
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Kinan pulang dari rumah sakit. Herlin, Sanjaya, Caca dan Vino menyambut kepulangan Kinan dan Baby Kenzo dengan begitu bahagia.
Senyum Kinan terlihat sumringah, apalagi melihat sang ibu yang ikut menyambut dia dan anaknya pulang dari rumah sakit.
"Beliau adalah ibu yang selama ini aku cari, mungkin aku kecewa mendengar alasan ibuku, kenapa dia meninggalkan ku? Tapi ini hanya sebuah masa lalu. Mudah-mudahan di masa depan kita semua akan bahagia dan selalu bersama," harapan Kinan dalam hatinya.
Aftar memapah Kinan berjalan masuk ke ruang keluarga, Kinan yang mengendong Kenzo terlihat begitu bahagia.
"Mas, Kenzo adalah anugrah yang besar yang di berikan oleh sang maha kuasa pada kita," kata Kinan. Dia sangat bersyukur Kenzo lahir ke dunia ini dengan selamat.
"Iya sayang, aku mencintaimu!" Aftar mencium kening Kinan dengan begitu hangat.
Sanjaya dan Herlin begitu antusias, mereka sama-sama ingin menggendong Kenzo.
"Cicitku....." kata Sanjaya antusias.
"Cucu nenek....." kata Herlin yang tidak kalah antusias. "Kin, ibu boleh gendong tidak?" Tanya Herlin, dia masih terlihat ragu-ragu takut Kinan belum sepenuhnya memberikan maaf.
"Boleh bu, ini." Kinan memberikan Kenzo pada Herlin.
"Nak, kakek juga mau mengajak cicit kakek." Protes Sanjaya, membuat yang lain terkekeh.
"Nanti ya kek gantian," kata Kinan dengan nada lembut. Sanjaya duduk di sebelah Herlin dan akhirnya mereka asik dengan bayi yang masih merah itu.
Caca dan Vino saling menatap satu sama lain, kini mata keduanya seolah-olah memberikan isyarat, kapan kita bisa seperti Kinan dan Aftar?
"Sudah, kalian menikahlah! Tunggu, apalagi?" Celetuk Aftar dengan tawa kecilnya, Vino hanya tersenyum masam.
"Baiklah secepatnya kita akan menikah, minggu depan!" Sahut Vino dengan tegas, Caca ternganga tidak percaya. "Minggu depan?" Caca mengulang kata-kata Vino.
"Iya minggu depan!" Vino mempertegas perkataannya.
Kinan dan Aftar sudah sama-sama ikut bergabung duduk di sofa, tangan mereka saling berpegangan.
"Kenzo, nanti kamu jangan jadi laki-laki dingin seperti es batu ya nak. Jangan seperti papa kamu," kata Sanjaya sambil memainkan pipi gembul Kenzo.
"Kakek, itukan anak Aftar wajarlah kalau mirip dengan Aftar," protes Aftar tidak mau kalah.
"Tidak bisa, dia harus menjadi laki-laki yang lembut dan hangat!"
"Haaahhh... kek, selama ini aku juga seperti itu."
"Setelah menikah, sebelum menikah kamu seperti es batu yang baru keluar dari kulkas."
Kinan hanya menggelengkan kepalanya, sungguh kakek dan suaminya ini selalu saja ada hal yang mereka debatkan.
Sanjaya kembali asik bercanda dengan Kenzo, kini Kenzo sudah berpindah tangan dan sekarang Kenzo bersama Sanjaya.
"Bos, sepertinya anda harus buat satu adonan lagi. Biar mereka berdua tidak saling berebut," saran Vino sambil cengar-cengir jail, Aftar menatap Vino kali ini Aftar setuju dengan saran dari Vino.
"Kamu benar Vin, aku harus mulai rajin membuat adonan lagi." Sahut Aftar, sambil senyam-senyum.
__ADS_1
Kinan mendengus kesal, dalam hatinya bekas operasi beberapa hari lalu saja masih terasa nyerinya. Ini suaminya malah sudah berpikir untuk mencetak satu anak lagi, kenapa tidak kamu saja mas yang hamil?
Caca hanya diam, dia memikirkan jika dirinya sudah menikah dengan Vino nanti akan seperti apa?
******
Dikediaman Arga dan Vira, mereka juga terlihat bahagia dengan kelahiran Kimmy.
Setelah melahirkan Vira lebih memberikan perhatian pada anaknya, kadang suaminya sampai iri. Tapi Vira hanya bisa tertawa, karena dia paham sekali sifat manja sang suami.
Vira sedang menyusui anaknya, tiba-tiba Arga duduk di sebelahnya.
"Kimmy nyusu terus, tapi aku tidak sayang aku kan juga pingin nyusu," protes Arga begitu manja.
"Apasih kamu mas? Kamu kan sudah besar!" Omel Vira, suaminya ini memang seperti ini sabar-sabarnya Vira saja ngadepin tingkah sang suami.
"Lihat Kim, papa kamu itu ya!" Vira mengadukan kemanjaan papanya pada Kimmy.
Ponsel Vira berdering, lalu Arga mengambilnya.
"Telpon dari Kinan, sayang." kata Arga.
"Angkat saja mas!" Pinta Vira dan Arga mengangkat telpon dari Kinan.
"Hallo Vir, Vira maaf ya aku tidak bisa menjenguk kamu di rumah sakit."
"Iya Kin tidak apa-apa, oh iya anak aku sudah lahir dia perempuan."
"Aku juga sudah melahirkan, anak aku laki-laki."
"Cocok Kin, siapa tahu kita bisa besanan." Kata Vira sambil tertawa, Kinan juga ikut tertawa.
"Besanan sama mantan," batin Kinan dalam hatinya.
"Dasar kamu Vir, tapi kalau besanan juga tidak apa-apa."
Kini mereka asik mengobrol tapi suami-suami mereka terlihat kesal.
"Aku besanan dengan Arga, tidak bisa biar bagaimanapun Arga adalah mantan kekasih Kinan." Batin Aftar dalam hatinya.
"Jadi besan Aftar, aku akan memikirkannya 1000 kali dulu!" Batin Arga dalam hatinya.
Setelah obrolan mereka selesai, Kinan mematikan saluran teleponnya lalu menaruh kembali ponselnya di atas meja.
*****
Malam menujukan pukul 7 malam, Kenzo dari tadi menangis terus.
Kinan dengan teleti mengecek pampres sang anak. "Masih kering," katanya pelan.
"Dia haus sayang, coba susuin pasti diam." Aftar duduk di tepi ranjang, Kinan menuruti apa kata suaminya.
__ADS_1
Kinan mengangkat Kenzo, lalu menaruh di pangkuannya. Kini Kenzo sedang menyusu dan benar Kenzo langsung diam.
"Mas, sepertinya kamu lebih pandai mengurus anak deh." Kata Kinan, membuat Aftar tertawa kecil.
"Mas suka baca di internet, kan mas mau menjadi suami siaga," tutur Aftar jari-jarinya memainkan pipi Kenzo yang sedang nyusu.
Kinan tersenyum bahagia, suaminya ini memang sangat pintar dalam hal apapun tapi kalau masalah peka dengan percintaan, Aftar tidak sepandai Vino.
"Ken, gantian dong nak! Papa juga sudah lama tidak nyusu sama mama," kata Aftar membuat Kinan ingin sekali menjewer telinga suaminya.
"Apasih kamu mas, dasar jail. Sudah nak kamu jangan dengerin omongan papa," Kinan terus menyusui Kenzo.
Kali ini Aftar hanya bisa menelan ludahnya, rasanya ingin sekali bercinta dengan istrinya tapi keadaan yang tidak memperbolehkan untuk melakukan hal itu.
Kenzo akhirnya tertidur, Kinan menaruh Kenzo di tengah-tengah mereka tidur.
"Sayang, kamu bahagia bertemu dengan ibu kamu?" Tanya Aftar, dengan lembut tangan kekarnya membelai rambut Kinan.
"Bahagia mas, terimkasih mas kamu sudah memberikan banyak kebahagiaan untuk aku," jawab Kinan, tangannya sudah memegang tangan suaminya lalu dengan lembut mencium tangan sang suami.
Hanya menjadi istri yang patuh dan menyayangi Aftar dan anaknya yang bisa Kinan lakukan untuk membalas kebahagiaan yang sudah suaminya berikan.
"Sama-sama istriku, tunggu Vino mengirim pesan."
Aftar menggeser layar ponselnya, lalu membaca pesan dari Vino.
"Bos, minggu depan aku akan menikah dengan Caca. Jangan lupa catring yang bos janjikan ya!"
Aftar tersenyum, membalas pesan dari Vino.
"Siap, nanti aku akan menyuruh orang untuk mengurus semuanya!"
Aftar senyam-senyum, membuat Kinan menatapnya bingung.
"Kenapa senyam-senyum mas?" Tanya Kinan dengan nada lembut.
"Vino akan menikah minggu depan," Jawab Aftar sambil tersenyum.
"Asik, akhirnya kirim undangan juga mereka." Kinan tersenyum, kebahagiaan satu lagi datang karena sahabatnya mau menikah.
Malam semakin larut, Kinan tertidur dan Aftar juga tidur.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊
Mampir yuk ke karya baru Author 🤗
"Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir"
Disana ada Naya yang polos dan Raka Duda tampan yang kaya 🙏🤗
__ADS_1
Mampir juga yuk, ke karya teman 🙏