Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Makan hati


__ADS_3

Keesokan harinya, bantal guling yang menjadi batas di antara mereka ntah sudah kemana perginya?


Dan Kinan sudah berada di pelukan Aftar dengan begitu nyaman.


Kinan hendak bergulat tapi tubuhnya terasa berasa berat karena tangan Aftar memeluk pinggangnya. "Berat sekali," Perlahan-lahan Kinan membuka matanya dan tiba-tiba berteriak membuat Aftar kaget dan langsung membuka matanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Aftar dengan raut wajah panik.


"Mas, kamu sudah menodaiku." Tiba-tiba Kinan menangis.


Sungguh Aftar terlihat bingung, maksudnya menodai bagaimana? Aftar membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu melihat ke bawa


dan dia masih rapat memakai celananya.


"Kinan, maksudnya menodai apa sih? Milikku saja masih tertutup rapat di dalam sangkarnya sana." Tanya Aftar dalam hatinya.


"Kinan, berhentilah menangis! Tidak ada yang menodaimu." Aftar memegang kedua bahu Kinan lalu membawa Kinan masuk ke dalam pelukannya, seperti biasanya Aftar selalu memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Kamu tidur sambil memelukku, lalu kemana bantal guling yang buat batas untuk kita?" Tanya Kinan disela-sela pelukannya, lalu dia mendorong tubuh kekar Aftar.


Aftar berdecak kesal, apa Kinan sepolos ini? Bagaimana bisa dia mengatai Aftar kalau Aftar sudah menodai dirinya. Jelas-jelas mereka adalah pasangan suami-istri yang sudah sah.


"Tidak ada yang menodaimu, kalau urusan meluk memeluk kamu juga nyaman kan di peluk sama aku saat tidur." Aftar menjulurkan lidahnya dia meledek Kinan.


Kinan tampak kesal dan Aftar beranjak dari tempat tidurnya meninggalkan Kinan begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.


"Mana ada suami yang memeluk istrinya itu termasuk menodai." Gerutu Aftar sambil membuka pintu kamar mandi.


Setelah Aftar masuk ke dalam kamar mandi, Kinan beranjak dari tempat duduknya dia melihat tubuhnya yang masih tertutup selimut dan ternyata masih utuh bajunya juga tidak ada yang terlepas dari tubuhnya.


Kinan membereskan tempat tidurnya dan tidak sengaja mendengar ponselnya berbunyi Kina duduk di tepi ranjang lalu mengambil ponselnya yang dia taruh di atas nakas dekat tempat tidurnya.


"Ziyan...." Cetusnya.


*1 pesan dari Ziyan.


"Kinan, kamu jadi datang ke rumah?"


Kinan membalas pesan Ziyan.


"Jadi, nanti aku kabari." Dengan emoticon senyum.

__ADS_1


Kinan kembali menaruh ponselnya sambil senyam-senyum, Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tampak curiga.


"Apa yang membuat terus tersenyum?" Tanya Aftar tiba-tiba dan Kinan berhenti tersenyum.


"Bukan apa-apa." Jawab Kinan dengan nada lembut.


Setelah selesai membereskan tempat tidur Kinan pergi menuju ke kamar mandi dan Aftar berganti pakaian untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Tringg... 1 pesan masuk.


"Siapa yang mengirim pesan pagi-pagi seperti ini pada istriku?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri, setelah memakai kemeja dan celana Aftar berjalan menuju ke tempat tidur, dia duduk di tepi ranjang lalu mengambil ponsel Kinan yang ada di atas nakas dekat tempat tidur.


Aftar sangat penasaran, siapa yang berani mengirim pesan pagi-pagi sekali pada sang istri.


"Aku harus membacanya, ini pesan dari siapa?" Batin Aftar dalam hatinya.


"Kinan, nanti kita bertemu di cafe xx saja ya sekalian aku mau mengajakmu makan siang berdua." Dengan emoticon senyum dan hati.


"Apa-apaan laki-laki ini? Dasar br*ngsek berani sekali dia mengajak istriku makan siang berdua." Aftar kembali menaruh ponselnya Kinan di atas nakas dengan kesal.


Aftar melanjutkan berganti pakaian, kini dirinya sedang memakai jas. Setelah selesai Aftar kembali duduk di tepi ranjang sambil memakai sepatunya.


Setelah beberapa lama, Kinan keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk kimono yang menempel di tubuh mungilnya.


"Sudahlah, aku sudah kenyang!" Jawab Aftar dengan nada kesal.


"Kamu kenyang makan apa, mas?" Tanya Kinan pada Aftar.


"Makan hati, aku berangkat kerja dulu!" Aftar berlalu pergi dari dalam kamarnya tanpa menunggu Kinan selesai berganti baju.


Aftar berjalan menuju keluar rumahnya dengan raut wajah tampak kesal, Sanjaya yang sedang duduk di kursi meja makan melihat cucunya yang pagi-pagi sudah memasang wajah seperti itu.


"Aftar, kamu tidak sarapan dulu?" Tanya Sanjaya pada Aftar.


"Tidak kek, aku sudah kenyang. Aku berangkat ke kantor dulu ya kek," Aftar menyalami tangan kakeknya lalu mencium tangannya.


Setelah berpamitan dengan sang kakek, Aftar langsung keluar dari dalam rumahnya dan dia langsung berangkat ke kantor.


Kinan yang baru saja selesai ganti baju, dia keluar dari ruangan ganti ternyata suaminya sudah tidak ada di dalam kamarnya.


"Mas Aftar itu kenapa lagi?" Kinan berbicara sendiri.

__ADS_1


"Makan hati? Bukankah pagi ini tidak ada yang memasak tumis hati," Kinan geleng-geleng kepala.


"Dari kemarin Mas Aftar sangat aneh, ntahlah dia itu kenapa?" Kinan berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Kinan menuju ke ruang makan, ternyata kakeknya sudah menunggu untuk sarapan bersama.


"Duduklah nak, sarapan dulu!" Pinta Sanjaya dengan nada lembut.


Kinan duduk dan mereka menikmati sarapan pagi hanya berdua, karena pagi ini mendadak suasana hati Aftar tidak jelas.


Kinan meyuapkan makanannya suap demi suap ke mulutnya.


"Nak, suamimu kenapa? Dia tadi terlihat kesal," Tanya Sanjaya tiba-tiba.


"Tidak apa-apa kek, mungkin Mas Aftar sedang datang bulan kali kek dari kemarin memang suasananya hatinya kurang baik kek." Jawab Kinan dengan nada lembut.


Sanjaya paham memang dari kemarin Aftar seperti orang sedang cemburu, tapi apa yang di cemburuin oleh cucunya itu Sanjaya juga tidak tahu.


Setelah selesai makan, Kinan kembali ke dalam kamar sedangkan Sanjaya hari ini pergi karena ada urusan yang harus di urus.


Di kantor Aftar.


Aftar sangat sibuk dengan pekerjaannya, di ruangan Aftar juga ada Vino yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Vin, apakah pantas jika wanita yang sudah bersuami menerima telpon dari laki-laki lain atau membalas pesan dari laki-laki lain?" Tanya Aftar tiba-tiba, Aftar hari ini tidak fokus kerja karena pikirannya hanya ada Kinan.


"Tergantung pak, jika mereka membalas pesan dari teman mereka yang apa salahnya yang penting kita percaya saja pada pasangan kita pak." Jawab Vino sambil sibuk dengan laptopnya.


Aftar terdiam dalam hatinya, Kinan tidak boleh membalas pesan dari laki-laki lain, dia juga tidak boleh menerima telpon dari laki-laki lain.


Setelah jam demi jam berlalu Aftar dan Vino juga sudah selesai dengan pekerjaan mereka, kini Aftar dan Vino akan pergi makan siang bersama.


"Vin, temanin aku makan diluar!" Ajak Aftar dan mereka langsung keluar dari dalam kantor untuk makan siang.


"Pak, kenapa tidak di kantin kantor saja makan siangnya!" Tanya Vino.


"Ada yang harus aku pastikan." Jawab Aftar dan kini mereka sudah pergi dari kantor untuk menuju cafe xx.


Sesampainya di cafe xx


BERSAMBUNG 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2