
"Arga...." Vira terkejut.
"Rasyah siapa?" Arga mengulangi pertanyaannya dengan tatapan garang.
"Apa kamu berani menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangku?" Tanya Arga dengan tegas.
Vira terdiam, tidak biasanya Arga bertanya dengan Vira dengan tegas dan tatapan penuh dengan arti.
"Vira jawab! Rasyah siapa?" Tanya Arga untuk kesekian kalinya.
Vira menarik nafasnya dengan pelan, lalu menghembuskan dengan pelan. Matanya tertuju pada Arga yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya duduk.
"Rasyah adalah laki-laki yang aku cintai selama ini." Jawab Vira dengan jujur, tatapan Arga menjadi begitu buas "Apa, kamu masih menjalin hubungan dengan laki-laki itu?" Tanya Arga hatinya sudah di kuasai dengan amarah.
"Haruskah, aku memberitahukan padamu?" Tanya Vira dengan begitu cuek.
"Untuk apa bertanya-tanya, lagian kamu juga tidak pernah menanggap aku sebagai istrimu." Batin Vira dalam hatinya.
"Apa, kamu sedang melawanku?" Tanya Arga dengan nada agak menyentak.
"Ada baiknya, kita tidak usah saling tahu masalah pribadi kita masing-masing, anggap saja pernikahan kita hanya di atas kertas!" Tegas Vira yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Vira berjalan meninggalkan Arga begitu saja dengan pakaian yang basah kuyup karena terkena air hujan, Vira kembali melangkahkan kakinya dengan pelan.
"Terimakasih, biarpun hanya bayanganmu yang datang. Tapi hatiku sudah sangat bahagia aku sangat mencintaimu Rasyah." Batin Vira dalam hatinya.
Arga berdecak kesal, dia buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengejar Vira dengan cepat.
"Berani sekali dia tidak menjawab pertanyaanku." Arga marah-marah sambil berjalan.
Arga tiba-tiba menarik tangan Vira, membuat Vira menghentikan langkah kakinya dengan malas "Ada apalagi?" Tanya Vira dengan nada ketus.
Arga melepaskan jas yang dirinya pakai, lalu memakaikannya pada Vira "Pakailah ini, ayo pulang nanti kamu sakit!" Arga langsung membopong tubuh mungil Vira untuk menuju ke mobil.
Vira meronta-ronta "Arga, turunkan aku!" Vira terus meronta-ronta.
"Diamlah, aku tidak mau kamu sampai pingsan!" Arga melirik Vira dengan lirikan tajam, seketika Vira diam dan membiarkan Arga mengendongnya sampai di mobil.
Sesampainya di mobil, Arga langsung membuka pintu mobilnya dan menaruh Vira di jok depan, setelah menaruh Vira, Arga langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya lalu segera menuju pulang ke rumah.
Aftar dan Kinan.
Kinan dan Aftar sudah sampai di hotel.
Aftar sedang duduk di sofa sambil menunggu Kinan yang sedang mandi.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, akhirnya Kinan keluar dari dalam kamar mandi dengan baju tidur. Kinan berjalan hati-hati dia melihat Aftar sedang duduk sambil menonton televisi.
"Kenapa hanya berdiri? Duduklah!" Aftar melihat Kinan yang hanya berdiri dari tadi.
Dengan perasaan deg-deggan dan tubuh gemetaran Kinan duduk di sofa dengan hati-hati.
Suasana terasa hening seketika, Kinan juga bingung dia harus apa?
"Aku harus bagaimana? Sungguh, pernikahan yang menyedihkan." Batin Kinan dalam hatinya.
Tiba-tiba ponsel Aftar berbunyi dan ternyata Sanjaya menelpon Aftar melalui video call. Buru-buru Aftar berpindah tempat duduk ke sebelah Kinan, Kinan menatap Aftar dengan tatapan penuh tanda tanya? "Kamu mau apa?" Tanya Kinan dengan gugup.
"Jangan berpikiran mesum! Kakek menelpon kita, jadi saatnya kita berakting!" Kata Aftar dan Kinan menganggukkan kepalanya.
Aftar langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu mengarahkan videonya ke dirinya dan Kinan yang sedang duduk bersama.
Sanjaya tersenyum bahagia melihat cucu dan istrinya terlihat begitu akur dan sangat manis.
"Hay kakek." Sapa Kinan sambil tersenyum.
"Cucu kakek, kamu jangan capek-capek ya! Biar kamu cepat kasih cicit buat kakek." Kata Sanjaya dia terus tersenyum melihat Kinan.
Kinan tiba-tiba menginjak kaki Aftar, membuat Aftar meringis kesakitan "Apa, yang kamu lakukan?" Tanya Aftar dengan suara lirih.
"Aftar, bersikaplah manis pada istrimu! Jika sampai kakek tahu, kamu menyakiti hati Kinan maka kakek akan menjewer telingamu!" Ancam Sanjaya dengan tegas.
"Mas...." Kata-kata Kinan terpotong.
"Sayang, aku hanya ingin menunjukkan pada kakek kalau kita itu saling mencintai satu sama lain." Aftar memotong perkataan Kinan sambil tersenyum kesal pada Kinan.
"Kinan, tidak usah malu-malu di depan kakek pokoknya kalian yang rukun ya nak!" Sanjaya tersenyum bahagia, lalu mematikan saluran teleponnya.
Sanjaya menaruh ponselnya di atas nakas dekat tempat tidurnya, dia sungguh bahagia melihat Kinan dan Aftar tampak mesra.
"Cucu-cucuku, mudah-mudahan kalian bahagia selalu." Doa Sanjaya dengan penuh harap.
Aftar dan Kinan.
Kinan melirik Aftar dengan tatapan penuh amarah, lalu mendorong tubuh Aftar agar menjauh dari dirinya "Jangan cari kesempatan kamu mas!" Omel Kinan, tapi Aftar malah menjulurkan lidahnya "Siapa yang mencari kesempatan? Kamu kan tahu tadi ada Kakek." Jawab Aftar dan dia berjalan ke arah ranjang tempat tidurnya.
Aftar membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, Kinan sungguh semakin geram.
"Apa dia menyuruhku tidur di sofa? Enak sekali dia tidur di atas kasur. Ini tidak bisa di biarkan!" Batin Kinan dalam hatinya.
Kinan beranjak dari tempat duduknya, dia langsung berjalan menuju ke tempat tidur.
__ADS_1
Aftar melihat Kinan "Kenapa?" Tanya Aftar dengan begitu cuek.
"Aku mau tidur!" Jawab Kinan dengan jutek.
"Gadis jutek, kalau kamu mau tidur ya tidur saja di sofa!" Aftar menarik selimutnya dan mengabaikan Kinan begitu saja.
Kinan melihat Aftar dengan tatapan tidak suka, sungguh bisa-bisanya Aftar malah menyuruh dirinya tidur di sofa.
Kinan menarik Aftar "Kamu yang tidur di sofa! Aku kan wanita," rengkek Kinan dengan begitu marah.
Aftar merasa kesal, dia membenarkan posisinya menjadi duduk "Kamu kan bisa tidur di sebelahku! Aku tidak akan menyentuh dirimu tenang saja!" Jawab Aftar dengan nada meyakinkan.
"Aku tidak percaya, pokoknya aku mau tidur di kasur! Kalau kamu tidak mau tidur di sofa, aku akan telpon kakek sekarang!" Ancam Kinan sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aftar yang sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Akhirnya Aftar mengalah dan dia berpindah tidur ke sofa.
"Kamu tidurlah, jangan berisik sudah malam!" Aftar berlalu pergi membawa bantal dan selimut ke sofa.
Setelah Aftar pindah ke sofa, Kinan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan begitu bahagia.
Sedangkan Aftar yang tidur di sofa, merasa sangat tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi? Ini semua karena salah satu perjanjian dalam pernikahan kontraknya.
Kinan tidur dengan nyenyak sedangkan Aftar hanya gulang-guling tidak bisa tidur, mata Aftar tertuju pada Kinan yang sudah tidur nyenyak.
"Dia sebenarnya sangat cantik tapi sayangnya jutek." Aftar tersenyum dalam hatinya.
Arga dan Vira.
Arga dan Vira sudah sampai di rumah, mereka juga sudah mandi dan kini sudah sama-sama berbaring di atas kasur.
"Hacimmmmmm....." Vira bersin-bersin.
"Berbaringlah, pakai selimutnya aku pergi dulu!" Kata Arga dan dia langsung berlalu pergi dari kamarnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Vira dengan suara agak sesak.
Arga tidak menjawab pertanyaan dari Vira dan dia berlalu pergi begitu saja dari dalam kamarnya.
Setelah Arga pergi dari dalam kamarnya. Vira hanya diam saja.
"Mungkin dia mau pergi mabuk-mabukan atau menemui wanita lain diluar sana." Batin Vira dalam hatinya.
Ntahlah, Arga itu mau kemana?
BERSAMBUNG π
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setiaπ
Kakak-kakak semuanya, Authornya sedang jalan-jalan takut gak ada sinyal jadi Author kasih tau dulu, kalau Author tidak update berati tidak ada sinyal ya semuanya π