
Karena merasa penasaran akhirnya Vino menghampiri pelayan yang tadi di temui oleh Ronal.
Entah apa yang di berikan oleh Ronal, pada pelayan itu?
"Tunggu!!" Cegah Vino tiba-tiba, Vino menghadang pelayan itu tepat di depannya.
Pelayan itu menghentikan langkah kakinya dia terkejut melihat Vino menghalangi dia berjalan. "Maaf pak, ada apa?" Tanya sang pelayan.
Vino menatap sang pelayan itu dengan tatapan tegas, membuat pelayan itu juga merasa agak takut.
"Orang ini kenapa sih? Tiba-tiba menghentikan langkah kakiku?" Batin sang pelayan dalam hatinya.
"Permisi pak, saya mau mengantarkan minuman ini buat tamu," kata sang pelayan dan dia hendak berlalu pergi dari hadapan Vino. "Apa, yang laki-laki tadi perintahkan padamu? Jika kamu tidak mau jujur, maka saya akan melaporkan pada atasamu, karena saya punya buktinya!" Vino memperlihatkan ponselnya, dan ternyata dengan cerdiknya Vino sudah merekam saat Ronal memberikan sesuatu pada sang pelayan itu.
Melihat rekaman yang di tunjukkan oleh Vino, seketika raut wajah sang pelayan berubah menjadi takut. Bahkan tangannya juga sudah gemetaran.
"Kata apa yang di berikan laki-laki ini padamu?" Tanya Vino dengan tegas.
"Saya, tidak tahu pak. Mungkin ini sejenis obat tidur atau perangsang saya sungguh tidak tahu, karena laki-laki itu hanya menyuruh saya menuangkan obat ini ke dalam pesanan minuman kekasihnya," jelas sang pelayan dan Ronal juga mengatakan gadis yang bersama dengan dirinya adalah kekasihnya.
"Dasar br*ngsek!!"
Vino mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, rasanya ingin sekali menghajar Ronal saat ini juga.
"Gadis itu bukan kekasihnya, tapi kekasihku dan dia hanya ingin merebut dia dariku. Saya minta kamu berkerja samalah denganku! Atau Video ini akan saya berikan pada atasanmu!" Ancam Vino, tanpa menunggu lama sang pelayan langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Vino juga langsung menukar air minum pesanan Ronal dan Caca, untung saja mereka memesan minuman yang sama. Setelah di tukar sang pelayan langsung berjalan mengantarkan pesanan Ronal dan Caca.
"Lihat saja, Caca bakal tahu kalau kamu itu laki-laki br*ngsek!"
Vino senyam-senyum penuh kemenangan, lalu dia berjalan kembali ke mejanya. Vino hanya duduk sambil melihat apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Pertunjukan akan di mulai, kita lihat Caca pasti tidak percaya." Batin Vino dalam hatinya.
Kini Caca dan Ronal sudah sama-sama menerima pesanan minuman mereka, setelah menaruh pesanan Caca dan Ronal. Pelayan itu berlalu pergi dari hadapan mereka.
Pelayan itu sebenernya merasa takut, apalagi jika Ronal tahu kalau minumannya sudah di tukar. Tiba-tiba Vino melambaikan tangannya dan sang pelayan itu berjalan menuju ke meja Vino.
__ADS_1
"Ini untukmu, segeralah pindah kerja dari tempat ini! Karena saya yakin, pasti laki-laki itu akan menghajarmu nanti!" Kata Vino, dia memberikan cek yang berisi 50 juta karena sudah menyelamatkan Caca dari kejahatan Ronal.
Melihat isi cek tersebut, pelayan itu merasa deg-deggan tapi untuk kebutuhan hidup selanjutnya, akhirnya pelayan itu menerima cek dari Vino dan dia berlalu pergi dari hadapan Vino.
"Terimakasih pak." Katanya sebelum meninggalkan Vino yang sedang duduk.
"Sama-sama, bukan maksudku membuatmu keluar dari tempat kerja ini. Tapi aku hanya ingin kamu aman dan laki-laki itu tidak terus mengaggumu," kata Vino. yang awalnya Vino tidak mau pelayan itu di pecat dari pekerjaan dia tapi akhirnya harus keluar juga karena takut Ronal akan menganggunya.
Pelayan itu paham maksud Vino, akhirnya dia langsung mengeluarkan dirinya dari tempat kerjanya dan setelah mengurus semuanya pelayan itu pergi dari restoran tempat dirinya berkerja dengan membawa cek 50 juta dari Vino.
Vino kembali fokus kepada Caca dan Ronal, kini keduanya sama-sama menikmati minuman yang mereka pesan.
"Caca, setelah makan kita mau kemana?" Tanya Ronal sengaja bosa-basi.
"Kita nonton atau jalan-jalan," jawab Caca dengan begitu antusias.
Caca meminum minuman pesanannya, Ronal tersenyum licik dan tentunya terlihat senang.
"Minum sampai habis Caca, adik kecilku sebentar lagi aku akan memuaskanmu sabar ya!" Batin Ronal dalam hatinya, rasanya tidak sabar ingin menikmati tubuh mulus Caca.
Ronal juga ikut meminum minumannya bahkan dia meminumnya sampai habis. Setelah beberapa detik telah berlalu, tiba-tiba Ronal menjatuhkan kepalanya di meja membuat Caca terkejut.
Vino yang sedang duduk dia cengengesan, dalam hatinya sungguh bahagia.
"Sukurin, rasakan itu senjata makan tuan!" Vino tertawa dalam hatinya.
Caca semakin panik, lalu Vino segera bergegas dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Caca.
"Bapak sedang apa disini?" Tanya Caca dengan ketus.
"Tentu saja melindungimu dari laki-laki br*ngsek ini," jawab Vino dengan begitu bangganya.
Vino memberikan ponselnya pada Caca, dia menunjukkan kejahatan Ronal yang di rekam oleh dirinya tadi. Sungguh Caca tidak percaya kalau Ronal itu sungguh br*ngsek.
"Antar aku pulang sekarang!" Pinta Caca, dan Vino hanya menurutinya.
Caca dan Vino meninggalkan Ronal yang tertidur di atas meja, Ronal terkena senjata makan tuan. Obat tidur yang tadinya mau di kasih ke Caca akhirnya dirinya sendiri yang tepar.
__ADS_1
Kini Vino sedang mengantar Caca pulang ke rumahnya.
*****
Di kediaman Aftar, setelah pulang dari jalan-jalannya dan tidak sengaja bertemu dengan nenek sihir. Kini Kinan dan Aftar hanya diam di kamar, Kinan hanya berbaring tapi Aftar dengan begitu perhatiannya memijat kaki istrinya.
"Mas, aku kangen berdebat." Kata Kinan tiba-tiba.
"Malam-malam seperti ini, apa yang mau kamu debatkan dengan mas? Katakanlah!" Aftar terus memijat kaki Kinan dengan hati-hati.
Kinan terdiam sejenak, apa yang mau di debatkan? Dulu mudah sekali untuk berdebat tapi sekarang malah jarang sekali berdebat.
"Dulu kita sering berdebat mas," protes Kinan tapi Aftar malah tertawa.
"Ziyan, masih menghubungimu?" Tanya Aftar tiba-tiba.
"Tentu saja tidak, kan no ponsel dia mas blokir. Mungkin kalau tidak di blokir sama mas, pasti dia sering menghubungiku. Mas tahu Ziyan itu sangat suka padaku," jawab Kinan dengan senyum bahagianya.
Seketika wajah Aftar berubah menjadi kesal, berani sekali istrinya mengatakan kalau laki-laki lain menyukai dirinya di hadapannya.
"Jadi kamu berharap kalau laki-laki itu masih terus menghubungimu?" Tanya Aftar dengan tatapan kesal.
"Apa, mas sedang cemburu?" Goda Kinan dengan begitu jail.
"Haruskah, kamu balik bertanya? Jawab dengan benar!" Aftar tidak mau tahu, dia malah semakin menatap Kinan dengan tatapan begitu kesal.
"Apa yang harus aku jawab mas? Mas saja yang terlalu cemburuan, jelas-jelas aku sedang hamil anakmu. Mana mungkin aku memikirkan laki-laki lain?" Kinan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aftar mendengus kesal, lalu dia tiba-tiba mengambil bantal dan selimut. Dia malam ini memilih tidur di sofa karena merasa kesal pada istrinya.
Kinan hanya menghela nafasnya dengan pelan, Kinan yakin besok pagi juga suaminya akan baik-baik saja. Lagian Kinan tahu kalau suaminya itu begitu cemburuan sekali.
Malam ini Aftar tidur di sofa gara-gara perasaan cemburuannya, ceritanya Aftar sedang merajuk pada Kinan.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1
Masih di kampung, harus siap cari sinyal biar bisa update setiap hari 🙏💪
Pokoknya Author sayang kalian semuanya 😘