
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Kinan dan Aftar sudah berada di meja makan menunggu Sanjaya keluar dari kamarnya.
"Kakek, kok belum keluar dari kamar ya?" Mata Kinan melihat ke arah pintu kamar Sanjaya yang letaknya tidak jauh dari ruang makan. "Pintu, kamar kakek juga masih tertutup rapat. Mas kamu cek kakek sana!" Kinan terlihat begitu kawatir, dia takut sang kakek kenapa-kenapa.
Aftar juga terlihat kawatir, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke kamar Sanjaya.
"Tok...tok...tok..."
Aftar terus mengetuk pintu kamar sang kakek, dengan malas Sanjaya membuka selimut yang masih menyelimuti tubuhnya yang sudah mulai rapuh karena usianya sudah tidak muda lagi.
"Siapa?" Tanya Sanjaya dari dalam kamar.
"Ini Aftar kek," jawab Aftar yang masih berdiri di depan pintu menunggu kakeknya membuka kan pintunya.
"Ceklek." Sanjaya membuka pintu kamarnya. "Kamu menganggu tidur kakek saja," Sanjaya mengomeli Aftar.
Sanjaya terlihat masih mengantuk, mungkin karena kelelahan gara-gara hari ini ada acara 7 bulanan Kinan.
"Kakek, bangun makan malam dulu! Itu Kinan sudah menunggu kakek di meja makan," Aftar tersenyum simpul. Rasanya Sanjaya ingin sekali menjewer telinga cucunya ini diomelin malah bisa tersenyum seperti sekarang ini.
"Iya iya, kakek cuci muka dulu!" Sanjaya berlalu masuk ke dalam kamar sedangkan Aftar kembali ke meja makan.
Aftar kembali mendaratkan p*ntatnya di kursi meja makan lagi. "Mana, kakek mas?" Tanya Kinan karena melihat suaminya hanya sendiri kembali ke meja makan.
"Masih di kamar, katanya mau cuci muka. Kita tunggu saja sayang! Kamu masih kuat kan menahan rasa lapar ? Anak kita juga tidak menendang-mendang perut kamu?" Aftar terus mengelus-elus perut Kinan dengan tangannya. "Sabar ya nak! Kakek buyutmu itu, baru bangun tidur." tutur Aftar sambil terus mengelus perut Kinan.
Kinan tersenyum, terdengar suara langkah kaki dan ternyata itu suara langkah kaki sang kakek. Sanjaya berjalan menuju meja makan sambil membawa paper-bag di tangannya.
"Kakek, duduklah!" Aftar menarik satu kursi lalu Sanjaya duduk.
Kinan mengambilkan makanan untuk suaminya dan kakeknya. Dengan raut wajah yang begitu adem kini Kinan melayani suaminya dan kakeknya dengan begitu baik.
"Makanlah kek," Kinan menaruh piring yang berisi makanan di hadapan Sanjaya. Dan Sanjaya tersenyum lalu mengangguk pelan. "Terimakasih cucuku," kata Sanjaya.
"Sama-sama kek, Mas kamu juga makanlah!" Jawab Kinan sambil menaruh makanan yang ada di piring di hadapan Aftar.
__ADS_1
Kinan juga sudah mengambil makanan untuk dirinya sendiri, kini mereka menikmati makan malam, malam ini dengan begitu hangat.
Setelah selesai makan malam, mereka semua duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Kinan duduk di sebelah Aftar dengan posisi kepala bersandar di bahu suaminya.
"Kamu tidak lelah? Kita istirahat yuk!" kata Aftar, dia takut istrinya akan kelelahan dan bayinya kenapa-kenapa.
"Iya nak istirahatlah, oh iya ini kado dari kakek mudah-mudahan kamu suka ya." Sanjaya memberikan paper-bag yang ada di tangan dirinya pada Kinan.
Dengan bahagia, Kinan menerima hadiah dari sang kakek. "Terimakasih ya kek," kata Kinan dengan senyum bahagia di sudut bibirnya.
Sanjaya menganggukkan kepalanya. "Kakek ke kamar dulu ya, kamu juga istirahatlah!" Pamit Sanjaya dan berlalu pergi menuju ke kamar.
Kinan dan Aftar juga masuk ke dalam kamar, sesampainya di kamar. Dengan rasa penasaran yang begitu dalam, Kinan membuka kado dari kakeknya. "Apa ya isinya?" Tanya Kinan pada dirinya sendiri.
Kinan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paper-bag tersebut dan membukanya dengan hati-hati. "Wahh, indah sekali." Kinan ternganga melihat set perhiasan yang begitu indah.
"Mas, ini cantik sekali......" Kata Kinan, Aftar mengambil kotak perhiasan itu dari tangan Kinan. "Wahh kakek, aturan aku juga harus di beliin mobil keluaran terbaru," rajuk Aftar. Dia merasa iri karena istrinya mendapatkan set perhiasan dari sang kakek.
Kinan mendengus pelan, sungguh suaminya ini ada-ada saja. "Mas, kakek itu sudah tua kamu jangan macam-macam deh!" Kinan mengomeli suaminya.
Kinan terlalu pusing mengurusi suaminya yang malam ini begitu bawel, Kinan malah merebahkan tubuhnya dan dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kok malah tidur?" Tanya Aftar, dia berjalan lalu duduk di samping Kinan berbaring.
"Aku ngantuk mas, lagian mas ngoceh mulu seperti burung beo saja." Jawab Kinan malas.
Apa-apaan Kinan ini? Suaminya sedang berbicara malah di tinggal tidur. Rasanya aku ingin sekali memakanmu, tapi janganlah kasian dia seharian ini sudah kelelahan karena acara 7 bulanan.
"Kan mas sedang bercerita sayang," tandas Aftar tapi Kinan malah memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk.
Aftar mendengus kesal, lalu dia berbaring di sebelah Kinan.
"Istriku, kamu sangat cantik. Entahlah kenapa aku dulu bisa-bisanya membuat perjanjian konyol denganmu? Tapi pada akhirnya aku duluan yang menyukaimu," Aftar tertawa dalam hatinya.
Karena Kinan tidur, Aftar juga akhirnya tertidur pulas.
__ADS_1
*****
Pagi menunjukkan pukul 7, seorang wanita cantik sudah berdiri di depan kantor Sanjaya Group. Siapa lagi, kalau bukan Anya? Iya dia sengaja datang pagi-pagi sekali untuk bertemu dengan Vino.
Tatapan Anya terlihat sangat kesal, melihat Caca sedang berjalan menuju ke tempat dia berdiri. Iyalah kan Caca memang kerja di kantor Sanjaya Group.
"Hey, gadis kampungan!" Seru Anya, Caca menghentikan langkah kakinya lalu monoleh ke sumber suara. "Aku punya nama," sahut Caca dengan tatapan sengit.
Mata Anya seketika menyalakan api perang pada Caca, tapi Caca sangat santai dalam menghadapi ulat bulu ini.
"Aku akan membasmimu, lihat saja!" Batin Caca dalam hatinya.
"Tidak penting siapa namamu? Yang aku tahu Vino itu terlalu b*doh, memilih kamu sebagai kekasihnya." Kata Anya dengan sombongnya.
"Lalu kamu mau apa? Jika Vino memilihku, bukankah itu hal yang bagus? Setidaknya biarpun aku kampungan, aku masih punya etika," jawab Caca sambil tersenyum simpul.
"Tentu saja aku merebut Vino darimu!" Anya menatap Caca dengan tatapan sengit.
"Lakukan saja! Jika Vino tertarik padamu, itu tandanya Vino tidak pantas aku pertahankan tapi jika Vino tidak tertarik padamu, maka dia akan tetap bersamaku." Jawab Caca, lagi-lagi sikapnya begitu santai.
Betapa geramnya Anya mendengar jawaban Caca, menurut Anya. Caca sangat sombong.
"Baiklah, aku akan buat Vino meninggalmu." Anya tertawa dalam hatinya.
"Lihat saja nanti!" Tegas Anya.
"Lakukan apamu saja, aku tidak perduli. Sudah aku mau kerja. Ingat ya aku bukan gadis yang muda di tindas, jadi kamu jangan macam-macam padaku!" Bisik Caca di telinga Anya, lalu Caca berlalu pergi begitu saja.
Setelah beberapa lama Caca berlalu masuk ke dalam kantor, tiba-tiba Vino datang. Anya yang tadinya memasang wajah kesal seketika wajahnya berubah menjadi sangat manis dan kalem.
"Anya, kamu sedang apa disini?" Tanya Vino pada Anya.
"Aku....."
BERSAMBUNG 🤗
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊