Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Vino belum bisa melupakannya


__ADS_3

Banyak yang bergosip dan menduga-duga tentang kedekatan Vino dan Caca.


Samar-samar Caca mendengar rekan-rekan kerjanya bergosip tentang dirinya dan Vino.


"Pak, saya permisi dulu ya." Pamit Caca, raut wajahnya tampak merah karena malu-malu.


"Duduklah! Aku menyuruhmu menemaniku makan siang, jangan berani beranjak dari tempat dudukmu sedikit saja!" Vino melirik Caca dengan lirikan tajam, Caca yang hendak beranjak dari tempat duduknya mengurungkan niatnya.


"Sungguh menyebalkan sekali sekertaris Pak Aftar," batin Caca dalam hatinya.


Caca hanya diam dan menuruti apa kata Vino, dia melihat Vino menikmati makanannya tapi Caca sendiri tidak makan dan hanya diam.


"Makanlah, makananmu!" Jangan terus melihat wajah tampanku," sentak Vino dengan begitu jutek. Membuat Caca semakin kesal pada Vino.


"Kepedean sekali sih ini satu manusia," batin Caca dalam hatinya.


"Iya tampan tapi jutek!" Cetus Caca, yang langsung tajam oleh Vino. "Dasar gadis sapu," Vino menatap kesal Caca.


Aftar dan Kinan sudah selesai makan siang, kini mereka sedang berjalan menuju ke kantin kantor.


Di kantin kantor, Kina ternganga tidak percaya dia melihat Caca sedang makan siang berdua dengan sekretaris suaminya.


"Mas, Vino ada hubungan apa dengan Kak Caca?" Tanya Kinan, raut wajahnya tampak tidak percaya dia melihat Vino dan Caca.


"Tidak tahu, bukankah itu Caca teman kamu?" Aftar balik bertanya, dia terus mengajak Kinan berjalan menuju ke kantin kantor dan kali ini dia mengajak Kinan ke meja Vino dan Caca duduk.


Sesampainya di meja Vino dan Caca, Caca tampak terkejut melihat Kinan. "Kinan," cetusnya dengan raut wajah kaget.


"Kak Caca," Kinan melihat Caca dan Caca paham sorot mata Kinan meminta penjelasan.


Vino menghentikan makannya, Aftar terus menatap Vino sambil tersenyum. "Cie gebetan baru," ledek Aftar dengan jail.


"Kinan, aku hanya menemani Pak Vino makan siang saja." Jawab Caca, raut wajahnya tampak tidak enak.


Vino melirik Aftar dengan lirikan kesal, apa-apaan bos-nya ini. Bisa-bisanya sang bos berkata seperti itu.


"Jangan berguraulah Pak Aftar!" Jawab Vino, tapi Aftar malah senyam-senyum.

__ADS_1


"Apa salahnya, seorang jomblo punya gebetan baru?" Aftar tertawa meledek, rasanya puas sekali meledek Vino.


"Gebetan baru apaan? Dia itu gadis sapu, gara-gara dia aku terkena gagang sapu," jawab Vino. Lirikannya begitu tajam pada Caca.


"Jangan main lirik-lirikan nanti jatuh cinta loh," cetus Kinan dan di anggukin oleh Aftar.


Sungguh suami-istri itu memang jail, mereka tidak melihat wajah Caca sudah merah seperti kepiting rebus gara-gara mereka terus meledeknya.


"Saya, permisi dulu pak." Caca beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berlalu pergi dari hadapan mereka.


Kinan mengejar Caca, lalu menarik tangannya. "Kak Caca, mau kemana?" Tanya Kinan.


"Aku mau kerja lagi, Kinan sungguh aku tidak mau jadi bahan ledekan suamimu. Kamu tahu dari tadi aku sudah kesal sekali dengan laki-laki itu," jawab Caca dia tidak mau menyebutkan nama Vino. Dia terus melihat Vino yang kini sudah duduk bersama Aftar.


"Jangan terlalu kesal kak takut tiba-tiba jatuh cinta," Kinan kembali meledek Caca dan Caca akhirnya pergi meninggalkan Kinan juga.


Setelah Caca pergi dari hadapannya, Kinan tersenyum. Kinan percaya kalau cinta itu datangnya dari rasa saling kesal satu sama lain.


"Kak Caca, lagian apa salahnya dengan Vino? Dia adalah laki-laki tampan, tapi tetap tampanan Mas Aftar sih." Batin Kinan dalam hatinya.


"Apa, kamu ada niat untuk mengakhiri masa jomblomu?" Tanya Aftar, tatapan matanya begitu serius.


"Untuk saat ini belum pak, saya masih belum bisa melupakannya." Jawab Vino, matanya tampak berkaca-kaca.


Aftar tahu kalau Vino masih belum bisa melupakan masa lalunya. Tapi jika terus berlarut, itu sampai kapan?


"Vin, dia sudah pergi untuk selamanya. Jika kamu terus memikirkanya aku rasa dia juga akan sedih di surga sana," tutur Aftar sambil melihat Vino.


Vino hanya bisa menghela nafasnya, dia tahu orang yang di cintainya sudah tidak ada untuk selamanya. Tapi dalam hati terdalamnya Vino belum bisa melupakannya, Vino sering sekali berusaha melupakannya tapi bayang-bayang wajah cantik dan senyum manis masih terus terngiang-ngiang di benaknya. Kenangan yang begitu indah sulit dia lupakan dan kejadian malam itu yang membuat Vino pertama kali meneteskan air matanya sebagai seorang laki-laki.


Vino sering berpikir untuk mencari seorang istri, tapi kadang hatinya belum siap menerima ke hadiran wanita lain dalam hidupnya.


"Iya pak saya tahu, hanya saja saya belum siap untuk membuka lembaran baru bersama wanita lain," jawab Vino dan Aftar menganguk pertanda mengerti.


Kinan yang dari tadi sudah berdiri di dekat Aftar dan tentunya Kinan mendengar semua obrolan suaminya dan sekertarisnya.


"Ternyata cerita cinta Vino begitu menyedihkan." Batin Kinan dalam hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, mulai sekarang belajarlah membuka hatimu untuk wanita lain!" Aftar menepuk bahu Vino dengan tegas.


"Mas Aftar," panggil Kinan.


"Sayang, duduklah!" Aftar menoleh lalu tersenyum pada Kinan.


"Maaf ya sekertaris Vino, aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian," Kinan membungkuk merasa bersalah, rasanya tidak sopan sekali mendengar obrolan pribadi antara suami dan sekretarisnya.


"Tidak apa-apa Nona Kinan," jawab Vino dengan nada lembut.


"Mas, aku mau pulang." Kata Kinan dengan suara lirih .


"Iya sayang, Vin aku antar istriku pulang dulu ya. Oh iya nanti kamu urusin meeting setelah makan siang ya," Aftar beranjak dari tempat duduknya.


"Iya pak, hati-hati di jalan!" Jawab Vino.


Aftar dan Kinan berlalu pergi dari hadapan Vino, setelah Aftar dan Kinan pergi Vino juga langsung kembali ke ruangan kerjanya.


Di ruangan kerja Vino.


Vino duduk di kursi kerjanya, dia membuka laci mejanya lalu mengambil bingkai foto yang dia simpan rapi di dalam laci itu.


Iya itu adalah foto Nana Putri Baskara, wanita yang selama ini tidak bisa Vino lupakan karena cinta Vino yang terlalu dalam.


Mungkin jika Nana masih ada pasti mereka sudah menikah, tapi takdir berkata lain karena ternyata Nana harus pergi meninggalkan Vino untuk selamanya.


"Ana, aku masih sangat mencintaimu." Vino meneteskan air matanya di bingkai foto Nana, setelah sekian lama hari ini Vino kembali meneteskan air matanya.


"Kenapa kamu dulu tidak bilang kalau kamu punya kangker otak? Jika kamu bilang padaku pasti aku akan membawamu ke Dokter yang bisa mengobati penyakitmu," air mata Vino semakin deras.


Vino merasa sangat bersalah 3 tahun pacaran dengan Nana tapi Vino sama sekali tidak tahu tentang penyakit Nana, Nana juga tidak memberitahu tentang penyakitnya pada Vino.


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😘


Maaf ya jika update nya lama, sudah mulai sibuk karena menjelang lebaran 🙏

__ADS_1


__ADS_2