Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Aku juga pingin dilamar


__ADS_3

"Mas, jawab!" Tatapan Kinan semakin sinis.


"Mas pernah......"


Aftar mau menjawab tampak ragu-ragu, apalagi hukumannya berat bisa-bisanya Aftar tidak bisa tidur nyenyak malam ini, itu yang ada Aftar pikirkan di otaknya.


"Mas jawab, ya sudah aku marah sama mas." Kinan merajuk manja, hatinya diselimuti rasa penasaran ingin tahu.


Aftar membenarkan posisinya menghadap ke Kinan, tatapan mata Kinan seolah-olah penuh rasa kesal dengan Aftar dan tentunya bendera perang pasti akan segera berkibar.


"Sayang jangan marah, iya mas katakan." Aftar menatap Kinan dengan tatapan merayu, tapi Kinan sudah memanyunkan bibirnya lima senti.


"Cepat katakan!!"


"Mas dulu pernah melamar Karin, mas pernah meminta Karin untuk menjadi istri mas," jelas Aftar dengan begitu hati-hati.


"Oh seperti itu." Jawab Kinan cuek.


"Sayang, tapi lamaran mas di tolak pada saat itu. Karin juga meninggalkan mas begitu saja," sambung Aftar berharap Kinan tidak marah padanya.


Dalam hati Kinan, Karin yang mantannya saja pernah di lamar. Lalu aku yang sekarang sudah menjadi mantan istri kontraknya dan statusku sekarang sudah menjadi istri sah tapi Mas Aftar tidak pernah melamar aku. Sungguh Mas Aftar keterlaluan, pokoknya aku males sama mas.


"Baiklah, sekarang mas mau tidur di sofa? Atau aku yang tidur di sofa?" Jawab Kinan, lirikan matanya terlihat malas.


"Sayang kan mas bilang jangan marah, mas mau tidur sama kamu!" Tolak Aftar, tentu saja dia mau tidur memeluk istrinya.


"Jika mas tidak menjawab, maka aku yang akan tidur di sofa, dasar suami tidak peka!" Kinan hendak turun dari tempat tidur, tapi tangannya Aftar sudah menahannya.


"Maksudnya, mas tidak peka bagaimana?" Tanya Aftar tapi Kinan malah menepis tangan suaminya dengan kasar.


"Mas pikir saja sendiri, aku mau tidur di sofa." Kinan menatap Aftar begitu dingin, Aftar diam sambil menghela nafas pelan.


"Tetaplah tidur di tempat tidur! Mas yang akan tidur di sofa." Aftar berlalu pergi membawa bantal dan selimut.


Sesampainya di sofa, Aftar membaringkan tubuhnya di atas sofa sana.


"Aku tidak peka, Kinan bilang aku tidak peka. Aku tidak pekanya bagaimana? Aku sudah menjadi suami yang baik dan perhatian, aku juga sering mengalah tapi dia bilang tidak peka," batin Aftar dalam hatinya.


Sambil berbaring Kinan memainkan ponselnya rasanya kesal sekali dengan suaminya.


"Dasar suamiku, aku ini istrinya waktu nikah kita menikah secara mendadak dia saja tidak pernah melamar aku, aturan mah kamu peka mas aku juga pingin di lamar biarpun kita sudah menikah," batin Kinan dalam hatinya.


"Simpanlah ponselmu, tidur sudah malam!" Kata Aftar agak ketus, Kinan buru-buru menaruh ponselnya di atas nakas dekat tempat tidurnya.


Kinan menyelimuti tubuhnya, lalu merubah posisi tidurnya agar tidak melihat suaminya yang sedang berbaring di atas sofa.

__ADS_1


Aftar gulang-guling tidak bisa tidur tanpa bantal guling bernyawanya itu, biasanya Aftar tidur memeluk Kinan seperti bantal guling, tapi malam ini Aftar hanya bisa gigit jari.


"Untung semalam sudah dapat jatah, coba kalau belum pasti adik kecilku sudah meronta-ronta tidak tahan," gumam Aftar dalam hatinya.


Malam menunjukkan pukul 2 malam, Kinan sudah tidur nyenyak. Tapi Aftar masih terjaga karena dia tidak bisa tidur sampai sekarang.


Pagi yang cerah akhirnya datang, Kinan membuka matanya dia melihat Aftar masih berbaring di sofa sambil memainkan ponsel miliknya.


"Apa dia tidak tidur semalaman?" Kinan hanya menggeleng pelan. Biarkan saja lagian Aftar sudah membuat dirinya kesal.


"Sayang, kamu masih marah?" Tanya Aftar tapi Kinan tidak menjawab.


"Dia masih marah, kalau istri sudah merajuk aku pusing jadinya." Batin Aftar dalam hatinya.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Sanjaya masih di kamarnya. Aftar dan Kinan juga masih di kamar mereka.


"Mas, berangkat kerja ya sayang. Katakan kamu mau di belikan apa?"


"Aku tidak mau, suamiku tidak peka!"


Aftar menghela nafas dalam-dalam, lagi-lagi Kinan bilang kalau dirinya ini tidak peka.


"Dasar tidak jelas, suamimu ini laki-laki terbaik masih dibilang tidak peka," gumam Aftar dalam hatinya.


Aftar berlalu pergi keluar dari kamarnya, dia tidak mau melanjutkan perdebatannya dengan wanita kesayangannya itu.


____


Sesampainya di kantor, Aftar langsung menuju ke ruangan Vino. Seperti biasa Aftar tidak mengetuk pintu ruangan Vino lebih dulu.


Di ambang pintu Aftar melihat Vino senyam-senyum sendiri sambil memandangi kotak kecil yang berisi cincin berlian.


"Aku akan melamar kamu Caca." Wajah Vino terlihat sumringah, seperti dapat asupan gizi.


"Pikirkan lagi kalau mau menikah!" Aftar duduk di kursi yang terhalang dengan meja kerja Vino, tangannya di lipat ke dada.


Vino mencerna perkataan Aftar, sungguh menurut Vino bosnya itu sangat tidak jelas. Kemarin di suruh menikah, katanya tidak boleh pacaran terlalu lama tapi sekarang beda lagi perkataannya.


"Memangnya kenapa bos? Bukannya, kata bos kalau menikah itu bahagia?"


"Wanita itu sering merajuk tidak jelas, mood mereka seperti pantat bayi sensitif sekali."


Vino mengerti, pasti bosnya ini sedang berdebat dengan istri kesayangannya itu.


"Dasar Pak Aftar labil, kalau bucin saja cengar-cengir mulu," gumam Vino dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa Nona Kinan seperti itu?" Vino mulai memancing pembicaraan.


"Iya Vin, semalam saja tiba-tiba merajuk bahkan dia bilang aku tidak peka. Aku tidak peka dalam hal apa?"


Aftar menatap Vino, seolah-olah meminta bantuan jawaban dari Vino.


"Mungkin bapak buat salah."


Aftar terdiam dia mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah dia lakukan pada istrinya itu?


"Aku hanya bilang aku pernah melamar Karin, dan kamu juga tahu kan Vin lamaran itu di tolak oleh Karin. Tapi Kinan malah tiba-tiba merajuk, dia terus bilang aku tidak peka, pagi ini pun dia mengatakan hal yang sama." Wajah Aftar terlihat begitu frustasi, sungguh dia paling galau kalau istrinya sedang merajuk.


Vino ingin sekali tertawa, okelah masalah kerjaan Aftar itu tidak di ragukan lagi. Tapi kalau dalam hal wanita Aftar itu terlalu payah dan bodoh dalam masalah cinta.


"Bos keceplosan?" Vino masih menahan tawanya.


"Iya, gara-gara mulutku ini main asal jeplak saja, sekarang aku yang pusing." Aftar tidak tahu lagi harus bagaimana? Mungkin nanti malam dia harus tidur di sofa lagi.


"Bos, apa sebelumnya bos sudah melamar Nona Kinan?"


"Iya wajar bos, dulukan awal menikah secara kontrak. Bos juga awalnya tidak suka....."


"Sudah jangan di lanjutkan! Yang jelas saat ini, aku sangat mencintai istriku!"


Vino mengangguk pelan, pokoknya bosnya itu paling benar dalam hal apapun dan tentunya tidak mau di salahkan.


"Baiklah bos, mungkin Nona Kinan juga pingin merasakan di lamar sama bos." Kata Vino, sambil menunjukkan cincin berlian yang dia beli untuk Caca. "Pakai ini, coba saja bos!"


Aftar terdiam sejenak, dia tampak berpikir apakah istrinya merajuk gara-gara dia tidak di lamar? Tapikan kita sudah menikah, pikirkan Aftar.


"Vin, aku dan dia sudah menikah bahkan kita sudah mau punya ekor. Haruskah aku melamar nya?" Aftar terlihat bingung, dia juga takut salah lagi.


"Di coba saja pak, wanita itu suka dengan kejutan!" tutur Vino, dengan gaya sok bijak.


"Baiklah, sekarang antar aku membeli cincin berlian!" Ajak Aftar dan mereka berdua langsung pergi menuju ke mall.


Di perjalanan menuju ke mall, Vino terus memandangi cincin yang mau buat melamar Caca.


"Malam ini kita lamar wanita-wanita kita," kata Vino dengan begitu semangat.


Entahlah akan seperti apa lamaran mereka nanti malam?


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😘

__ADS_1


__ADS_2