
"Anya, kamu sedang apa disini?" Tanya Vino pada Anya.
"Aku....."
Anya menghentikan ucapannya, dia menatap Vino yang menurutnya terlihat begitu tampan pagi ini.
"Sungguh, aku ingin menjadi istrimu." Batin Anya meronta-ronta.
"Anya, aku bertanya padamu!" Vino menatap Anya dengan tatapan kurang suka.
"Ada apa dia datang pagi-pagi ke kantorku, bagaimana kalau Caca melihatnya? Pasti dia akan murka," batin Vino dalam hatinya.
"Tentu saja aku menunggumu, aku merindukanmu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu," jawab Anya dengan begitu tidak tahu malunya.
"Sudahlah Anya, aku sudah punya calon istri. Jadi ada baiknya kamu cari laki-laki lain saja untuk menjadi kekasihmu!" Vino tampak kesal dan dia langsung berlalu pergi dari hadapan Anya, baru melangkahkan langkah kakinya satu langkah tiba-tiba tangan Anya menahan tangan Vino.
"Berikan kesempatan padaku! Caca itu sangat tidak pantas buat kamu, apalagi dia hanya..." Kata-kata Anya terhenti. Vino menatap Anya dengan tatapan begitu garang, "Dia hanya apa?" Tanya Vino dengan kasar Vino menepis tangan Anya.
Betapa kesalnya Anya, Vino yang biasanya bersikap lembut pada dirinya tapi hari ini Vino begitu kasar pada dirinya.
"Dia hanya gadis kampung, aku yakin dia pasti bukan gadis baik-baik!" Tandas Anya dengan lantang.
Kedua tangan Vino mengepal dengan sempurna, mungkin jika Anya adalah seorang laki-laki pasti tangan kekarnya sudah mengh*jarnya dengan kedua tangannya.
"Jaga ucapanmu, Anya! Kamu tidak pantas menghinanya! Kamu juga sering tidur dengan mantan kekasihmu kan, aku tahu semuanya Anya. Jadi jangan berani-berani menghina calon istriku atau aku akan merobek mulutmu dengan tanganku sendiri." Mata Vino begitu penuh amarah, rasanya tidak rela sekali kalau Caca dihina oleh Anya.
"Jaga mulutmu, Vin!" Anya tidak terima dengan tuduhan Vino.
"Aku tahu semuanya, karena mantan kekasihmu itu adalah salah satu temanku," jelas Vino.
Anya hanya terdiam dia tidak punya kata-kata lagi untuk melawan Vino, dia sadar selama dia berpacaran dengan Rafi yang tidak lain adalah temannya Vino. Anya sering sekali bolak-balik ke kosan Rafi, bahkan tidak sungkan-sungkan Anya juga sering menginap di kosan Rafi.
Vino tahu semuanya, tapi Vino hanya diam saja karena bagi Vino itu adalah urusan Anya dan Rafi. Jadi Vino tidak pernah ikut campur urusan mereka berdua.
Tapi Anya sudah lama putus dengan Rafi, karena Rafi juga sudah menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Sia-sia Anya memberikan kesuciannya pada Rafi, tapi akhirnya tidak di nikahi oleh Rafi.
"Jangan pernah Hina Caca! Dan aku mohon jangan ganggu hubungan aku dengan Caca, karena kita akan segera menikah." Tandas Vino dan kali ini dia benar-benar berlalu pergi dari hadapan Anya.
Anya terdiam menatap punggung kekar Vino, rasanya tidak ikhlas sekali kalau Vino harus bersanding dengan wanita lain.
__ADS_1
"Dulu aku kehilangan Rafi, sekarang Vino juga tidak mau bersamaku." Batin Caca dalam hatinya.
Dengan hati kecewa Caca melangkahkan kakinya menuju ke kantor tempat dia bekerja.
Aftar sudah berdiri di ambang pintu ruangan Vino.
"Vino mana? Biasanya dia datang lebih awal dariku, tapi hari ini tumben dia belum datang." Gumam Aftar dalam hatinya.
Vino melangkahkan kakinya dengan malas menuju ke ruangannya, Aftar yang melihat wajah Vino tidak sebahagia biasanya dia tampak bingung dengan Vino.
"Vin, kamu kenapa?" Tanya Aftar.
"Pak Aftar, masuklah! Maaf saya agak terlambat," Aftar mengajak Aftar masuk ke dalam ruangannya.
Vino membuka pintu ruangannya, Vino masuk lebih dulu lalu Aftar mengikuti langkah kakinya di belakangnya.
Vino menarik nafas dengan pelan, dia berusaha membuang rasa marahnya di hadapan bosnya ini.
"Katakan apa yang terjadi?!" Tanya Aftar penuh selidik, Aftar tahu dari raut wajah Vino saja dia terlihat sedang ada masalah.
Aftar sudah duduk di sofa, lalu Vino duduk di sebelah Vino. Mereka duduk hanya berjarak beberapa centi saja, dengan raut wajah kurang bahagia Vino terdiam.
"Saya hanya merasa kesal pak, karena di hubunganku dengan Caca sedang ada hama penganggu." Jelas Vino, Aftar paham apa yang di maksud oleh Vino.
"Kamu sudah mencoba membasminya?" Tanya Aftar tatapan matanya begitu serius pada Vino.
"Saya sudah meminta dia agar tidak menganggu hubungan saya dan Caca, pak." Jawab Vino, wajahnya terlihat sedih membuat Aftar ingin tertawa.
"Aku kira kamu dulu tidak bisa bucin, karena kamu itu begitu dingin apalagi tidak bisa move on dari mantanmu. Tapi ternyata seorang Caca gadis biasa bisa merubah semuanya," Aftar tertawa dalam hatinya.
"Baguslah, ada baiknya kamu segera nikahi Caca saja! Lagian buat apa juga pacaran lama-lama?" Aftar tersenyum, tangannya menepuk bahu Vino dengan pelan. "Jadilah laki-laki sejati, ingat jangan sampai menyakiti hati seorang wanita!" Kata Aftar penuh dengan penegasan.
Vino menganggukkan kepalanya, sebagai seorang laki-laki Vino memang harus menjadi seperti apa yang Aftar katakan pada dirinya.
Gini setelah berbagi cerita dengan Aftar, perasaan Vino sudah mulai tenang.
"Sudahlah, sebaiknya kamu kerjakan semua ini! Bawa ke ruanganku jam 10 nanti!" Kata Aftar sambil menaruh berkas-berkas yang ada di tangannya di atas meja.
Vino mendengus kesal, baru saja diberikan nasehat oleh sang bos. Dan ini malah di kasih kerjaan yang begitu banyak.
__ADS_1
"Dasar Pak Aftar, orang lagi galau ini malah di kasih tumpukan berkas." Gerutu Vino dalam hatinya.
Aftar beranjak dari tempat duduknya lalu dia berlalu pergi dari ruangan Vino.
Sesampainya di ruangan kerjanya, Aftar mengecek ponselnya yang tadi sengaja di tinggal di atas meja kerjanya.
Aftar mengambil ponselnya lalu menggeser layar ponselnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata telpon dari istri tercinta.
"Mas, aku merindukanmu." Kata Kinan dengan manja.
"Mas juga merindukanmu, kamu sudah sarapan?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
"Cepat pulang, aku pingin di manja!" Rajuk Kinan dengan manja.
Mendengar istrinya begitu manja, rasanya ingin cepat-cepat pulang tapi kerjaan Aftar masih banyak dan masih ada meeting yang harus Aftar urus.
"Iya nanti mas pulang, tapi tunggu kerjaan mas selesai dulu." Jawab Aftar.
"Baiklah mas," jawab Kinan terdengar suaranya begitu sedih.
"Dasar istriku, kalau lagi manja ya manjanya kebangetan kalau lagi ngambek ya jangan harap mau ngasih jatah buat kamu Aftar," gumam Aftar dalam hatinya.
"Kamu istirahatlah! Ingat jangan kecapean," kata Aftar dan dia mematikan saluran telepon nya.
Kinan merasa jenuh, pingin nyusulin Aftar ke kantornya tapi Aftar melarang Kinan pergi-pergi jauh karena takut kecapean dan kandungannya kenapa-kenapa.
Aftar duduk di kursi kerjanya, lalu dia kembali menggeser-geser layar ponselnya.
"Karin mengirim pesan padaku," gumam Aftar.
Aftar membuka pesan dari Karin, entah apa isi pesan dari Karin itu?
BERSAMBUNG 😘
Terimakasih para pembaca setia 🙏
Maaf jika Author up-nya lama, karena di dunia nyata Author juga sangat sibuk dengan kerjaan Author. Tapi insyaallah di usahakan up setiap hari 🙏
__ADS_1