
"Iya pak, karena istri anda ternyata sedang hamil." Jawab sang Dokter, sambil tersenyum.
Aftar ternganga tidak percaya. "Hamil?!" Aftar masih tidak percaya.
Sang Dokter tersenyum dengan penuh keyakinan, lalu menganggukan kepalanya.
"Sayang, kamu hamil." Aftar terus tersenyum dengan begitu antusias, bahkan dia terus memeluk Kinan dan menciumi wajah cantik Kinan dengan banyak ciuman.
Sang Dokter tertawa kecil, Kinan tampak malu raut wajahnya juga sudah berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Mas Aftar, kamu membuatku malu di hadapan Dokter." Batin Kinan dalam hatinya.
"Akhirnya aku mau jadi papa, terimkasih sayang," Aftar terus memberikan banyak ciuman di wajah cantik Kinan.
"Mas hentikan, ada Dokter malu." Lirih Kinan, Aftar melepaskan Kinan dari pelukannya.
Kini Kinan hanya bisa tersenyum malu pada sang Dokter, tapi Dokter paham pasti kedua pasangan suami-istri sangat bahagia jadi Dokter memaklumi kalau mereka begitu antusias.
"Pak, nanti tolong nanti tebus resep obat ini ya ini untuk vitamin selama kehamilan." Kata sang Dokter, sambil memberikan kertas resep obat pada Aftar.
"Oh iya, kehamilan Nyonya Kinan baru menginjak satu bulan jadi mohon di jaga dengan baik ya pak! Jangan sampai terlalu kecapean soalnya kehamilannya masih terlalu muda," jelas sang Dokter dan Aftar menganggukkan kepalanya.
Aftar menerima resep obat itu sambil tersenyum. "Iya Dok, nanti saya akan tebus resep dari Dokter." Jawab Aftar.
"Nyonya Kinan, selamat atas kehamilannya," kata sang Dokter dia tersenyum pada Kinan.
"Iya Dok terimkasih," jawab Kinan sambil tersenyum.
Setelah selesai pemeriksaan Kinan dan Aftar langsung pulang. Di dalam mobil Aftar tidak henti-hentinya tersenyum, rasanya bahagia sekali akhirnya dia akan menjadi seorang papa dari anak pertamanya.
Kinan hanya terdiam, dia tidak menyangka kalau akhirnya dia hamil anaknya Aftar. Awal menikah Kinan tidak pernah untuk hamil anaknya Aftar, bahkan membayangkannya pun tidak pernah. Tapi ternyata takdir berkata lain sekarang dia sudah hamil dan kehamilan nya sudah menginjak satu bulan.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Tanya Aftar sambil meraih tangan Kinan lalu dengan lembut menggenggam tangan Kinan.
"Mas, aku hamil. Apa mas bahagia?" Tanya Kinan dengan nada ragu-ragu.
__ADS_1
Aftar mendengus kesal, pertanyaan macam apa yang di pertanyaan oleh istrinya ini? Rasanya Aftar marah sekali. Tapi dia tidak berani membentak istrinya ataupun marah pada dirinya.
"Sayang, tentu saja mas bahagia," jawab Aftar dengan penuh keyakinan.
"Apa kamu tidak bahagia mengandung anak mas?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
Kinan menggelengang kepalanya, bagaimana Kinan tidak bahagia? Padahal waktu mereka membuatnya saja Kinan terlihat bahagia dan sangat menikmati permainan Aftar.
"Mas, aku bahagia." Jawab Kinan dengan nada lembut.
Kini keduanya sama-sama tersenyum bahagia, rasanya bersyukur sekali pernikahan mereka akhirnya karunia anak.
Sesampainya di rumah, Aftar langsung menyuruh Kinan untuk istirahat di kamar. Aftar juga melarang Kinan melakukan apa saja. Mau minum, mau makan, Aftar saja selalu siap siaga untuk mengambilkan buat Kinan.
Arga dan Vira.
Malam menujukan pukul 8 malam, Vira sedang sibuk membuat kopi untuk suaminya di dapur.
Arga yang baru saja keluar dari kamarnya dia baru pulang dari kantor dan kini dia baru saja selesai mandi, Arga berjalan menuju ke dapur mencari sosok sang istri tercinta.
Vira tersenyum, kali ini sungguh Arga hanya miliknya seutuhnya. Lihat saja Arga sekarang tidak bisa jauh dari Vira, apalagi saat ini Vira sedang hamil bawaannya Arga ingin terus dekat-dekat dengan istrinya tapi kadang Vira sendiri yang menolak dekat dengan suaminya kadang Vira merasa mual dekat dengan sang suami, kadang pingin di manja kadang juga tidak mau tidur satu ranjang dengan Arga.
Arga sendiri sering merasa pusing karena ulah sang istri, di masa kehamilannya suka sekali membuat Arga naik darah apalagi kalau maunya aneh-aneh dan tidak mau dekat dengan dirinya, rasanya Arga kesal sekali tapi mau bagaimana lagi? Itu semua keinginan sang jabang bayi yang ada di dalam perut sang istri jadi Arga selalu sabar menghadapi istrinya dan keinginan istrinya.
"Aku di dapur mas," teriak Vira dan ternyata suaminya sudah berada di belakangnya dan Kini langsung memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Mas kangen," bisik Arga di telinga Vira.
"Aku buat kopi dulu, aku juga kangen sama mas." Jawab Vira, sambil mengaduk-aduk kopi buatannya.
Arga terus memeluk Vira dan enggan melepaskannya, "Hoek..hoek..." Vira melepaskan dirinya dari dalam pelukan Arga, buru-buru dia pergi ke kamar mandi dan kini Vira muntah-muntah.
Arga menyusul ke kamar mandi, lalu memijat tekuk leher sang istri. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Arga memastikan.
"Mas jangan dekat-dekat, mas pakai farpum apasih? Baunya buat mual sekali." Omel Vira, membuat Arga ternganga bingung.
__ADS_1
"Bukannya biasanya aku juga pakai farpum ini? Bahkan dia juga yang memilihkan farpum ini waktu itu," batin Arga dalam hatinya.
"Sayang, inikan farpum kamu yang pilih. Bukannya waktu itu kamu yang bilang ini baunya wangi sekali," Arga agak menjauhkan tubuhnya karena Vira mendorong tubuhnya.
"Aku tidak suka baunya, besok ganti bau farpum yang lain!" Vira berjalan keluar dari dalam kamar mandi, Arga mengikuti langkah kaki sang istri.
"Mas, ganti bajumu!" Rengkek Vira dengan manja.
Akhirnya dengan cepat Arga pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Setelah beberapa lama akhirnya Arga selesai berganti pakaian dan dia langsung menuju meja makan karena Vira sudah menunggunya untuk makan malam berdua.
Vino
Malam semakin larut, Vino masih terjaga dia terus kepikiran dengan Caca dan laki-laki yang jalan berdua dengan Caca.
Vino semakin kesal saat mengingat laki-laki itu saat membersihkan sudut bibir Caca waktu di restoran.
"Katanya tidak punya kekasih, tapi laki-laki itu siapa?
"Sungguh aku sangat penasaran dengan laki-laki itu, apa aku harus mencari tahu tentang dia?"
"Tapi buat apa juga aku terlalu memikirkan mereka, lagian Caca itukan hanya gadis sapu yang tidak penting."
Vino hanya bisa berdecak kesal, sungguh kenapa wajah cantik Caca terus menghantuinya akhir-akhir ini? Hati dan perasaannya terus berperang melawan perasaan yang ada saat ini.
Karena tidak mau kepikiran dengan Caca, Vino coba membuka laptopnya dia mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi ternyata tetap saja tidak bisa. Bahkan saat ini wajah cantik Caca terus terbayang di otaknya, sungguh Vino di buat tidak waras oleh bayangan Caca yang terus menghantui pikirannya.
"Aish, Caca apa kamu itu hantu? Kenapa kamu tidak mau pergi dari pikiran aku?" Vino berdecak kesal.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, aku besok harus bertemu dengan Caca aku ingin tahu siapa laki-laki itu?" Vino berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Entahlah, apa yang akan terjadi besok pagi?
BERSAMBUNG 🤗
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊