
"Pak Sanjaya, beliau....." Bi Ijah menangis, dia tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa bi, dengan kakek?" Tanya Kinan dan Aftar.
Akhirnya Bi Ijah langsung mengajak Kinan dan Aftar ke kamar Sanjaya.
Sesampainya di kamar Sanjaya, Kinan dan Aftar melihat Sanjaya sudah memejamkan matanya dan bibirnya sudah terlihat pucat.
"Kakek kenapa bi?" Tanya Kinan, Aftar langsung mengecek denyut nadi kakeknya.
"Sayang, kakek sudah tidak nafas." Kata Aftar, matanya terlihat berkaca-kaca.
Kinan merasa sangat lemas, rasanya tidak percaya dan tidak rela. "Kakek, papa kita bawa kakek ke rumah sakit!" Kata Kinan yang kini sudah meneteskan air matanya.
Kenzo dan Kalandra masuk ke dalam kamar Sanjaya, mereka melihat mamanya begitu lemas, Kenzo dan Kalandra sama-sama berlari memeluk mamanya.
"Mama kenapa?" Tanya Kenzo dan Kalandra secara bersamaan, tapi Kinan hanya menangis.
"Papa besar sudah tidak ada," sahut Aftar membuat Kenzo dan Kalandra akhirnya sama-sama menangis.
"Pa, kita bawa ke rumah sakit sekarang! Kita harus memeriksanya!" Pinta Kenzo dan dia langsung menelpon ambulan.
Sanjaya langsung di bawa ke rumah sakit, Kinan dan Aftar ikut di ambulan sedangkan Kenzo dan Kalandra naik mobil berdua.
Setelah sampai di rumah sakit, Sanjaya langsung di periksa oleh dokter untuk memastikan apakah benar Sanjaya sudah tidak ada?
__ADS_1
Kinan, Aftar, Kenzo dan Kalandra menunggu di ruang tunggu, setelah beberapa lama dokter keluar dan langsung menemui Aftar.
"Bagaimana dok?" Tanya Aftar pada sang dokter.
Dokter yang memeriksa Sanjaya adalah dokter pribadi Sanjaya.
"Pak Sanjaya, sudah tidak ada. Beliau sudah meninggal," jawab sang dokter dan akhirnya tangis Kinan, Kenzo dan Kalandra pecah.
"Mama, papa besar ma...." Kenzo menangis, sungguh dia sangat kehilangan sang buyut yang selama ini sangat menyayangi dirinya.
"Papa besar, kenapa papa besar pergi meninggalkan Kalan. Katanya Papa besar, mau melihat istri Kalandra nanti," sambung Kalandra dia menangis, dia juga tidak kalah merasa kehilangan sang buyut yang selama ini juga menyayanginya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Sanjaya di bawa pulang ke rumah untuk segera di makam kan.
Di rumah sudah ada keluarga besar dan Sanjaya akan langsung di makamkan hari ini.
"Kakak, papa besar. Kenapa papa besar pergi meninggalkan kita?" Tanya Melly yang diiringi dengan isak tangis, Kenzo yang juga tak kuat menahan air mata, kini dia hanya bisa diam sambil menenangkan Melly.
Hari ini keluarga Sanjaya berduka, Sanjaya yang selama ini sudah menjadi kakek sekaligus orang tua untuk Kinan dan Aftar, rasanya sedih sekali di tinggalkan oleh Sanjaya untuk selamanya.
Vino dan Caca juga menangis, apalagi selama ini mereka sudah di anggap seperti cucu sendiri oleh Sanjaya.
Setelah jenazah siap dan mereka semua pergi mengantarkan ke peristirahatan terakhir untuk Sanjaya.
Kinan terus menangis, Melly, Herlin dan Caca mereka juga menangis, Aftar, Kenzo, Kalandra dan Vino mereka langsung turun tangan untuk menguburkan jenazah Sanjaya.
__ADS_1
Mereka berempat yang tadinya menangis, kini mereka harus kuat untuk menguburkan jenazah orang mereka selama ini hormati.
Kini akhirnya Sanjaya selesai di makamkan. Semua keluarga pulang, tapi tangis Kinan belum berhenti sungguh dia sangat kehilangan sang kakek yang selama ini menyayangi dirinya.
Setelah beberapa jam berlalu, Kinan, Aftar, Caca, Vino, Kenzo, Kalandra dan Melly, mereka duduk di sofa ruang keluarga. Mereka masih bersedih dengan kepergian Sanjaya, apalagi beliau adalah orang yang mereka sayangi.
Kenzo beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju ke kamar sang buyut. Tiba-tiba air matanya kembali menetes.
"Papa besar, belum sempat papa besar melihat calon istriku, tapi papa sudah pergi untuk selamanya." Kenzo duduk di tepi ranjang Sanjaya, dia mengambil foto yang ada di atas nakas yang tidak lain adalah foto dirinya, Melly, Kalandra dan Sanjaya.
Iya itu adalah foto waktu mereka berlibur bersama di villa keluarga Sanjaya.
Kenzo terdiam, dia melihat foto itu sambil menangis, rasanya dia masih belum rela sang buyut pergi untuk selamanya.
Kalandra dan Melly tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sanjaya, mereka duduk di sebelah Kenzo Melly memeluk tubuh kekar Kenzo dari samping.
"Kak Ken, jangan menangis terus! Melly juga sedih," tutur Melly. Berharap dia bisa menghibur Kenzo tapi dia juga malah menangis.
Kalandra juga ikut menangis, sungguh kepergian seorang itu tidak ada yang tahu. Kemarin Sanjaya masih mengobrol dengan keluarganya, tapi hari ini Sanjaya harus pergi untuk selamanya dan tentunya meninggalkan banyak kenangan indah.
"Kak, ini ada surat...." Kalandra mengambil surat dari dalam laci nakas dekat tempat tidur sang buyut.
"Ini surat apa?" Tanya Kenzo, dan akhirnya mereka membuka surat itu bersama-sama.
BERSAMBUNG 🤗
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🤗