Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Ada angin apa?


__ADS_3

Setelah Arga pergi dari dalam kamarnya. Vira hanya diam saja.


"Mungkin dia mau pergi mabuk-mabukan atau menemui wanita lain diluar sana." Batin Vira dalam hatinya.


Ntahlah, Arga itu mau kemana?


Arga berjalan menuju ke depan komplek rumahnya dia pergi ke Apotek untuk membeli obat Vira.


Sesampainya di Apotek Arga membeli obat flu, setelah selesai membeli obat Arga juga mampir membeli bubur ayam untuk istrinya.


"Vira sakit, salah dia hujan-hujanan." Arga terus melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.


Di kamar.


Vira gulang-guling tidak bisa tidur, karena hidungnya mampet dan kepalanya merasa pusing. Vira memang tidak bisa terkena air hujan kalau dia terkena air hujan pasti dia akan langsung sakit.


"Kepalaku sakit sekali," Lirih Vira air matanya sudah membasahi pipi mulusnya.


Hati dan perasaannya saat ini begitu sedih, sedang sakit pun Arga tidak perduli sama sekali.


"Rasyah, mungkin jika kamu masih ada pasti kamu akan selalu memperhatikanku." Vira mengingat sosok Rasyah yang begitu perhatian pada dirinya.


Tanpa sadar ternyata Arga sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Rasyah lagi-Rasyah lagi, siapa sih Rasyah itu? Apa kamu punya laki-laki di belakangku?"


Arga berjalan mendekati Vira, lalu tangannya memegang dagu Vira dengan kasar.


Vira menatap Arga dengan tatapan penuh tanda tanya? "Bisa lepaskan aku! Bukankah, kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istrimu!" Sentak Vira sambil menepis tangan Arga yang saat ini sedang memegang dagunya dengan kasar.


Arga menatap Vira dengan tatapan penuh amarah "Ingat ya statusmu adalah istriku! Dan aku tidak mau istriku sampai punya laki-laki lain di belakangku!" Tegas Arga dia tidak mau tahu.


"Kamu, bilang aku istri kamu tapi kamu sendiri tidak pernah perduli padaku, bahkan kamu juga tidak pernah menghargai aku yang kamu pikirkan hanya Kinan, Kinan dan Kinan." Mata Vira di penuhi dengan amarah, dia menepis tangan Arga dengan kasar.


Arga terdiam sesaat, dia menghela nafasnya dengan panjang. Lalu menatap mata Vira dengan tatapan lembut.


"Minumlah obat ini! Sudah aku males berdebat, sekarang kamu makan bubur terus minum obat!" Arga duduk di tepi ranjang, dia membuka bubur yang tadi dia beli, lalu meyuapkan ke mulut Vira.


Vira menatap Arga, lalu dengan pelan membuka mulutnya.

__ADS_1


"Ada angin apa?" Batin Vira dalam hatinya.


Arga terus meyuapi Vira hingga Vira memintanya udah sudahan karena merasa sudah kenyang.


"Arga..." Kata-kata Vira terhenti.


"Minumlah obat ini, terus istirahatlah!" Arga menatap Vira dengan tatapan cuek tapi matanya menunjukkan rasa perhatian yang tulus.


Vira meminum obat yang Arga beli, setelah minum obat Vira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan Arga menyelimuti Vira agar Vira tidak kedinginan.


"Arga...." Kata-kata Vira terpotong.


"Tidurlah, kamu harus istirahat yang cukup!" Sambung Arga dengan begitu dingin.


Arga berlalu pergi dari kamarnya, kini dia sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Rasyah, apa Vira punya laki-laki lain? Awas saja jika dia sungguh punya laki-laki lain!" Arga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sungguh dia tidak rela kalau Vira sampai punya laki-laki lain di belakang dirinya.


Vira belum tertidur, kali ini dia sedang memikirkan Arga itu kenapa? Hari ini Arga sungguh berbeda dari biasanya.


"Vira jangan berpikir macam-macam, Arga melakukan semua itu hanya karena kasian padamu, ingat jangan pernah berharap lebih!" Batin Vira dalam hatinya.


Vira segera menepis semua pikiran yang ada di otaknya. Buru-buru dia memejamkan mata dan membuang semua pikiran tentang Arga.


Pagi hari yang begitu cerah, Aftar baru saja bangun dari tidurnya. Aftar bangun dari tidurnya sambil memijat bahunya yang terasa pegal karena semalaman tidur di sofa.


"Sakit semua badanku," Keluh Aftar sambil memijat-mijat bahunya dengan tangannya.


"Apa, Kinan belum bangun?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri, Aftar beranjak dari tempat sofa lalu pergi melihat Kinan yang tidur di atas kasur.


Aftar melihat Kinan sudah tidak ada di atas kasur "Kinan, kemana?" Aftar membuka pintu kamar mandi "Ahhhchhhh..... dasar br*ngsek aku sedang mandi!" Teriak Kinan dan langsung membungkus tubuhnya dengan handuk yang ada di kamar mandi.


Aftar ternganga tidak percaya, dia melihat dua g*n*ng k*mbar Kinan terlihat masih sangat kencang.


"Aku melihatnya, sungguh..." Batin Aftar dalam hatinya dengan kasar Aftar menelan ludahnya.


"Dasar, bukannya ketuk pintu dulu! Ini main buka saja," Kinan marah-marah pada Aftar.


"Kamu yang salah, mandi bukannya pintu kamar mandi di kunci, ini malah tidak!" Aftar tidak terima dan tidak mau salah.

__ADS_1


Buru-buru Kinan menutup pintu kamar mandinya dengan kasar, membuat Aftar kaget.


"Aish, apa dia melihatnya?" Kinan tidak percaya, sungguh dirinya merasa malu jika Aftar sungguh melihatnya.


"Kinan, kamu bodoh sekali. Bukannya mandi pintu kamar mandi di kunci ini malah kamu tidak menguncinya," Kinan memarahi dirinya sendiri.


Kinan terus memaki-maki dirinya sendiri sambil berganti pakaian.


Aftar senyam-senyum sendiri, dia membayangkan dua g*n*ng k*mbar milik Kinan yang tadi tidak sengaja di lihatnya.


"Aish, aku akan gila kalau seperti ini." Aftar mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tapi bibir sexynya tidak bisa bohong kalau dirinya saat ini tampak bahagia.


"Apa kelak aku bisa menikmatinya?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri, pikirannya sudah traveling kemana-mana.


Setelah beberapa lama Kinan keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Kinan agak malu mengingat kejadian yang tadi, Aftar juga agak canggung dan dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Kinan duduk di tepi ranjang sambil menunggu Aftar yang sedang mandi.


"Dia sungguh melihatnya, aku harus bagaimana?" Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kinan terus sibuk dengan pikirannya, sungguh mimpi apa dia semalam? Bisa-bisa Aftar melihat bagian tubuhnya yang selama ini di jaga baik-baik dan belum pernah ada yang menyentuhnya.


Dalam hati Kinan, mungkin jika Mas Aftar itu bukan suami kontrak aku. Aku pasti tidak apa-apa jika dia melihat keindahan tubuhku sudahlah Kinan kamu tidak usah pikirkan apa-apa lagi, anggap saja semua itu tidak pernah terjadi.


"Ntahlah, aku harus bagaimana saat berhadapan dengan dia?" Raut wajah Kinan tampak bingung, sambil menghela nafasnya wajah Kinan tampak merah merona karena malu dengan kejadian tadi.


Ternyata Aftar sudah berdiri di sebelahnya dari tadi tanpa Kinan sadari.


"Kenapa harus bagaimana? Kita ini suami istri, biarpun kita menikah kontrak tapi aku menikahimu secara sah!" Cetus Aftar, kini dia sudah duduk di sebelah Kinan.


"Mas..." Kata-kata Kinan terpotong.


"Biarpun kontrak, aku ini suamimu sahmu melihat bagian tubuhmu tidak masalahkan." Aftar tersenyum penuh kemenangan, Kinan komat-kamit tidak jelas.


"Mas Aftar," Teriak Kinan dengan kesal.


"Kenapa?" Aftar mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan, membuat jantung Kinan berdetak kencang.


"Kamu mau apa?" Tanya Kinan, dia langsung menjauhkan wajahnya tapi Aftar malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan.

__ADS_1


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🙏


__ADS_2