Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Perjuangan dapat maaf


__ADS_3

Aftar berangkat ke kantor dengan perasaan tidak senang, hatinya terus memikirkan bagaimana caranya agar Kinan mau memaafkan dirinya?


Sesampainya di kantor ternyata Vino sudah berada di dalam ruangannya, wajah Vino juga terlihat tidak bahagia bahkan tatapan mata Vino juga kosong. Vino hanya diam, Aftar masuk ke dalam ruangannya saja Vino tidak mendengar suara langkah kaki Aftar ataupun suara pintu terbuka.


Aftar terdiam sejenak di memperhatikan Vino yang hanya diam seperti patung.


"Vino kenapa? Tumben pagi-pagi sudah berada di ruanganku. Tunggu, apa dia juga di abaikan oleh kekasihnya?" Batin Aftar dalam hatinya.


"Ehem..ehem..." Aftar berdehem, tapi Vino masih terdiam dalam lamunannya.


"Apa dia tidak mendengarnya?" Tanya Aftar dalam hatinya.


Aftar melangkahkan kakinya menuju ke sofa, lalu dia duduk di sebelah Vino. "Vino!" Aftar menepuk pundak Vino dengan kasar.


Vino terkejut dan buru-buru menyadarkan dirinya dari lamunannya. "Eh, Pak Aftar datang dari kapan pak?" Tanya Vino gugup.


"Baru saja, kamu kenapa?" Tanya Aftar.


"Caca mengabaikanku gara-gara masalah kemarin pak. Sungguh, rasanya tidak enak sekali pak," keluh Vino dengan nada tidak bersemangat.


Aftar sudah menduga, jangan kan Vino yang masih pacaran dirinya yang sudah menikah saja di abaikan oleh istrinya gara-gara idenya Vino kemarin.


"Kita nikmati saja! Ini semua kan ide gila kamu, sekarang Kinan saja mengabaikanku." Kata Aftar, dia juga merasakan di abaikan itu tidak enak sama sekali.


"Sudahlah, ada baiknya kita jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jangan membuat ide gila seperti ini lagi, sekarang kita yang kena batunya!" Aftar melihat Vino dengan tatapan begitu serius dan Vino menganggukan kepalanya dengan pelan.


"Iya pak, saya juga sangat menyesal sudah membuat ide gila seperti kemarin," kata Vino raut wajahnya tampak bersalah.


"Sudahlah, yang penting sekarang cari cara untuk membujuk para wanita kita. Sungguh aku sudah tidak tahan di abaikan terus oleh istriku, kamu enak yang belum nikah tidak butuh asupan gizi tiap malam." Aftar mengoceh dia kesal pada Vino, gara-gara Vino. Aftar saja tidak boleh tidur memeluk istrinya.


Vino terdiam kalau sudah menyinggung masalah pernikahan. Vino bisa apa? Dia memang belum menikah jadi tidak tahu seperti apa? Ketika seorang suami di abaikan oleh istrinya.


"Dasar Pak Aftar, apa dia terlalu pencandu? Baru semalam di abaikan sudah tidak sabaran begitu. Aku saja kangen sama Caca dia terus mengabaikanku dan pesanku, bahkan telpon dariku saja tidak di angkat." Batin Vino dalam hatinya.


"Ikut denganku sekarang pak! Kita pergi ke sorum mobil, kita belikan satu mobil untuk Nona Kinan agar dia tidak ngambek lagi," ajak Vino dan Aftar langsung berdecak kesal.

__ADS_1


"Apa kamu ini gila? Tidak ada beli mobil baru buat istriku. Karena aku siap menjadi supir dia kemana saja, lagian dia juga tidak bisa naik mobil," tolak Aftar dan tidak mau di bantah.


Vino menghela nafasnya, dia tahu tidak mungkin bosnya yang begitu cemburuan ini akan mengizinkan istrinya naik mobil sendirian. Apalagi paras Kinan yang begitu cantik dan sangat kinyis-kinyis jadi setiap Kinan keluar rumah banyak laki-laki yang diam-diam memperhatikannya.


"Lalu bagaimana pak, biar kedua wanita itu tidak marah lagi?" Tanya Vino, raut wajahnya terlihat begitu frustasi.


"Kita ke toko perhiasan sekarang, aku lebih baik membelikan perhiasan buat Kinan dari pada beli mobil." Aftar beranjak dari tempat duduknya dan Vino juga melakukan hal yang sama.


Kini mereka bersama-sama pergi ke toko perhiasan demi mendapatkan maaf dari kedua wanita yang sudah mereka buat marah karena ulah gila mereka sendiri.


Jam menunjukkan pukul 12 siang, Kinan sedang duduk sendirian di sofa. Lalu Sanjaya yang baru saja keluar dari dalam kamarnya menghampiri Kinan.


"Kamu, sudah makan siang nak?" Tanya Sanjaya, dia duduk di sofa yang tidak jauh dari Kinan.


"Kakek, Kinan belum lapar. Kakek mau kemana, sudah rapi sekali?" jawab Kinan, matanya terus menatap Sanjaya yang sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya.


"Kakek ada acara nak, kamu mau ikut bersama kakek?" Tanya Sanjaya dengan nada lembut.


"Tidak kek, Kinan lagi lemas sekali. Kakek hati-hati ya perginya!" Jawab Kinan dengan nada lembut.


Kinan mengambil ponselnya yang di taruh di atas nakas dekat tempat tidurnya. Lalu dia menggeser layar ponselnya ternyata ada beberapa pesan masuk dari suaminya.


"Sayang, kamu sudah makan?"


"Sayang, jangan terus ngambek! Aku minta maaf."


"Istriku aku hanya mencintaimu, kemarin itu ide gila Vino. Dia yang membuat ide gila ini agar kamu dan Caca cemburu pada kita."


"Sungguh, aku tidak ada maksud untuk macam-macam di belakangmu."


"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Kinan hanya membaca pesan dari suaminya, dia tidak membalas sama sekali. Apalagi saat ini dirinya masih sangat sekali, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan Kinan agar merasa cemburu padanya.


"Lagian mas, kamu yang mulai. Ya sudah nikmati saja hukumanmu, emangnya enak aku cuekin."

__ADS_1


"Aku mau lihat, bagaimana cara dia meminta maaf padaku?"


Kinan menaruh kembali ponselnya di atas nakas meja dekat tempat tidurnya. Dia juga enggan membalas pesan dari sang suami.


****


Di toko perhiasan Aftar baru saja selesai membeli sebuah kalung cantik untuk istrinya, Aftar mengambil ponselnya dari saku celananya lalu dia mengecek apakah Kinan membalas pesan dari dirinya?


"Kinan, tidak membalas pesan dariku. Sungguh ini semua gara-gara kamu Vin." Aftar berdecak kesal, Vino hanya tersenyum karena merasa bersalah.


"Maaf pak, Caca juga tidak mau membalas pesan dariku pak." Vino memasang wajah sedih, rasanya tidak enak sekali di abaikan oleh Caca.


Kini keduanya tampak frustasi lalu kembali menaruh ponselnya ke dalam saku celana masing-masing.


"Kamu beli apa buat Caca?" Tanya Aftar.


"Aku juga membeli kalung pak, karena ulahku sendiri akhirnya aku harus menebusnya dengan kocek yang lumayan besar, untung aku mencintainya jadi aku rela memberikan apapun padanya," jawab Vino sambil terus memandangi sebuah kalung yang begitu cantik yang saat ini ada tangannya.


Aftar mengangguk kepalanya, Vino tersenyum penuh semangat.


"Mudah-mudahan Caca mau memaafkanku," batin Vino dalam hatinya.


Vino kembali melangkahkan kakinya dalam hatinya, tidak akan dia mengulangi kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya.


"Mari pak, kita sama-sama meminta maaf pada pasangan kita masih-masing!" Ajak Vino dengan begitu semangat.


"Baiklah, aku pulang dulu! Kamu pulanglah naik taksi!" Jawab Aftar dan dia langsung berlalu pergi dari hadapan Vino.


Setelah Aftar berlalu pergi, Vino menghela nafasnya lalu berjalan ke depan untuk naik taksi.


Malam ini mereka akan berusaha meminta maaf pada pasangan mereka masing-masing.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2