Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Kinan anakku


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu, hari ini Herlin akan meresmikan butik barunya. Herlin juga mengundang Kinan, Aftar, Sanjaya, Vino dan Caca untuk menyaksikan peresmian butik barunya.


Banyak tamu undangan yang lain juga hadir dan tentunya itu dari kalangan atas yang satu propesi dengannya. Pelanggan butik Herlin juga banyak yang datang, karena undangan dari Herlin.


Herlin duduk di sebelah Kinan dan Aftar, Sanjaya, Vino dan Caca juga duduk di sofa tamu yang sama.


"Ken, cucu nenek." Herlin mengambil Kenzo dari pangkuan Kinan.


"Mama, tidak menemui para tamu?" Tanya Kinan, dia terlihat bahagia melihat mamanya menjadi wanita karir yang sukses.


Dalam hati Kinan, takdir tidak ada yang tahu aturan aku sudah bertemu dengan mamaku dari awal menikah, bahkan gaun pengantin yang aku pakai juga di rancang oleh mama aku sendiri.


Kinan ingat sekali waktu menikah dengan Aftar, Herlin begitu ramah dan sangat baik pada dirinya.


"Belum pada datang nak, oh iya Pak Sanjaya, Vino, Caca, Aftar, nikmati hidangan yang ada!" Kata Herlin dengan semuanya yang begitu hangat.


"Iya Tante Herlin," jawab Caca dan Vino secara bersamaan.


"Iya ma, Kinan mau makan apa sayang? Mas ambilin ya?" Aftar tersenyum, sungguh Herlin begitu bahagia memiliki menantu seperti Aftar.


"Kinan, kamu tidak salah nak memilih seorang suami." Batin Herlin dalam hatinya.


"Nanti saja mas, Kinan masih kenyang. Oh iya mas, jika Kinan menjadi wanita karir seperti mama, apa mas akan memberikan izin mas?" Tanya Kinan, tapi Aftar langsung memasang wajah masam.


"Tidak sayang, mas hanya mau kamu jadi istri mas dan kerjaanmu melayani mas, sama ngurusin anak-anak kita nanti," jawab Aftar membuat Herlin tersenyum simpul.


Kinan hanya diam, tangan Herlin meraih tangan Kinan lalu menggenggamnya dengan erat.


"Sayang, suami sudah mencukupi semuanya. Mama juga melarang kamu menjadi karir," tutur Herlin. Dia tidak ingin menjadi seperti dirinya, karena memilih mengejar karirnya dan Herlin rela meninggalkan Kinan begitu saja yang waktu itu masih bayi.


"Jika dulu papamu tidak meninggal dan mama tidak kekurangan uang untuk menjalani hidup, mama juga memilih menjadi ibu rumah tangga nak," batin Herlin dalam hatinya.


Kinan tersenyum pada mamanya, lalu dia memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang.


"Itu dengerin, mama saja melarangnya." Kata Aftar, dengan senyum penuh kemenangan.


"Kinan, kakek tidak tahu harus berpihak pada siapa? Tapi kakek juga tidak mau kalau kamu menjadi wanita karir," tutur Sanjaya dan Kinan mengangguk pelan sambil tersenyum.


Biarpun dulu hidup Kinan begitu sengsara, tapi saat ini hidup Kinan di kelilingi dengan banyak kebahagiaan yang nyata.


"Ayo nak, acara sudah mau mulai. Kamu yang gunting pita ya. Ini adalah butik yang mama bangun khusus untuk kamu nak, mama kasih nama butik ini "Butik Kinanti Alisya" kamu adalah anak kesayangan mama," Herlin tersenyum pada Kinan.


Kini mereka semua sudah bersiap untuk menggunting pita, Herlin memberikan Kenzo pada Vino dan Caca mengendong Melly.


Sanjaya sudah berdiri di samping Aftar dan kini Kinan dan Aftar sudah berdiri di tengah-tengah Herlin dan Sanjaya.

__ADS_1


"Buat semuanya, mulai hari ini "Butik Kinanti Alisya" resmi saya resmikan," kata Herlin dan Kinan menggunting pitanya.


Kini Herlin dan Kinan sama-sama tersenyum. "Selamat ya mama," Kinan meleluk Herlin dan Herlin juga membalas pelukan dari Kinan.


Kini para tamu undangan yang datang berbondong-bondong memberikan selamat pada Herlin, mereka juga langsung masuk untuk melihat butik baru milik Herlin yang tidak lain adalah perancang busana terkenal.


Kini Herlin mengajak Aftar dan Kinan untuk menemui para tamu, dia ingin memperkenal kan anak dan menantunya pada semua tamu yang hadir.


"Selamat ya...."


"Terimakasih Nyonya Lisa."


"Mereka siapa Nyonya Herlin?"


"Ini Kinan anak saya dan ini Aftar suaminya anak saya."


"Nyonya Herlin, mantu Nyonya sangat tampan."


"Anaknya juga sangat cantik, kita lihat-lihat dulu ke dalam," pamit kedua teman Herlin itu.


Herlin terus tersenyum pada setiap tamu yang datang, keramahan terpancar jelas raut wajahnya.


"Nyonya Hasna, lama tidak bertemu."


"Biasalah saya sibuk, oh iya siapa yang bersama Nyonya Herlin itu?"


Aftar dan Kinan menjabat tangan mereka pada Hasna.


"Cantik dan tampan, saya lihat-lihat dulu ya." Hasna berlalu pergi meninggalkan Herlin, Aftar dan Kinan.


Herlin dengan bahagia memperkenalkan Kinan dan Aftar pada rekan-rekan bisnisnya termasuk teman-teman dekatnya.


Herlin terus menyapa para tamu undangan dengan Ramah, terlihat Herlin adalah wanita yang sangat berwibawa dan bijaksana.


"Nyonya Herlin....." panggil wanita yang juga tamu undangan Herlin.


Herlin menoleh, lalu dia tersenyum pada wanita itu. "Hay, Nyonya Rosa." Sapa Herlin dengan sopan.


Mata Kinan ternganga tidak percaya melihat siapa yang ada di hadapan nya saat ini.


"Bukankah itu Tante Rosa, mamanya Arga?" Batin Kinan dalam hatinya.


"Selamat ya, akhirnya buka butik baru lagi." Rosa mengucapkan selamat pada Herlin. "Terimakasih Nyonya Rosa," jawab Herlin.


Mata Rosa menatap Kinan dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Sedang apa gadis kampungan ini di sini? Mungkin karena ada Aftar saja, coba kalau tidak menikah dengan Aftar. Mana mungkin gadis kampungan ini ada di sini," batin Rosa dalam hatinya.


"Keluaran terbaru banyak pasti." Kata Rosa antusias.


Rosa adalah pelanggan butik Herlin selama ini, makanya mereka begitu Rosa begitu akrab dengan Herlin.


"Tentu saja Nyonya, nanti bisa lihat-lihat semuanya baru-baru Nyonya," jawab Herlin yang selalu bersikap sopan pada siapa saja.


"Mas, itu mamanya Arga." Bisik Kinan, dia masih tenang dan terus menggenggam tangan Aftar.


"Iya mas tahu sayang, tenanglah kamu bersama mas tidak akan berani yang macam-macam denganmu!" Aftar balik berbisik, dia terus meyakinkan Kinan.


Kinan ingat sekali waktu Rosa menyuruh meninggalkan Arga, hanya Kinan orang miskin dan tentunya sangat berbeda dengan Arga dulu, mungkin mereka bagaikan langit dan bumi.


Waktu itu Kinan hanya bisa menangis, di saat sedang sayang-sayangnya dengan Arga, sedang cinta-cintaannya dengan Arga tapi harus berpisah karena harta.


"Nyonya Herlin terus berkarir, apa tidak berpikir untuk menikah lagi?" Tanya Rosa, dengan nada bercanda.


Rosa sungguh mengabaikan Kinan dan Aftar, bahkan dia juga tidak menyapa mereka sama sekali. Kinan juga hanya diam, karena mama nya sedang mengobrol dengan Rosa, jadi dia harus bersikap sopan dan tenang.


Herlin tersenyum kecil, pernah berpikir untuk menikah lagi. Tapi setelah bertemu dengan Kinan, Herlin hanya ingin menjadi mama yang baik untuk Kinan untuk menebus kesalahan dia dulu.


"Tidak Nyonya, sudah tua soalnya." Jawab Herlin tertawa kecil.


"Masih cantik loh Nyonya," puji Rosa sambil tersenyum.


Kinan melihat ke arah mamanya, lalu Herlin melihat Kinan juga.


"Mama, Kinan lihat Kenzo dulu ya ma, takut Kenzo rewel," pamit Kinan dengan sopan.


"Baiklah nak, kalau lapar makan saja ya nak. Suamimu juga ambilin makan!" Jawab Herlin, senyumnya begitu bahagia melihat Kinan.


"Dia sekarang adalah semangat hidupku," batin Herlin dalam hatinya.


"Iya mama, mama lanjutkan saja menemui para tamunya." Kinan dan Aftar berlalu pergi meninggalkan Herlin dan Rosa.


Rosa merasa bingung sekaligus terkejut, kali ini banyak pertanyaan dalam hatinya.


"Kinan memanggil Nyonya Herlin, dengan sebutan mama?" Batin Rosa dalam hatinya.


"Maaf Nyonya Herlin, gadis tadi siapa?" Tanya Rosa yang merasa penasaran.


"Dia adalah anakku, Nyonya Rosa." Jawab Herlin sambil tersenyum.


"Anak.....!?

__ADS_1


BERSAMBUNG 🤣


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2