Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Burung sambal balado


__ADS_3

Malam hari menunjukkan pukul 9 malam, malam ini Kenzo juga mengajak Melly untuk pulang ke rumah mamanya karena Kalandra terus menelpon dan mengajaknya main PS berdua, alhasil Kenzo setuju lagian jenuh juga hanya di sibukkan dengan pekerjaan setiap hari.


Malam ini Kalandra, Kenzo dan Aftar asik bermain PS, disini Aftar hanya menonton kedua sang putra yang sedang bertanding main balapan mobil itu.


Sedangkan Kinan dan kedua menantunya habis selesai makan malam mereka dengan kompak membereskan piring-piring kotor, mereka saling membantu dan bekerja sama karena Art juga sedang cutti pulang kampung.


Setelah selesai semuanya mereka memilih merumpi di kamar Kinan.


"Kimmy, Melly, besok mama buat dan mama-mama kalian mau membuat kejutan untuk papa-papa kalian," celoteh Kinan membuat Melly dan Kimmy sama-sama penasaran.


"Kejutannya apa ma? Mereka kan tidak sedang ulang tahun?" tanya Kimmy bingung.


"Iya ma, Mama Caca juga tidak bilang mau memberikan kejutan apa untuk papa?" Melly juga terlihat bingung.


Kinan tersenyum senang, ini memang sudah rencana dirinya, Caca dan Vira.


"Kalian tahu, setiap hari papa-papa kalian itu sibuk dengan burung-burung peliharaan mereka dan itu membuat Mama, Mama Caca dan Mama Vira itu sangat kesal, akhirnya mama putuskan untuk melepaskan burung-burung papa-papa kalian dari dalam sangkarnya," ujar Kinan dengan begitu semangat.


"Dan mama-mama kalian juga setuju," sambung Kinan.


Kimmy dan Melly sama-sama tertawa, ternyata para emak-emak ini juga bisa kesal dengan hobby-hobby suami-suami mereka.


"Kita juga setuju ma.'' Jawab Kimmy dan Melly dengan kompak.


Kini malam semakin larut, Kalandra dan Kenzo juga sudah lelah bermain PS berdua, Aftar juga sudah mengajak Kinan untuk tidur.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk segera istirahat.


"Rasa tidak sabar ingin menunggu pagi, kira-kira besok burung peliharaannya Mas Aftar aku goreng atau aku lepaskan saja ya? Tapi kalau di goreng kasian, ada baiknya aku lepaskan sajalah biar dia bisa hidup bebas," batin Kinan dalam hatinya.


Sesampainya di kamar Kinan membaringkan tubuhnya di atas kasur, Aftar juga melakukan hal yang sama.


Dengan mesra Aftar memeluk Kinan. "Sayang, rasanya aku pingin kembali menjadi muda lagi, aku juga pingin kita punya ank lagi," bisik Aftar seketika Kinan langsung mendorong tubuh suaminya lalu menatap suaminya sambil geleng-geleng kepala.


"Mas, kamu ini ya, kita sudah mau punya cucu, haruskah kita punya anak lagi? Jangan seperti itu, kamu itu ada-ada saja." Kinan mengomeli suaminya, lagian usia sudah tidak muda lagi masih pingin punya anak lagi.


"Apa salahnya sayang?" tanya Aftar, membuat Kinan terlihat semakin kesal.


"Tidurlah mas! Sudah jangan aneh-aneh, besok aku punya kejutan buat kamu," pinta Kinan dan dia memilih tidur membelakangi suaminya.


Aftar mengangguk, dia akhirnya ikut tidur tapi tetap memeluk Kinan dari belakang dengan begitu mesra, Kinan juga membiarkan hal itu daripada suaminya minta buat anak lagi, kan tidak lucu, apalagi usia mereka juga semakin tua.


Melly dan Kenzo masih terjaga, kali ini Melly begitu nyaman di pelukan Kenzo.


"Mas, kepalaku sedikit pusing, bisakah mas pijitin kepala aku?" tanya Melly.


"Bangunlah sayang, aku pijitin kepalanya." Jawab Kenzo, Melly langsung bangun dari pelukannya Kenzo.


Kini Melly sudah duduk dan Kenzo juga duduk di belakang Melly sambil memijat kepala Melly dengan lembut.


"Iya mas terus, rasanya enak sekali mas."

__ADS_1


"Besok aku harus cek darah mas, aku akhir-akhir ini merasakan pusing sama suka tiba-tiba lemas."


Keluh Melly pada suaminya, Kenzo terlihat kawatir dia takut istrinya kenapa-kenapa.


"Iya besok kita periksa sayang," jawab Kenzo sambil terus memijat kepala Melly.


Akhirnya setelah beberapa lama, Melly merasa enakan dan kembali berbaring, Kenzo juga kembali berbaring sambil memeluk Melly.


*****


Pagi yang begitu cerah akhirnya datang juga, Kinan langsung bangun dari tidurnya, tanpa pergi mandi terlebih dahulu dia langsung pergi menuju ke taman halaman belakang.


"Maaf mas, aku kesal kalau kamu terlalu memanjakan burung peliharaannya kamu ini."


"Jadi aku terpaksa melepaskan dia."


"Aku juga tidak mau kalau cinta aku di bagi dua apalagi dengan seekor burung."


Caca yang sudah berada di halaman belakang juga, dia melihat Kinan.


"Kinan...." panggil Caca.


"Kak Caca...." Kinan menoleh, dia mengambil sangkar burung itu lalu membawa ke tembok yang membatasi rumah Caca dan dirinya.


"Kamu sudah siap?" tanya Caca, dia juga sudah mengambil sarang burung milik Vino.


"Siap dong kak, ayo kita lepaskan saingan kita ini kak!" ajak Kinan dengan begitu semangat.


"1,2,3 lepaskan!!"


Kinan dan Caca sama-sama membuka sangkar burung itu, lalu mereka melepaskan kedua burung-burung itu dengan senang hati.


"Selamat jalan burung kesayangan Mas Aftar."


"Kamu bahagia ya di luaran sana!"


Doa Kinan mengiringi kepergian burung yang sudah terbang bebas itu.


"Ayo Kin, kita masuk!"


"Keburu suami-suami kita bangun, nanti ngamuk mereka."


Kinan dan Caca buru-buru masuk ke dalam rumah mereka, mereka juga langsung kembali ke dalam kamar dan berbaring di samping suami-suami mereka lagi.


Pagi ini Vira melakukan hal yang berbeda dengan Kinan dan Caca, karena Vira malah menggoreng buru peliharaan Arga.


"Biarkan saja Mas Arga makan burung peliharaannya sendiri, lagian apa-apa selalu burung dan istri sering sekali dicuekin," gerutu Vira dalam hatinya.


Jika Arga tahu entah akan seperti apa reaksi Arga? Apalagi itu burung harganya puluhan juta rupiah, tapi apalah daya kalau istri sudah mulai cemburu ya apa saja istri akan lakukan dan tidak perduli juga seberapa mahal harga burung itu?


Setelah selesai membuat burung itu menjadi burung sambal balado, Vira langsung menata makanan itu di atas meja makan.

__ADS_1


Arga yang sudah bangun, dia juga sudah mandi dan sudah rapi dengan kaos oblong dan celana panjang, dia langsung keluar dari dalam kamar nya.


Vira tersenyum begitu hangat, dia menyambut suaminya dengan sambutan hangat juga.


"Mas, kamu sudah bangun." Vira langsung memeluk suaminya, bahkan Vira memberikan ciuman untuk suaminya membuat Arga kaget.


"Tumben Vira romantis sekali, ada angin apa?" batin Arga dalam hatinya.


"Sudah sayang, kamu masak apa? Baunya enak sekali, aku jadi lapar." Arga menarik kursi meja makan, lalu dia duduk.


Vira kembali tersenyum, membuat Arga semakin bingung menatapnya.


"Mas, aku masak enak pagi ini, kamu harus mencobanya ya mas!" jawab Vira dan Arga mengangguk.


Vira mengambilkan nasi dan burung sambal balado itu, lalu Vira memberikannya pada Arga.


Arga tersenyum senang, lalu dia menikmati sarapannya pagi ini dengan begitu nikmat.


"Maaf mas, aku jahat, tapi aku juga marah karena mas lebih sayang sama burung peliharaan mas itu daripada aku, jadi terpaksa aku menggorengnya," batin Vira dalam hatinya.


"Ini enak banget sayang..."


"Mas nambah dong nasinya!"


Arga begitu lahap, bahkan dia sampai meminta nambah. Dia juga tidak menaruh rasa curiga sedikit saja pada istrinya itu.


"Iya mas, makan yang banyak." Vira kembali mengambilkan nasi untuk Arga.


Arga kembali menyantap nasinya dengan lahap, sungguh pagi ini Arga makan begitu kalap dan sangat lahap.


"Sayang, ini daging apa yang kamu masak? Rasanya enak sekali," tanya Arga masih menikmati makanannya dengan lahap.


Vira terdiam, dia berpikir haruskah dia bicara jujur?


"Mas itu daging burung." Jawab Vira dengan nada lembut.


Seketika Arga langsung tersedak, Vira langsung memberikan satu gelas air putih pada Arga.


"Mas minum dulu!" Suruh Vira, Arga menerima gelas yang di sodorkan oleh Vira dia meminum air itu.


Setelah minum, Arga menatap Vira dengan tatapan begitu garang.


"Kamu bilang apa? Daging burung, burung siapa sayang?" tanya Arga, dia yang tadinya makan begitu lahap seketika memandangi piring itu yang kini tinggal sisa nasi sedikit.


"Itu, burung peliharaan milik mas...." jawab Vira, terlihat begitu takut.


"Kamu bilang apa sayang?" Arga kembali bertanya.


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2