
Setelah Aftar berlalu pergi, Vino menghela nafasnya lalu berjalan ke depan untuk naik taksi.
Malam ini mereka akan berusaha meminta maaf pada pasangan mereka masing-masing.
Vino pergi ke rumah Caca dengan menggunakan taksi. Di dalam taksi Vino terus melihat kalung yang dia pilih tadi, iya kalung yang begitu indah dengan liontin bentuk hati.
"Mudah-mudahan, Caca mau memaafkanku." Kata Vino, dalam hati sungguh penuh harap kalau Caca akan memaafkan dirinya.
Vino merogoh ponselnya yang ada di saku celananya, lalu dia menggeser layar ponsel miliknya dengan hati-hati berharap ada balasan chat dari Caca atau telp darinya.
"Caca, tidak membalas pesanku, dia juga tidak menelponku." Vino tampak frustasi, hatinya sangat tidak tenang memikirkan Caca, apalagi kemarin Caca sempat makan berdua dengan Rian.
"Jangan bilang saat kita sedang marahan, kamu cari laki-laki lain. Awas saja jika itu benar," batin Vino dalam hatinya.
Vino kembali mengirimkan pesan pada Caca melalui ponselnya.
"Sayang, maafkan aku. Berhentilah marah padaku, aku tahu aku salah."
"Mari kita berbaikan, aku juga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Caca, berhentilah mengabaikanku!"
Akhirnya pesan-pesan itu terkirim ke ponsel Caca, dengan malas Caca mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Caca hanya membaca pesan itu dari siapa? Setelah dia tahu ternyata pesan itu dari Vino. Caca tidak membalasnya.
"Rasakan, ini hukuman buat laki-laki ganjen sepertimu Vino." Batin Caca dalam hatinya.
Caca bersiap-siap untuk pulang kerja, karena memang hari ini jadwalnya Caca pulang cepat setelah selesai bersiap-siap untuk pulang, Caca langsung berjalan menuju keluar dari kantor sesampainya di depan kantor, mata Caca melihat kesana-kemari tapi dia tidak melihat apa yang ingin dia lihat.
"Dia kemana? Apa dia pergi bertemu dengan wanita cantik lagi?" Caca berbicara sendiri, lalu dia kembali melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah.
Jam menunjukkan pukul pukul setengah 5 sore akhirnya Caca sampai di rumah.
"Akhirnya, sampai di rumah. Aku mau membuat makan dululah. Lapar sekali," Caca beranjak dari sofa tempat dia duduk lalu dia menuju ke dapur.
*****
Di kediaman Aftar, Aftar sudah sampai di rumah tapi dia belum berani masuk ke dalam rumahnya.
Aftar duduk di kursi yang ada di depan rumahnya, dia terus melihat kalung cantik pilihannya.
"Aku beli kalung dengan liontin satu mata berlian, aku berharap kamu menyukainya dan mau memaafkan aku." Kata Aftar dengan penuh harapan.
"Lebih baik aku masuk sajalah, mudah-mudahan suasana hati Kinan sudah baik. Anak papa bantu papa agar suasana hati mamamu menjadi lebih baik," Aftar beranjak dari tempat duduknya lalu dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah, Aftar mencari-cari sosok sang istri. Tapi tidak ada di dapur tidak ada, di ruang tengah tidak ada.
"Pada kemana? Kakek juga sepertinya sepi, apa mereka pada pergi?" Aftar berbicara sendiri, lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Aftar tampak lelah tapi rasa lelahnya itu seketika hilang karena melihat Kinan tertidur di atas ranjang dengan begitu pulas.
"Ternyata, istriku sedang tidur." Aftar berjalan menuju ke ranjang tempat tidurnya lalu dia duduk di tepi ranjang.
Matanya menatap lekat sang istri yang sedang tertidur nyenyak, tangannya dengan pelan mengarah ke pipi mulus sang istri, dengan penuh kelembutan Aftar membelai-belainya dengan pelan.
Kinan yang merasakan sentuhan, pelan-pelan dia membuka matanya. Samar-samar dia melihat sosok suaminya, tapi tatapannya terlihat masih kesal.
"Mas Aftar." Kinan meyingkirkan tangan suaminya dengan kasar.
Aftar agak kesal, tapi dia menahannya agar tidak sampai marah ataupun membentak istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Sungguh, aku tidak ada niat buat macam-macam." Aftar meraih tangan Kinan, Kinan hanya terdiam.
"Sayang, bicaralah padaku! Mau sampai kapan kamu mau mengabaikanku seperti ini," tanya Aftar dengan nada lembut.
"Sampai kamu sadar, mas wanita itu bukan mainan atau bahan bercandaan. Kamu tahu istrimu sedang hamil, tapi kamu aneh-aneh bahkan dengan sengaja kamu memberikan ruang untuk wanita lain menjadi perusak rumah tangga kita!" Tegas Kinan, rasanya sangat marah sekali Kinan hari ini.
Bagi Kinan, jika Aftar seperti kemarin itu sama saja kalau Aftar itu memberikan peluang untuk pelakor masuk dalam rumah tangganya.
"Mas, rasa cemburu itu tidak perlu di buat. Tanpa kamu membuat aku cemburu, aku juga sering merasakan cemburu, aku ini hanya cleaning servis dan kamu seorang pengusaha muda yang tentunya di kelilingi oleh banyak wanita cantik. Itu juga sudah membuatku cemburu setiap hari," tutur Kinan dan dia tiba-tiba meneteskan air matanya.
Seketika Aftar merasa sangat bersalah, ternyata selama ini dirinya tidak pernah menyadari hal itu.
Aftar langsung membawa Kinan masuk ke dalam pelukannya, Kinan meronta-ronta tapi Aftar mempererat pelukannya.
"Sayang, aku minta maaf. Aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Kata Aftar di sela-sela pelukannya, Kinan hanya diam dan dia hanya menangis di pelukan suaminya.
Aftar melepaskan Kinan dari dalam pelukannya, lalu tangannya mengarah kedua pipi Kinan untuk menghapus air mata istrinya.
"Jangan menangis, mas salah sayang, mas minta maaf." Kata Aftar dengan begitu tulus.
Tapi Kinan hanya terdiam membuat Aftar merasa semakin salah.
"Aku minta maaf," kata Aftar dan dia kembali memeluk Kinan dengan erat.
"Kamu, maukan memaafkan aku sayang?" Kata Aftar untuk kesian kalinya.
"Iya mas aku maafkan, tapi aku aku masih marah sama kamu. Malam ini, kamu tidur di sofa saja! Aku tidak mau tidur sama kamu," rajuk Kinan. Aftar menghela nafasnya.
__ADS_1
"Apa harus aku tidur di sofa malam ini? Semalam di cuekin, sekarang tidur di sofa. Tapi tidak apa-apalah yang penting dapat maaf dari istriku." Batin Aftar dalam hatinya.
"Iya sayang, yang penting kamu sudah memaafkan aku." Jawab Aftar sambil tersenyum simpul.
Akhirnya Kinan dan Aftar berbaikan, tapi Kinan masih memberikan hukuman pada suaminya untuk tidur sofa.
"Sayang, aku punya sesuatu buat kamu." Kata Aftar dan dia mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celananya.
"Itu apa mas?" Tanya Kinan, yang melihat Aftar mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celananya.
Aftar membuka kotak itu, hingga isinya terlihat dan Kinan diam-diam tersenyum kecil.
"Ini buat kamu sayang, ini sebagai tanda permintaan maaf dariku." Aftar tersenyum, lalu memakaikan kalung itu ke leher Kinan.
Kinan lagi-lagi hanya bisa tersenyum dan dia langsung memeluk suaminya. Kinan tahu suaminya begitu menyayangi dirinya tapi kadang Aftar suka aneh-aneh hingga membuat Kinan marah.
****
Malam menujukan pukul 7 malam, Vino sudah berada di depan Caca. Vino berulang kali mengetuk pintu rumah Caca tapi Caca tidak membukakan pintu rumahnya.
"Mau apa dia kesini?" Tanya Caca, dia mengintip Vino dari cendela.
"Caca, ini aku Vino. Bukan sayang pintunya, aku minta maaf." Vino terus mengetuk pintu rumah Caca, berharap Caca akan membuka kan pintu rumahnya untuk dirinya.
"Kamu mau apa?" Tanya Caca dari dalam rumahnya.
"Kamu di rumah, maafkan aku!" Jawab Vino, dengan penuh harap.
"Aku tidak mau, sana kamu pulang! Aku tidak mau memaafkanmu," tutur Caca.
Vino terdiam, ingin sekali menobrak pintu rumah Caca. Tapi Vino juga tidak mau menambah masalah.
Langit yang begitu mendung dan mungkin akan turun hujan.
"Sayang, di luar dingin. Aku tidak akan pulang sebelum kamu memaafkan aku!" Sahut Vino, kini Vino bersandar di depan pintu.
"Percuma, aku tidak akan keluar rumah!" Jawab Caca dan dia memilih masuk ke dalam kamarnya.
Vino masih duduk di depan pintu, berharap Caca mau membukakan pintu rumahnya dan memaafkan dirinya.
Malam ini nasib Vino tidak sebaik Aftar, karena Vino belum mendapatkan maaf dari Caca.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊