Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Otak Mas Aftar traveling


__ADS_3

Tanpa menunggu lama Aftar langsung pulang ke rumah.


Aftar meninggalkan Vino begitu saja yang masih duduk di sofa ruangannya, Vino hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apa, laki-laki yang sudah menikah seperti ini semua? Baru dapat telpon dari istrinya, dia langsung pulang. Bahkan dia tidak melirikku sedikitpun dan meninggalkan aku pergi begitu saja, sungguh Pak Aftar sekarang telah banyak berubah." Vino mengoceh sendiri, kini dirinya kembali sibuk dengan laptopnya.


Seketika dia ingat dengan kopi buatan Caca yang belum dia minum sama sekali. Vino bergegas keluar dari ruangan Aftar, lalu dia buru-buru pergi menuju ke ruangannya.


Sesampainya di ruangan kerjanya, Vino melihat cangkir yang berisi kopi di atas meja kerjanya. "Aku mau menikmati kopi buatan gadis sapu," Vino tersenyum kini dia sudah duduk di kursi kerjanya.


Vino senyam-senyum memandangi cangkir kopi yang ada di atas meja kerjanya, bahkan sekilas dia tertawa kecil mengingat wajah cantik Caca.


"Gadis sapu, sungguh kamu membuatku menjadi tidak waras," batin Vino dalam hatinya.


Vino mengambil cangkir kopi yang ada di atas meja kerjanya, lalu dia mencium aroma wangi kopi tersebut. "Baunya sangat enak, aku yakin pasti rasanya juga enak." Vino menyeruput kopi buatan Caca dengan penuh nikmat. "Rasanya ada manis-manisnya seperti yang membuat kopi ini," Vino kembali menyeruput kopinya.


Sungguh Vino benar-benar tergila pada Caca sekarang gadis sapu itu sudah menjadi incaran untuk di jadikan kekasihnya.


"Aku harus bisa mengajak dia jalan berdua!" Kata Vino dengan begitu yakin.


Saat ini Vino sedang sibuk memikirkan cara untuk mengajak jalan Caca?


***


Di kediaman Sanjaya, kini Aftar sudah sampai di rumah tanpa meminta izin dari Kinan. Aftar langsung memeluk Kinan dengan penuh kehangatan, membuat Kinan sangat bahagia.


"Kenapa menyuruhku pulang?" Tanya Aftar dengan lembut Aftar mencium kening Kinan.


Sanjaya tersenyum, sungguh menurutnya sekarang cucunya tidak ada rasa malu sama sekali. Bahkan dia berani menunjukkan ke mesraannya di depannya tanpa rasa canggung, biarpun pipi Kinan terlihat merah tapi Aftar tetap tenang tanpa merasa malu.


"Mas, ada kakek." Lirih Kinan malu-malu.


"Kakek juga pernah muda sayang, jadi biarkan kakek melihat kemesraan kita," tutur Aftar yang membuat pipi Kinan semakin merah.


"Dasar Mas Aftar, dulu mana berani seperti ini di depan kakek?" Kinan tertawa dalam hatinya.


Aftar melepaskan Kinan dari pelukannya, lalu tangannya memegang kedua pipinya dengan gemas. "Pipimu terlihat tembem, katakan pada mas! Kenapa menyuruh mas pulang?" Tanya Aftar, matanya menatap Kinan dengan tatapan begitu lembut.

__ADS_1


"Aku merindukanmu mas," jawab Kinan dengan suara lirih.


Sanjaya disini berasa menjadi obat nyamuk apalagi dari tadi Aftar hanya fokus dengan istrinya tanpa menyapa dirinya.


"Dasar cucuku, kalau sudah bersama istrinya pasti lupa dengan kakeknya. Tapi baguslah aku bahagia Aftar banyak berubah," batin Sanjaya dalam hatinya.


"Kalian lanjutkan ngobrol kalian, kakek mau istirahat dulu." Sanjaya beranjak dari tempat duduknya.


"Biar Kinan antar kakek ke kamar ya!" Kinan hendak beranjak dari tempat duduknya. "Tidak usah nak, kamu temanin suamimu saja!" Cegah Sanjaya dan Kinan kembali duduk di sofa.


Sanjaya melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, setelah Sanjaya masuk ke dalam kamarnya tatapan Aftar seketika menjadi mesum.


"Apa, kamu merindukan mas?" Godanya dengan begitu jail.


Kinan mendengus kesal, sungguh suaminya ini paling tahu akan dirinya. Kinan melihat Aftar, lalu tangannya memegang tangan Aftar. "Ayo mas kita ke kamar!" Ajak Kinan dengan begitu manja.


Aftar senyam-senyum pikirannya sudah traveling kemana-mana, sungguh kalau mendengar masalah kamar pasti pikirannya Aftar itu menjenguk calon anaknya.


"Sayang, tapi ini masih terlalu siang. Nanti malam saja ya!" Jawab Aftar, sambil mengusap pipi Kinan dengan lembut.


Dalam hati Kinan, memangnya kita mau apa mas? Aku kan mengajak kamu ke kamar karena aku mau memperlihatkan pakaian baru yang aku beli buat kamu. Dasar otak Mas sukanya traveling kemana-mana.


Kinan mengikuti langkah kaki istrinya, sesampainya di kamar Aftar melihat beberapa paper-bag di atas ranjang tempat tidurnya. Seketika pikiran mesum Aftar hilang begitu saja raut wajahnya juga berubah menjadi agak kalem.


"Sayang, ini apa?" Tanya Aftar.


Kinan menarik Aftar, dan kini mereka sudah duduk di tepi ranjang tempat tidur. Kinan mengambil salah satu paper-bag lalu memberikannya pada Aftar. "Ini buat mas," Kinan tersenyum begitu manis.


Aftar menerima paper-bag dari Aftar, lalu membukanya melihat isinya Aftar tersenyum bahagia.


Kini keduanya sama-sama mencoba baju yang tadi Kinan dan Sanjaya beli di mall, Aftar mencoba setelan jas barunya dan Kinan mencoba baju hamil yang di belikan oleh Sanjaya. Melihat istrinya memakai baju hamil Aftar tertawa kecil, pasti jika perut istrinya sudah besar nanti akan cocok memakai baju hamil yang di belikan oleh sang kakek.


****


Jam menunjukkan pukul 9 malam, Kinan sedang duduk di tengah-tengah atas ranjang tempat tidurnya.


Tiba-tiba Aftar yang baru saja selesai mandi dan hanya memakai handuk saja duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Mas, ganti baju tidur dulu!" Pinta Kinan dengan nada lembut.


"Tidak mau, lagian mas lebih suka t*l*nj*ng saat bersamamu. Biar langsung masuk, jadi tidak perlu main buka-bukaan." Bisik Aftar dengan nada menggoda.


Kinan merasa geli, dia menjauhkan telinganya dari bibir Aftar tapi belum sempat menjauh tangan Aftar sudah menahannya. "Tetaplah diam, mas merindukanmu sayang." Tutur Aftar dengan agak mendesah.


Aftar mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan, lalu dengan lembut menyiupnya dan sekali-kali menggigitnya dengan manja.


"Auh mas..." Kinan merintih manja merasakan telinganya di gigit manja oleh suaminya."Baru telinga sayang, belum yang bawah nanti saja merintihnya!" Aftar kembali mendaratkan bibirnya di telinga Kinan. "Emmhh.." desah Kinan dengan lembut.


Kini bibir Aftar semakin nakal dan sudah berada di leher jenjang Kinan. "Cup...cup..." Berulang kali Aftar mencium leher Kinan hingga meninggalkan bekas merah di sana.


Tangan Aftar bermain-main di gunung k*m**r Kinan, dia terus menekannya, mer*m*snya dengan begitu nikmat. Desahan Kinan semakin terdengar, membuat Aftar juga semakin tinggi hasratnya.


Kini bibirnya menghentikan aktivitasnya lalu tangan kekarnya membuka kancing baju Kinan dengan cepat, karena rasanya sudah tidak sabar ingin mengairi benihnya yang ada di dalam rahim sang istri.


Setelah berhasil melepaskan kancing-kancing baju Kinan, Aftar langsung membuangnya ke sembarang tempat kini tangannya terus bekerja hingga Kinan polos tanpa sehelai benang apapun.


"Sayang, punya mas sudah tegang!" Aftar melepaskan handuknya lalu membuangnya ke sembarang tempat.


Kini Aftar meraih tangan Kinan, lalu mengarahkan tangan Kinan ke keris pusakanya yang sering di asah di dalam milik Kinan biar semakin tajam.


"Mas...." Kinan menyentuh benda tumpul itu.


"Tekan sayang, achh....." Desah Aftar merasakan sentuhan demi sentuhan tangan Kinan di bawah sana.


Kinan terus menekannya lalu mengelus-elusnya dengan lembut.


Aftar yang sudah tidak tahan karena miliknya sudah sangat tegang. Akhirnya dengan cepat Aftar membaringkan tubuh Kinan dan dia membuka sl*k*ng*n Kinan agak lebar.


Tanpa menunggu lama akhirnya, Aftar memasukkan miliknya ke dalam milik istrinya.


Malam semakin larut, erangan, desahan penuh kenikmatan. Membuat permainan malam ini semakin panas.


BERSAMBUNG 😂


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


Di kampung sinyalnya susah mohon maaf ya jika up-nya suka lama 🙏


__ADS_2