
Keesokan harinya, Kinan sudah bangun lebih dulu. Dia melihat Aftar masih terlelap tidur di atas sofa, Kinan hanya tersenyum sambil menghela nafasnya dengan pelan.
"Dasar Mas Aftar ini cemburuan sekali, padahal dia yang mulai membahas Ziyan. Tapi malah dia yang merajuk," Kinan tersenyum tipis sambil terus menatap lekat wajah tampan sang suami yang masih tidur.
Kinan berjalan mendekati sofa, lalu dia berjongkok di hadapan Aftar dan jari-jarinya memainkan hidung Aftar dengan gemas.
"Mas bangun! Sudah mau jam setengah 7 loh, mas tidak masuk kantor?" Tanya Kinan, yang terus asik memainkan hidung Aftar.
Perlahan-lahan Aftar membuka matanya, lalu dia melihat wajah cantik Kinan tapi pagi ini expresi dia sangat berbeda dan sangat cuek pada Kinan. Aftar langsung bangun dari sofa lalu dia berlalu pergi begitu saja dari hadapan Kinan.
Lagi-lagi Kinan kembali tersenyum tipis.
"Lihat saja sampai berapa lama dia akan merajuk padaku? Nanti kalau minta di manja saja tiba-tiba glendotan tidak jelas," Kinan tertawa dalam hatinya.
Kinan berjalan menuju lemari lalu dia menyiapkan baju untuk Aftar berangkat kerja.
"Mas, baju kamu sudah aku siapkan di atas ranjang tempat tidur. Aku ke bawah dulu aku tunggu mas di ruang makan," kata Kinan dengan suara agak keras.
Aftar enggan menjawab, saat ini dia masih merajuk pada sang istri.
Kinan langsung turun ke bawah dan di sana sudah ada Sanjaya yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Selamat pagi, kek." Sapa Kinan dengan nada lembut.
"Selamat pagi nak, mana suamimu nak?" Tanya Sanjaya, karena tidak melihat Kinan keluar dari dalam kamarnya bersama Aftar.
"Mas Aftar sedang mandi kek, sebentar lagi juga keluar kek." Jawab Kinan, dia menarik kursi lalu duduk di kursi itu.
Kini Sanjaya dan Kinan sama-sama menunggu Aftar untuk sarapan bersama.
Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar keluar dari dalam kamar dan dia sudah rapi dengan setelan jas warna biru dongkernya. Aftar tidak menuju meja makan, membuat Sanjaya dan Kinan sama-sama menatap Aftar dengan tatapan bingung.
"Kamu tidak sarapan dulu, mas?" Tanya Kinan.
"Iya nak, kamu tidak sarapan dulu?" Sambung Sanjaya.
"Tidak kek, Aftar nanti sarapan di kantor saja ada meeting kek takut terlambat." Aftar berlalu pergi tanpa berpamitan dengan istri dan kakeknya.
Setelah Aftar sudah berlalu pergi, Sanjaya melihat ke arah Kinan seolah-olah meminta penjelasan pada Kinan Aftar ini kenapa?
"Suamimu kenapa? Raut wajahnya terlihat kesal pagi ini, nak." tutur Sanjaya dan Kinanti tersenyum tipis.
"Aku tidak mungkinlah kan bilang pada kakek kalau Mas Aftar sedang main cemburu-cemburuan denganku?" Kinan tertawa dalam hatinya, kali ini menurutnya suaminya itu begitu lucu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kek, mungkin karena Kinan bangunin dia terlambat kali kek akhirnya dia menjadi buru-buru pergi ke kantornya," jawab Kinan dengan jawaban yang menurutnya masuk akal.
Sanjaya menganggukan kepalanya pertanda mengerti. "Sudahlah nak, ayo kita sarapan saja! Kakek, sudah lapar." Sanjaya tersenyum
pada Kinan.
Akhirnya pagi ini Kinan hanya sarapan berdua dengan sang kakek, karena suaminya masih merajuk seperti anak kecil.
****
Pagi menujukan pukul 7 pagi, Vino sudah datang dan kini dia sudah duduk di ruangan kerjanya.
Vino sedang sibuk dengan laptopnya, Tiba-tiba dia teringat semalam waktu dia mengantar Caca pulang ke rumahnya.
"Dasar gadis menyebalkan! Aku sudah menolongnya dari laki-laki br*ngsek itu, tapi apa semalam dia tidak berkata apa-apa padaku. Bahkan dia juga tidak mengucapkan terimakasih padaku,"
"Sungguh gadis sapu menyebalkan!"
"Awas saja jika aku bertemu denganmu nanti, aku pasti akan, tunggu akan apa? Aku akan melakukan apa padanya?"
Vino mengerutu tidak jelas sungguh dia merasa kesal pada Caca. Apalagi semalam Caca tidak mengatakan terimkasih pada dirinya, bahkan Caca setelah turun dari dalam mobilnya Vino, Caca hanya diam dan berlalu pergi meninggalkan Vino begitu saja tadi malam.
*****
Di restoran xx, Ronal perlahan-lahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Samar-samar dia melihat banyak orang berlalu lalang di hadapannya.
Ronal mengingat semua kejadian kemarin, betapa kesalnya dia mengingat semuanya.
"Bagaimana bisa aku yang tertidur? Jelas-jelas aku menyuruh pelayan itu menaruh obatnya ke dalam gelas Ccaa, dan ini malah aku yang kena. Dasar pelayan sialan!" Gerutu Ronal dalam hatinya.
Karena merasa malu dan banyak yang memandangnya, akhirnya Ronal buru-buru keluar dari dalam restoran itu.
****
Setelah lelah menggerutu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Vino.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Masuklah!" Sahut Vino dari dalam ruangannya.
"Ceklek," suara gagang pintu.
Dengan ragu-ragu Caca masuk ke dalam ruangan Vino.
__ADS_1
"Mudah-mudahan dia suka dengan masakanku. Ini aku buat untuk ucapan terimakasihku padanya," batin Caca dalam hatinya.
"Pak Vino," dengan nada lembut Caca memanggil Vino.
Mendengar suara lembut itu, seketika Vino diam-diam tersenyum tipis. "Ada apa?" Ketus Vino, dengan nada pura-pura jutek.
"Galak sekali, kalau tidak ingat kemarin laki-laki ini sudah menolongku dari sih Ronal br*ngsek. Aku tidak akan mau datang ke ruangan dia!" Batin Caca dalam hatinya.
Caca menaruh kotak bekal di atas meja Vino. "Pak Vino, terimkasih kemarin sudah menolongku, ini saya buatkan sarapan buat bapak sebagai tanda terimakasih atas pertolongan bapak kemarin," kata Caca dengan nada lembut.
Seketika Vino merasa senang dalam hatinya.
"Sama-sama, nanti temanin saya makan siang ya! Saya tidak menerima penolakan darimu, jadi kamu harus mau!" Lagi-lagi Vino begitu ketus. Sungguh Vino itu tidak bisa bersikap lembut sedikit saja pada seorang wanita.
"Baiklah pak," jawab Caca.
"Dasar laki-laki galak, tidak ada manis-manisnya sama sekali." Gumam Caca dalam hatinya.
Setelah memberikan kotak bekal itu pada Vino, Caca langsung keluar dari ruangan Vino.
Setelah Caca keluar dari dalam ruangannya, Vino buru-buru membuka kotak bekal itu. "Aromanya enak sekali, aku yakin ini rasanya pasti enak." Vino tersenyum bahagia.
Melihat Caca keluar dari ruangan Vino, Aftar agak terkejut.
"Beberapa kali aku melihat gadis itu keluar dari ruangan Vino. Apa jangan-jangan mereka diam-diam punya hubungan khusus?" Tanya Aftar dalam hatinya.
Setelah Caca sudah tidak terlihat, Aftar berjalan menuju ke ruangan Vino dan Sesampainya di ruangan Vino, Aftar langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Aftar melihat Vino senyam-senyum sendiri, tangannya memegang kotak bekal berwarna pink yang di bawahkan oleh Caca tadi. "Aku, rasa kamu harus segera di bawa ke Dokter deh Vin." Cetus Aftar, yang sudah duduk di kursi yang terbatas meja kerja Vino.
"Memangnya saya kenapa pak? Saya kan baik-baik saja, jadi buat apa ke Dokter?" Vino balik bertanya pada Aftar.
"Sepertinya kamu sudah mulai tidak waras, dan jika ini di biarkan saja. Maka aku takut tingkat ketidak warasanmu semakin menggila," Aftar geleng-geleng kepala. Kali ini dia melihat Vino benar-benar tidak waras, apalagi Vino akhir-akhir suka senyam-senyum sendiri.
"Iya aku gila gara-gara seorang gadis, pak." Jawab Vino yang kembali senyam-senyum tidak jelas.
Aftar merasa semakin jijik, rasanya kalau dekat-dekat Vino. Pasti dia juga akan menjadi gila seperti Vino saat ini.
"Terserah kamu saja!" Aftar beranjak dari tempat duduknya, lalu berlalu pergi dari ruangan Vino.
Aftar kembali ke ruangannya, sekilas dia melihat senyum yang begitu manis di depan ruangan kerjanya.
"Mau apa dia kesini?" Aftar berbicara sambil menuju ke ruangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗