
Wajah Kinan dan Aftar sama-sama menjadi merah, rasanya bagaikan ke prekgok sampol PP yang sedang patroli.
"Kakek." Cetus Aftar dan Kinan secara bersamaan.
"Lanjutkan, kakek hanya ingin mengambil air putih saja kakek haus, Art juga sedang pada libur." Sanjaya tersenyum, sungguh Aftar menjadi salah tingkah.
Kinan turun kursi yang dia duduki, lalu tersenyum pada Sanjaya.
"Dasar Mas Aftar buat malu saja." Batin Kinan dalam hatinya.
"Kakek, biar Kinan saja yang ambilkan air putih." Kata Kinan dan Sanjaya mengangguk.
"Aftar ikut kakek! Kinan, nanti air putihnya bawa ke ruang tengah ya!" Kata Sanjaya dan Sanjaya dan Aftar pergi ke ruang tengah.
"Aish, kapan kakek datang lagi asik-asik juga kakek datang di saat yang tidak tepat." Batin Aftar dalam hatinya.
Kini Sanjaya dan Aftar sudah duduk di sofa mereka duduk di sofa, tatapan Sanjaya begitu tajam membuat Aftar menjadi gerogi.
"Kakek, kenapa kamu menatap Aftar seperti itu? Aftar kan mencium istri Aftar sendiri." Batin Aftar dalam hatinya.
"Kalian itu lucu, bisa-bisanya kalian berciuman di dapur." Sanjaya tertawa membuat Aftar merasa malu.
Kinan yang baru saja datang membawa segelas air putih juga pipinya semakin memerah.
"Tahu itu kek, Mas Aftar itu suka sekali nyosor kek," Kinan memanyunkan bibirnya membuat Aftar menatapnya dengan tatapan gemas.
"Siapa yang tahu kalau kakek akan datang istriku?" Aftar tidak mau mengalah.
"Sudah-sudah, kalian jangan berdebat," Lerai Sanjaya pada cucu dan cucu menantunya.
Aftar dan Kinan sama-sama diam, Kinan juga hanya menundukkan kepalanya.
"Aftar, Kinan, usia kakek semakin tua. Kalian kapan akan memberikan cicit pada kakek?" Tanya Sanjaya dengan serius.
Kinan dan Aftar saling menatap bingung.
"Aku saja baru menyatakan cinta pada Kinan, haruskah aku ajak dia langsung membuat adonan? Tapi apakah Kinan sudah siap?" Aftar bertanya pada hatinya.
"Kakek, sabar ya Aftar sedang berusaha membuat Kinan hamil." Jawab Aftar dengan nada lembut.
Kinan hanya diam.
"Haruskah, aku melakukan hubungan suami istri dengan Mas Aftar? Bukankah perjanjian kontrak itu sudah tidak ada." Batin Kinan dalam hatinya.
"Kinan, kamu sudah siap punya anak kan nak?" Sanjaya menatap Kinan dengan tatapan lembut.
"Emm.. sudah kek," Jawab Kinan ragu-ragu.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Tanya Aftar dengan nada jail.
"Mas, tentu saja aku yakin. Bukankah kita tujuan kita menikah agar punya keluarga kecil yang bahagia?" Jawab Kinan, tapi hatinya di liputi dengan keraguan.
"Kalian sering-seringlah menghabiskan waktu berdua biar cepat dapat momongan." Pinta Sanjaya dan di anggukin oleh Kinan dan Aftar secara bersamaan.
Kini mereka asik mengobrol sambil menonton televisi.
_____
Arga dan Vira.
Semakin hari hubungan Arga dan Vira semakin hangat dan Arga juga sudah bisa mengikhlaskan Kinan buat Aftar.
Kini mereka sedang duduk di taman belakang sambil menikmati teh yang di buat oleh Vira.
"Vira, boleh aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Arga dengan begitu hati-hati.
"Mau minta Ga?" Tanya Vira sambil melihat Arga.
"Vira, mulai sekarang panggil aku Sayang atau Mas Arga karena aku ini suamimu." Arga menatap Vira dengan tatapan serius.
"Iya mas katakan kamu mau minta apa?" Tanya Vira dengan gugup, rasanya masih canggung karena belum terbiasa memanggil Arga dengan sebutan mas.
"Aku ingin kita punya anak, apa kamu mau punya anak dariku?" Arga menatap Vira dengan tatapan ragu-ragu.
Vira terdiam dia masih tidak percaya dengan apa yang diminta oleh Arga.
"Apa mas serius?" Tanya Vira dengan begitu serius.
"Aku serius sayang, aku ingin punya keluarga yang lengkap. Aku janji aku tidak akan memikirkan Kinan lagi!" Arga memegang kedua pipi Vira dan menatap Vira dengan tatapan penuh cinta.
"Baiklah mas, aku mau jadi ibu dari anak-anak mas." Vira tersenyum dan Arga langsung membawa Vira masuk ke dalam pelukannya.
Akhirnya Arga merelakan Kinan untuk Aftar, lagian Arga juga yakin kalau Kinan tidak akan kembali lagi pada dirinya apalagi suami Kinan adalah Aftar Sanjaya seorang CEO kaya yang memiliki banyak perusahaan dan tentunya Aftar adalah pengusaha muda yang sukses.
Arga melepaskan Vira dari pelukannya. "Sayang, kamu juga tidak boleh menerima telpon dari kucing garong itu lagi," Arga menatap Vira dengan tatapan tajam.
"Namanya Farel, sayang." Ledek Vira dengan sengaja.
"Jangan sebut namanya lagi, kamu cukup sebut nama suami saja sayang Arga Dharmawan." Arga mengembangkan senyum termanisnya.
"Dasar suamiku bucin." Vira tertawa, Arga juga ikut tertawa.
Hari ini mata Arga menunjukkan kalau dirinya sudah benar-benar bisa menerima Vira sebagai istrinya. Arga juga terlihat bahagia bersama Vira.
Kembali ke Kinan dan Aftar.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 7 malam seperti malam-malam biasanya, keluarga Sanjaya sedang makan malam bersama dengan penuh cinta dan kehangatan.
"Kinan, makanlah yang banyak! Jaga kesehatanmu biar kamu cepat hamil nak." Sanajaya menaruh ayam goreng di piring Kinan.
"Iya sayang, kerja keras juga kan butuh tenaga." Sambung Aftar sambil tersenyum jail.
Dalam hati Kinan, maksudnya Mas Aftar apa? Memangnya kita mau kerja keras mengerjakan apa malam-malam seperti ini?
"Benar apa kata suamimu nak." Sanjaya setuju dengan perkataan Aftar.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, padahal dalam hatinya dia tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh suaminya dan kakeknya itu.
Setelah selesai makan malam, Sanjaya langsung pamitan masuk ke dalam kamarnya Aftar dan Kinan juga langsung masuk ke dalam kamar.
Di kamar Aftar dan Kinan.
Kinan baru saja keluar dari dalam kamar mandi dia sudah mandi dan memakai baju tidur lengan panjang.
Dan Aftar sudah menunggu di atas ranjang tempat tidurnya dengan baju tidur yang senada dengan milik Kinan, iya malam ini mereka memakai baju tidur cauple warna hijau muda.
Kinan tampak gugup dan merasa canggung, haruskah dia tidur satu ranjang dengan mantan suami kontraknya itu?
"Kemarilah!" Aftar menepuk tempat di sebelahnya agar Kinan duduk di sebelahnya.
Kinan berjalan menuju ke kasur jantungnya juga berdebar kencang.
Kini Kinan sudah duduk di tepi ranjang. "Aku tidur di sofa saja mas," Kinan tampak gugup membuat Aftar ingin tertawa.
Kinan hendak beranjak dari tempat duduknya tapi dengan cepat Aftar menahan tangan Kinan. "Tetaplah disini! Karena kita sudah bukan suami-istri kontrak lagi," cegah Aftar dan Kinan hanya menganggukkan kepalanya.
"Tidurlah!" Pinta Aftar dengan nada lembut.
Kinan membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Kinan tenanglah, tidak usah gerogi kamu tidur bersama suamimu sendiri bukan suami orang lain." Batin Kinan dalam hatinya.
Aftar juga membaringkan tubuhnya di sebelah Kinan.
"Tidak usah gerogi, aku tidak akan memakanmu malam ini." Bisik Aftar di telinga Kinan dengan jail.
"Mas, tidurlah! Jangan jail ih." Omel Kinan.
Tanpa meminta izin kepada Kinan, tiba-tiba Aftar memeluk Kinan dari belakang. "Mas," Lirih Kinan dengan nada lembut.
"Diamlah, aku hanya ingin memeluk mantan istri kontrakku!" Aftar mempererat pelukannya dan Kinan juga akhirnya membiarkan suaminya memeluknya.
Setelah perjanjian kontrak itu di robek oleh Aftar, akhirnya malam ini pertama kali mereka tidur bersama sebagai suami istri yang sudah sah.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊