bilang saja kalau kamu masih menyukai Karin." Kinan merajuk manja.


Sambil menyetir Vino merasa kesal pada bosnya ini, bisa-bisanya dia menjaili istrinya seperti itu.


"Kok jadi menyukai? Mas kan hanya menjawab pertanyaan dari kamu sayang," jawab Aftar mencoba menjelaskan.


"Sudah, aku tidak mau tahu." Kinan masih merajuk.


Caca ingin sekali tertawa. "Sayang, apa mereka sering seperti itu?" Tanya Caca pada Vino.


"Iya, bahkan kadang lebih dari itu." Jawab Vino dan Caca mengangguk pelan.


"Aku mendengarnya Vin, menyetirlah yang benar jangan bergosip!" Celetuk Aftar tiba-tiba.


Vino terus melajukan mobilnya, Kinan yang tadinya duduk manja bersandar bahu sang suami sekarang dia lebih memilih duduk dan diam saja, bahkan Kinan memberikan batas dengan boneka beruang di tengah-tengah mereka duduk.


Aftar hanya bisa menghela nafas panjang, dasar dirinya ini suka sekali membuat sang istri merajuk. Padahal kalau Kinan sudah merajuk dirinya yang kuwalahan dan Kinan juga tidak mau memberikan jatah olahraga malam sama suaminya.


"Sayang, jangan merajuk malu sama Caca dan Vino," rayu Aftar berharap Kinan sembuh dari rajukkan manjanya.

__ADS_1


"Biarkan saja." Jawab Kinan agak ketus.


Vino dan Caca sama-sama tersenyum, mereka membayangkan jika mereka sudah menikah nanti akankah seperti Kinan dan Aftar di saat antara mereka salah satunya ada yang merajuk.


Vino menghentikan laju mobilnya karena sudah sampai di gedung xx tempat acara pernikahan Karin dan suaminya.


Kini mereka turun dari mobil, Setelah turun dari mobil Kinan mengandeng tangan Caca dan kini mereka berjalan di depan Aftar dan Vino.


"Dasar istriku, tenang saja Kinan merajuk pasti tidak akan lama." Kata Aftar begitu yakin.


"Dasar Pak Aftar, bujuklah Nona Kinan pak! Aku juga pingin gandengan sama Caca," ujar Vino membuat Aftar hanya tertawa kecil.


"Buat sementara, kamu gandengan saja sama saya!" Aftar mengulurkan tangannya dengan jail, tapi Vino langsung menepisnya dengan kasar. "Sudahlah pak, mending aku jalan sendiri saja dari pada harus jeruk makan jeruk," tolak Vino menggelidik jijik.


Kinan dan Caca sama-sama menghentikan langkah kakinya, mereka sama-sama melihat Karin dan suaminya yang sedang berada di tempat pelaminan.


"Itu suaminya atau bapaknya?" Celetuk Caca, Kinan menggelengkan kepalanya.


Mereka agak terkejut melihat laki-laki yang gandeng oleh Karin itu laki-laki yang kira-kira umurnya sudah menginjak 40 tahunan.


"Kenapa?" Tanya Aftar, mengikuti pandangan mata istrinya.


"Itu mas, suaminya Karin?" Tanya Kinan.


"Mungkin, ayo naik! Kita berikan selamat pada Karin dan suaminya." Aftar meraih tangan Kinan lalu menggandengnya.


Kini mereka sama-sama menuju ke tempat pelaminan, Karin tersenyum melihat Aftar, Kinan, Vino dan Caca berjalan menuju ke tempat pelaminan.


"Terimakasih kalian sudah datang," batin Karin dalam hatinya.


"Sayang, mereka teman-temanku." Kata Karin, dan suaminya hanya mengangguk pelan.


Satu persatu dia antara mereka memberikan selamat pada Karin dan suaminya.


"Selamat ya, mudah-mudahan menjadi keluarga yang bahagia." Kata Vino, senyum yang dulu selalu sinis pada Karin malam ini senyum Vino begitu tulus.


"Terimakasih," jawab Karin dan suaminya.


"Kamu cepatlah menyusul!" Ledek Karin, membuat Vino senyum malu-malu.


"Kadonya sudah aku transfer. Selamat ya doaku yang terbaik buat kamu dan suamimu," kata Aftar sambil tersenyum. "Bahagia selalu ya Karin," sambung Kinan.


"Terimakasih," jawab dan Karin dan suaminya lagi.

__ADS_1


"Sayang, aku temui rekan bisnisku dulu ya," pamit Reno dan dia berlalu pergi.


Kini Karin, Aftar, Kinan, Vino dan Caca, mereka duduk di salah meja yang sudah di penuhi dengan banyak makanan.


"Kalian nikmatilah hidangannya! Terimakasih sekali lagi, kalian sudah menghadiri acara pernikahanku." Kata Karin, senyumnya terlihat begitu bahagia.


"Sama-sama," jawab semuanya dengan kompak.


Karin melihat ke arah Kinan, lalu dia tersenyum dengan begitu tulus. "Kinan, kamu bahagialah bersama Aftar. Aku janji aku tidak akan menganggu rumah tangga kalian lagi. Maafkan kesalahanku di masa lalu ya!" Kata Karin, lalu dia memeluk Kinan dan Kinan juga membalas pelukan dari Karin.


"Aku sudah memaafkanmu," jawab Kinan dengan nada lembut.


"Aku kira suamimu lebih tampan dariku, Karin." Canda Aftar, membuat semuanya tertawa kecil.


"Dia sudah berumur, dia juga seorang duda hanya saja dia tidak punya anak." Jelas Karin sambil tersenyum.


"Reno mau menikahiku saja aku sangat berterimakasih. Apalagi kondisiku yang saat ini sedang hamil dan itu bukan anaknya Reno. Tapi Reno mau bertanggung jawab karena dia juga tidak punya anak dari mendiang istrinya dulu," batin Karin dalam hatinya.


Karin merahasiakan kehamilannya dari semua orang, yang tahu hanya suaminya dan dia saja. Tapi Reno begitu tulus mencintai Karin, biarpun usia mereka terpaut belasan tahun tapi Reno dan Karin tidak mempermasalahkan itu sama sekali.


Karin sering gonta-ganti pasangan, bahkan dia mau tidur dengan siapa saja yang penting di bayar mahal dan dapat peran utama. Tapi karena ulah dia sendiri sekarang dia memetik hasilnya dia hamil dan tidak ada yang mau mengakuinya hingga akhirnya Reno seorang duda yang tidak punya anak dan istrinya sudah meninggal dengan ketulusan dirinya. Dia siap menikahi Karin dan menerima anak Karin sebagai anaknya sendiri.


"Tapi keliatannya kalian saling mencintai," kata Vino tiba-tiba.


"Iya Vin, aku sangat mencintai suamiku biarpun dia sudah berumur." Jawab Karin, membuat Kinan dan Caca sama-sama tersenyum.


"Cinta itu tidak memandang usia," ujar Kinan dan langsung di lirik kesal oleh suaminya.


"Dasar istriku, aku dan Kinan saja usianya terpaut agak jauh. Tapi namanya cinta ya tetap cinta," batin Aftar dalam hatinya.


"Benar banget Kin," sambung Karin.


"Kalian nikmatilah hidangannya! Kinan, Aftar terimakasih kado kalian. Aku permisi dulu, mau nemenin suamiku menemui tamu-tamunya." Kata Karin dan dia berlalu pergi dari tempat duduknya.


"Vin, aku tunggu kado darimu!" Kata Karin sebelum pergi menyusul suaminya.


"Akan aku kirim nanti malam!" Jawab Vino sambil tersenyum jail. Entahlah, kado apa yang akan diberikan Vino pada Karin?


Kini mereka semua menikmati hidangan yang ada di atas meja. Sedangkan Karin sedang menemani suaminya menemui para tamu yang datang.


Malam yang semakin larut, Aftar, Kinan, Vino dan Caca berpamitan pulang pada Karin dan suaminya.


Acara demi acara juga akhirnya selesai, Karin dan suaminya langsung menuju ke hotel untuk istirahat.

__ADS_1


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😘


__ADS_2