Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Menunggu suami pulang


__ADS_3

Setelah Arga pergi, Vira mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan lalu dia menggeser layar ponselnya.


"Panggilan masuk dari Farel?!"


Vira menghela nafasnya dengan pelan, dia tampak kesal tapi menahannya. "Untuk apa Farel menelponku lagi?" Gerutu Vira, dia menelpon balik Farel.


Farel yang sedang sibuk dengan laptopnya mendengar ponselnya berbunyi pasangan matanya langsung beralih ke ponselnya.


"Vira, menelponku." Katanya dengan raut wajah bahagia. Buru-buru Farel mengangkat telpon dari Vira lalu menempelkan ponselnya tepat di telinganya.


"Hallo Vir." Sapa Farel dengan nada lembut.


"Rel, berhentilah menelponku..." Kata-kata Vira terpotong.


"Vira, Rasyah sudah pergi untuk selamanya sampai kapan kamu akan terus menutup hati kamu buat laki-laki lain? Vira aku suka dengan kamu sudah lama, tidak bisakah kamu memberikan kesempatan kepadaku?" Kata Farel panjang lebar.


"Farel, aku sudah menikah dan tadi yang mengangkat telpon dari kamu itu suamiku," Jelas Vira yang langsung mematikan saluran teleponnya.


Farel tidak tahu kalau ternyata Vira sudah menikah, sungguh seketika harapannya untuk mendapatkan hati Vira hancurlah sudah.


"Vira, kenapa kamu tidak memberikan kesempatan untukku? Kenapa kamu malah menikah dengan laki-laki lain?" Farel sangat sedih matanya juga di penuhi dengan amarah, karena perasaannya selama ini terus di abaikan oleh Vira.


Sungguh tidak habis pikir ternyata Farel yang tidak lain adalah sahabat dari Rasyah itu masih menyukai Vira, dulu setelah beberapa bulan kepergian Rasyah. Farel pernah mengungkapkan perasaannya pada Vira dan saat itu juga Vira menolaknya karena memang dia tidak suka dengan Farel. Vira juga tidak mau membuat Rasyah kecewa di surga sana, jika Vira sampai menjalin hubungan dengan sahabatnya Rasyah. Maka menurut Vira itu sama saja dia menyakiti hati Rasyah.


Farel merasa geram tidak sekali dirinya di tolak oleh Vira, tapi dia masih terus berusaha mendapatkan hati Vira.


"Laki-laki yang seperti apa? Yang bisa mengantikan Rasyah di hatimu, Vira." Farel begitu marah, ponselnya yang ada di genggaman tangannya juga di banting oleh dirinya.


Prankkkkk..... anggap saja suara pecahan ponsel.


"Vira, aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang aku mencintaimu!" Teriak Farel sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


____


Vira kembali duduk di kursi meja makan, kali ini perasaannya begitu kacau balau.


"Arga bilang, dia mau membasmi kucing garong apa jangan-jangan kucing garong yang dia maksud adalah Farel?" Tiba-tiba Vira tertawa mengingat kejadian tadi, "Apa Arga cemburu?" Senyum Vira semakin lebar.


"Baguslah kalau dia cemburu, lihat saja sifat dinginnya dan bicaranya yang ketus. Aku yakin suatu saat kamu akan bertekuk lutut padaku." Kata Vira dengan begitu yakin.


Dengan semangat Vira membereskan meja makan, Vira yang tadinya merasa kesal kali ini dia malah senyam-senyum sendiri seperti orang tidak waras.


"Mungkin aku tidak akan jatuh cinta padamu lebih dulu, tapi aku yakin kamulah yang akan menyerah dan menyatakan cinta padaku lebih dulu." Vira tertawa dalam hatinya.


Di kantor Arga.


Arga kerja dengan pikiran tidak tenang karena nama Farel terus terngiang-ngiang di otaknya.


"Siapa Farel itu? Dia menyapa istriku dengan nada suara menjijikkan, sungguh aku tidak rela jika Vira punya kaki-kaki lain. Enak saja, Vira hanya istriku." Batin Arga dalam hatinya.


Arga kembali melanjutkan pekerjaan, tapi lagi-lagi dirinya tidak bisa fokus kerja.


"Aku sedang kerja, jangan-jangan mereka asik telpon-telponan." Pikiran Arga mulai kacau.

__ADS_1


"Apa, aku pulang saja?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


"Jangan pulang, nanti Vira malah besar kepala lagi." Arga menggelengang-gelengkan kepalanya.


"Arga, berhentilah memikirkan Vira, yang kamu cintai adalah Kinan!"


"Arga, ingat kamu menikahi Vira itu karena di jodohkan."


"Arga, hanya ada Kinan di hatimu bukan Vira."


Hati Arga mulai berperang melawan perasaannya yang ada saat ini. Arga merasa frustasi dan terus menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Aku, bisa gila gara-gara semua ini!" Arga merasa frustasi.


______


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Aftar yang masih sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba ponselnya berdering dan itu telpon dari Karin.


"Karin menelponku?" Katanya dengan malas, Aftar menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya lalu menempelkan ponselnya tepat di telinganya.


"Hallo, ada apa?" Tanya Aftar cuek.


"Sayang, aku sudah sampai di bandara. Jemput aku ya! Aku tunggu," Jawab Karin.


"Aku masih sibuk dengan pekerjaanku, aku suruh supir saja untuk menjemputmu." Kata Aftar.


"Tidak aku tidak mau, aku mau kamu yang menjemputku!" Teriak Karin, membuat Aftar langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Aftar membereskan meja kerjanya, lalu dia bergegas menjemput Karin ke Bandara.


Aftar melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, ntahlah saat ini dirinya bahagia atau tidak hanya Aftar yang tahu.


Kinan


Kinan sudah mandi dan kini dia sedang mengobrol dengan Sanjaya sambil menunggu Aftar pulang dari kantornya.


Kinan melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lewat, tapi Aftar belum pulang dari kantornya.


"Tumben, Mas Aftar belum pulang?" Tanyanya pada diri sendiri dengan suara lirih.


"Kamu, bicara apa nak?" Tanya Sanjaya yang tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Kinan baru saja.


"Tidak kek, kek Kinan ke kamar dulu ya." Pamit Kinan dengan sopan.


"Iya nak, kakek malam ini ada acara bersama rekan-rekan bisnis kakek. Apa kamu ikut dengan kakek?" Tanya Sanjaya pada Kinan.


"Kinan di rumah saja kek, kakek pergi dengan siapa?" Jawab Kinan dengan nada lembut.


"Dengan Pak Arif, nanti supir yang akan mengantar kakek." Jawab Sanjaya dengan senyum tulus di bibirnya.


Kinan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, Sanjaya langsung berangkat agar tidak terlambat. Akhirnya Kinan sebelum masuk ke dalam kamar dia mengantar Sanjaya lebih dulu sampai depan rumahnya. Setelah Sanjaya berangkat, Kinan kembali masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.


Kinan hanya diam sambil menonton flim drama kesukaannya sambil menunggu suaminya pulang dari kantor.

__ADS_1


_____


Malam menunjukkan pukul 7 malam, Aftar belum juga. Kinan sudah duduk di kursi meja makan untuk makan malam bersama Aftar, tapi Aftar tidak kunjung pulang juga.


"Mungkin, dia sedang lembur." Kinan beranjak dari kursi meja makan, karena malas hanya makan sendirian saja.


"Nona, tidak makan?" Tanya Ijah, yang melihat Kinan meninggalkan makannya begitu saja.


"Nanti saja bi, aku mau ke kamar dulu." Jawab Kinan dan berlalu meninggalkan Ijah.


Arga dan Vira.


Arga sudah pulang kerja, kini dia baru selesai mandi dan sudah rapi dengan setelan kemeja warna biru dongker yang di padukan dengan celana warna hitam.


Vira juga sudah menunggu Arga di meja makan untuk makan malam bersama.


"Kamu masak apa?" Tanya Arga tiba-tiba, sambil menarik kursi meja makan lalu duduk.


"Hanya membuat nasi goreng saja," jawab Vira dengan nada lembut.


"Apa, kamu mau makan di luar? Sekalian kita belanja ke Supermarket?" Tanya Arga pada Vira.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan." Jawab Vira, dia menyembunyikan senyum di sudut bibirnya.


"Ayo, kita berangkat!" Ajak Arga, dia mengulurkan tangannya lalu Vira meraih tangan Arga dengan hati-hati.


Vira merasakan kenyamanan merasakan genggaman tangan Arga, ini pertama kalinya Arga benar-benar bersikap baik kepada dirinya.


Mereka langsung menuju ke Supermarket dengan mobil. Malam ini mereka berlanja bersama dan makan berdua di luar.


Aftar.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Aftar sampai di Bandara.


Karin tersenyum bahagia melihat Aftar datang menjemput dirinya.


Karin berlari menuju ke tempat Aftar sedang berdiri menunggunya. "Sayang, aku sangat merindukanmu!" Teriak Karin kini dirinya sudah memeluk Aftar dengan erat.


Aftar melepaskan Karin dari pelukannya dengan agak kasar. "Banyak orang yang melihat kita, ayo cepat aku antar kamu pulang!" Kata Aftar dengan nada datar.


Karin menganggukkan kepalanya, dia merasa ada yang aneh pada Aftar. Dulu setiap kali Aftar bertemu dengan dirinya pasti Aftar akan sangat bahagia tapi sekarang Aftar begitu dingin pada dirinya.


"Kamu, tidak mau menciumku?" Tanya Karin di sela-sela perjalanannya menuju ke mobil.


"Bukankah dari dulu, kita memang tidak pernah berciuman." Jawab Aftar lagi-lagi dengan begitu dingin.


Sesampainya di mobil, tangan Karin langsung menahan tangan Aftar dengan kuat. "Ayo kita berciuman, jadikan ciuman ini ciuman pertama kita!" Karin mendekatkan wajahnya, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, tatapan mata Karin begitu lekat, Karin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir mencium bibir Aftar.


"Karin.....!"


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2