Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Manusia es aneh?


__ADS_3

"Mas Aftar, kamu itu kenapa sih?" Tanya Kinan dengan nada agak marah.


"Aku......." Aftar menghentikan perkataannya matanya diam-diam melirik Kinan.


"Aku ini kenapa sih? Dari tadi aku ini aneh sekali." Pikir Aftar dalam hatinya.


"Aku apa?" Tanya Kinan semakin penasaran.


"Sudahlah lupakan, ingat jangan mengobrol seakrab itu dengan laki-laki lain! Aku tidak suka," Aftar terus melajukan mobilnya dengan perasaan tiba-tiba menjadi gugup.


Kinan semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada bosnya ini?


"Kamu itu calon istrinya Aftar Sanjaya, jadi kamu harus jaga sikapmu! Tidak pantas jika seorang wanita mengobrol begitu akrab dengan laki-laki lain, apalagi itu di hadapan calon suaminya." Kata Aftar, Kinan menganga tidak percaya.


"Sebentar manusia es ini kenapa? Bukankah kita hanya menikah kontrak 100 hari?" Tanya Kinan dalam hatinya.


Kinan membenarkan posisi duduknya, kali ini matanya menatap Aftar dengan tatapan yang begitu lekat "Mas Aftar, tapikan kita hanya menikah kontrak saja." Protes Kinan dengan cepat.


"Tetap saja, biarpun 100 hari kelak kamu akan menyandang status sebagai istri Aftar Sanjaya dan jika sampai media tahu kamu bersikap semanis tadi di hadapan laki-laki lain, maka semuanya akan kacau." Jawab Aftar dengan tegas.


Sungguh Kinan tidak percaya, menurut Kinan Aftar itu begitu egois.


"Bagaimana, kalau Mas Aftar yang berbicara dengan wanita lain? Atau terlihat begitu akrab dengan wanita lain, apakah aku juga boleh melarangnya? Kan kelak status Mas juga akan menjadi suami Kinanti Alisya." Jawab Kinan dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku tidak mau, jika hanya aku saja yang di tindas oleh dirinya. Aku tidak boleh ini dan itu, lalu dia sendiri mau tidak jika aku larang-larang?" Batin Kinan dalam hatinya.


Dalam Aftar, sungguh aku tidak percaya ternyata Kinan berani juga melawanku, awas saja nanti kamu Kinan. Aku tidak akan membiarkan laki-laki manapun menyentuhmu aku tidak akan rela.


"Kinan, apa kamu sedang melawanku?" Aftar melirik Kinan dengan tatapan tajam.


"Aku hanya ingin kita bersikap adil!" Jawab Kinan dengan penuh penegasan.


Seketika Aftar tidak bisa menjawab apa-apa, Aftar hanya fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan agak tinggi.


"Pelankan laju mobilnya, aku masih ingin berumur panjang!" Kata Kinan, tatapan matanya tampak begitu kesal.


"Giliran sendirinya di tanya tidak mau jawab dasar manusia es yang aneh." Gumam Kinan dalam hatinya.


"Diamlah! Aku tidak akan membuatmu celaka." Tegas Aftar dengan nada dingin seperti biasanya.

__ADS_1


Sungguh semakin kesini sikap Aftar semakin tidak jelas, kadang selembut sutra, kadang juga sedingin es, kadang marah-marah tidak jelas.


Sesampainya di rumah Kinan, mereka turun dari mobil. Kinan hendak mengambil barang belanjaannya tapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh Aftar "Kenapa?" Tanya Kinan sambil melihat Aftar, kini tangan Aftar memegangi tangan Kinan dengan erat.


"Biarkan semua barang-barang tetap di mobil, karena itu mau aku rapikan di dalam kamarku nanti!" Jawab Aftar, buru-buru Kinan menepis tangan Aftar dengan cepat.


"Haruskah satu kamar?" Tanya Kinan dengan begitu polosnya.


Aftar menyentil dahi Kinan dengan pelan "Apa, kamu sedang bergurau? Namanya suami dan istri ya tidurnya satu kamar" Aftar menggelengang kepalanya, rasanya gemas sekali pada Kinan.


"Awas saja jika kamu berani mengambil kesempatan!" Ancam Kinan dengan tegas.


"Tidak akan terjadi sesuatu, iya tentunya kalau aku tidak hilaf. Karena kalau hilaf lain lagi ceritanya," Aftar tertawa sejadi-jadinya dan Kinan langsung meliriknya dengan begitu kesal "Sana pulang, aku bisa gila jika terus-terusan bersamamu!" Kinan mendorong tubuh Aftar untuk masuk ke dalam mobil.


"Kinan, aku mau makan siang di rumahmu," Kata Aftar, tapi Kinan tidak mempedulikannya sama sekali.


"Pulanglah, tidak ada makan siang bersama!" Usir Kinan, karena dirinya merasa kesal.


Akhirnya Aftar mengalahkan dan dia naik ke dalam mobil "Ingat, besok jangan kesiangan bangunnya! Karena besok adalah hari pernikahan kita. Nanti ada supir yang akan menjemputmu!" Aftar menyalakan mesin mobilnya dan langsung berlalu pergi dari depan rumah Kinan.


Setelah Aftar pergi, Kinan langsung masuk ke dalam rumahnya.


____


Aftar sengaja mengundang Arga, agar Arga tidak terus-menerus menganggu Kinan.


"Tok..tok..." Suara ketukan pintu.


Arga dan Vira yang sedang menonton televisi bersama tapi mereka duduk di sofa yang berbeda.


Arga melihat kearah Vira "Bukalah pintunya, ada tamu!" Suruh Arga dengan nada ketus.


Vira beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek," Suara gagang pintu.


"Maaf, cari siapa ya?" Tanya Vira yang memang tidak mengenal Vino.


"Saya mencari Pak Arga, Nyonya." Jawab Vino dengan nada lembut.

__ADS_1


"Sebentar, saya panggilkan dulu!" Vira berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya di ruang tengah, Arga melirik Vira dengan tatapan malas " Ada apa?" Tanya Arga dengan nada jutek.


"Itu ada yang mau bertemu denganmu." Jawab Vira, Arga langsung beranjak dari tempat duduknya dan dia pergi ke depan untuk menemui Vino, Vira juga mengikuti langkah kaki Arga menuju ke depan.


Sesampainya di depan, Hati dan perasaan Arga rasanya tidak enak.


"Tumben, bukannya itu Vino sekretarisnya Aftar." Batin Arga dalam hatinya.


"Ada apa?" Tanya Arga tanpa basa-basi.


"Ini undangan pernikahan dari Pak Aftar dan Nona Kinan, Pak." Vino memberikan undangan yang ada di tangannya pada Arga, Arga menerima undangan itu dengan kasar.


"Kinan, kamu sungguh akan menikah dengan Aftar? Aku masih sangat mencintaimu." Batin Arga dalam hatinya.


"Terimakasih." Kata Arga tapi ekspresi.


"Sama-sama pak, saya permisi dulu." Vino berlalu pergi dari rumah Arga dan Vira.


Dalam hati Vira, akhirnya gadis itu akan menikah jadi Arga sudah tidak bisa mengejarnya lagi. Tapi buat apa juga aku perduli, sudahlah daripada Arga ngamuk mending aku masuk saja.


Vira meninggalkan Arga yang berdiri tegak di ambang pintu, dia tidak mau kalau sampai dirinya menjadi pelampiasan kemarahan Arga gara-gara menerima undangan pernikahan dari mantan kekasihnya itu.


Arga membuka undangan itu dan tertulis nama Aftar Sanjaya dan Kinanti Alisya, hati Arga seketika merasa sesak sungguh dia tidak rela jika melihat Kinan bersanding dengan laki-laki lain.


"Kinan, kenapa kamu tega padaku? Kamu meminta putus denganku tanpa alasan dan sekarang kamu akan menikah dengan laki-laki lain, apa selama ini kamu selingkuh di belakangku? Ini alasan kamu memutuskan aku," Arga menjatuhkan dirinya ke lantai, kakinya tiba-tiba terasa lemas.


Mata Vira tampak berkaca-kaca "Dia bisa menangisi mantan kekasihnya tapi kenapa dia tidak mau melihat aku yang saat ini berada di sisinya?" Tiba-tiba air mata Vira jatuh membasahi pipinya dan dengan cepat Vira menghapusnya.


"Buat apa juga aku menangis? Vira kamu jangan menjadi wanita lemah hanya karena satu laki-laki!" Vira memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Arga beranjak dari tempat dia menjatuhkan dirinya, dia berjalan menuju ke Vira yang sedang duduk di sofa.


"Kenapa, apa kamu bahagia melihat aku terluka?" Sentak Arga tiba-tiba, Vira berusaha bersabar "Tidak, aku tidak bahagia sama aku juga sama sepertimu pernah di tinggalkan oleh orang yang aku sayang dan itu selama-lamanya." Jawab Vira, raut wajahnya tampak sedih.


"Besok temanin aku menghadiri acara pernikahan Kinan dan Aftar!" Kata Arga dengan nada datar.


Vira hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia pergi meninggalkan Arga masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🙏


__ADS_2