
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Aftar dan Kinan baru saja sampai di rumah. Di ruang makan juga sudah ada Sanjaya yang sedang menunggu mereka.
"Kakek," sapa Kinan dengan nada lembut.
Kinan dan Aftar langsung duduk di kursi meja makan dengan raut wajah yang bahagia. Sanjaya menebak-nebak pasti ada yang terjadi di antara mereka.
"Kalian terlihat bahagia, ada apa?" Tanya Sanjaya penuh selidik. Rasa penasarannya sangat menyelimuti hatinya.
"Tadi Kinan melakukan USG dan hasil USG katanya anak Kinan laki-laki." Jawab Kinan, senyumnya terukir manis di sudut bibirnya.
"Iya kek, beberapa hari lagi juga usia kandungan Kinan sudah 7 bulan, kira-kira kita mau adakan acara 7 bulanannya dimana, kek?" Sambung Aftar, Sanjaya terlihat bahagia. "Ariffff...... kemarilah!" Panggil Sanjaya dengan begitu antusias.
Aftar menatap Sanjaya dengan tatapan bingung, kenapa sang kakek malah memanggil Pak Arif?
"Iya pak." Arif yang sedang di belakang berjalan menuju ke ruang makan. "Ada apa pak?" Tanya Arif pada Sanjaya.
Sanjaya merogoh saku celananya lalu mengeluarkan dompetnya, dari dalam dompet Sanjaya mengeluarkan kartu ATM nya lalu memberikan pada Arif. "Ini, kamu ajak semua pekerja di rumah berbelanja apa saja yang mereka mau! Ini semua sebagai rasa syukur aku karena beberapa hari lagi, Kinan akan mengadakan acara 7 bulanan. Kalian doakan agar calon cucuku dan ibunya sehat selalu!" Kata Sanjaya, senyum bahagianya sangat terlihat sambil memberikan ATM pada miliknya pada Arif.
Arif menerima ATM tersebut, dia juga sangat bahagia bosnya ini memang sangat baik sekali apalagi di saat dirinya sedang bahagia.
"Arif, pergilah! Ajak semuanya, kalau perlu besok kalian semua cutti!" Kata Sanjaya, Aftar dan Kinan saling melempar senyum.
"Terimakasih, kakek kamu adalah kakek terbaik." Batin Kinan dalam hatinya.
"Baiklah pak, saya permisi dulu." Arif berlalu pergi dari ruang makan.
Kini Sanjaya, Aftar dan Kinan menikmati makan malam bersama.
"Kek, acara 7 bulanan Kinan mau di adakan dimana?" Tanya Aftar lagi, karena tadi kakek nya malah sibuk dengan Pak Arif.
"Kinan, maunya dimana nak?" Sanjaya bertanya pada Kinan, tutur katanya begitu lembut.
"Dirumah saja kek!" Jawab Kinan sambil melihat ke arah Aftar.
"Aftar, siapkan semuanya! Kita ada acara 7 bulanan Kinan di rumah, sesuai permintaan Kinan." Sanjaya menatap Aftar dengan tegas dan Aftar hanya mengangguk.
__ADS_1
Setelah ada Kinan, Aftar selalu merasakan jadi no dua. Karena apa-apa Sanjaya selalu mengutamakan Kinan yang sudah menjadi cucu menantu kesayangannya itu.
"Kinan, katakan apa saja yang kamu butuhkan untuk bayimu nanti. Kakek akan membelikan semuanya," kata Sanjaya yang sangat bahagia bahkan dia sangat berantusias.
"Kakek, untuk keperluan bayi. Nanti Aftar yang membelinya, itukan anak Aftar." Jawab Aftar dengan nada lembut.
Sanjaya menggelengang kepalanya. "Tidak bisa seperti itu, biar bagaimanapun dia adalah cicitku!" Tolak Sanjaya, sambil terus menggelengang kepalanya.
Kinan hanya tersenyum, menurut Kinan kakek dan suaminya ini begitu lucu. Padahalkan jika keduanya mau membelikan juga tidak apa-apa biar adil tanpa ada perdebatan.
"Mas Aftar, kakek, bagaimana kalau untuk perlengkapan bayi kita belanja bertiga saja?" Saran Kinan sambil tersenyum.
Sanjaya dan Aftar terdiam mereka sedang sama-sama berpikir. "Baiklah," jawab Aftar dan Sanjaya dengan kompak.
Setelah selesai makan malam semuanya kembali ke kamar.
****
Sanjaya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia terdiam tapi tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Sanjaya mengambil foto yang ada di nakas dekat tempat tidurnya yaitu foto kedua orang tua Aftar yang sudah tidak ada.
"Kalian bahagialah disana! Aku akan menjaga anak kalian dengan baik," tutur Sanjaya yang kembali menaruh bingkai foto itu di atas nakas dekat tempat tidurnya.
Sanjaya mengusap air matanya, lalu dia memejamkan matanya karena hari juga sudah semakin larut.
*****
Di kamar Aftar, Aftar sedang berdiri di dekat jendela matanya terus melihat pemandangan yang ada di luar sana.
"Malam ini begitu terang," lirih Aftar sambil tersenyum.
"Mama, papa, Aftar merindukan kalian." Batin Aftar dalam hatinya.
Kinan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan kini dia sudah memakai baju tidur dia berjalan menuju ke tempat Aftar berdiri.
"Mas, kok belum tidur?" Tanya Kinan, sambil memeluk suaminya dari belakang.
__ADS_1
"Aku belum mengantuk, apa kamu sudah mengantuk?" Aftar memegang tangan Kinan dengan kedua tangannya.
"Belum mas," Kinan melepaskan pelukannya lalu Aftar membalikkan tubuhnya menghadap ke Kinan. "Kenapa?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
Kinan dengan hangat menghambur ke pelukan suaminya. Aftar memeluk Kinan dengan erat.
"Apa, kamu kedinginan?" Tanya Aftar.
"Tidak mas, aku hanya merindukan kedua orang tua. Kata nenek ibuku masih hidup, tapi aku tidak tahu dia dimana mas?" Jawab Kinan terdengar isak tangis, membuat Aftar juga merasakan kesedihan istrinya ini.
"Mas akan cari ibu kamu sayang, pasti suatu saat kamu akan bertemu dengannya. Kamu tahu, kedua orang tua mas sudah meninggal pasti kalau mereka masih ada mereka akan menyayangimu seperti putri kandungnya sendiri," tutur Aftar tangannya mengusap rambut Kinan dengan penuh cinta.
Kinan melepaskan dirinya dari pelukan Aftar, lalu matanya menatap mata Aftar dengan lekat. "Dimana, mas bisa menemukan orang tuaku?" Tanya Kinan penasaran.
"Biar mas yang pikirkan, sekarang sudah malam kamu tidur ya!" Jawab Aftar, dan Kinan menganggukan kepalanya.
Kinan dan Aftar sama-sama berjalan menuju ke ranjang tempat tidur, kini keduanya sama-sama berbaring di atas kasur yang empuk.
Aftar tidur sambil memeluk Kinan, hanya dada bidang suaminya yang membuat Kinan merasa nyaman dan tenang.
"Mas, berjanjilah kamu harus menjadi seorang papa yang baik untuk anak kita!" Pinta Kinan, jari-jarinya memainkan dada bidang Aftar.
"Janji sayang, yang penting kamu harus selalu patuh pada suamimu!" Jawab Aftar, jari-jarinya memainkan bibir Kinan.
Kinan menganggukan kepalanya, karena memang selama ini dia juga sangat penurut dan patuh dengan Aftar.
"Ingat kalau sudah jadi orang tua, mata di jaga jangan suka genit sama klien-klien cantik lagi!" Omel Kinan, dia mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Itukan semua ide Vino sayang, mas mah setia sama kamu." Jawab Aftar, bibirnya dengan nakal mencium pipi Kinan berulang kali.
Dalam hati Kinan, awas saja jika sampai ada wanita lain jangan harap kamu akan bisa menemui anak kamu lagi, bahkan aku juga akan pergi dari hidupmu mas.
"Sudah malam, tidurlah! Besok mas kerja," Aftar mempererat pelukannya agar Kinan tertidur dan tidak bawel lagi.
BERSAMBUNG 😁
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊