
Jam menunjukkan pukul 5 sore, karena Kinan berada di kantornya Aftar yang harusnya hari ini lembur sampai malam akhirnya pulang lebih awal dan pekerjaan lemburnya di wakilkan oleh Vino.
"Sayang, aku ke ruangan Vino dulu." Pamit Aftar dan dia meninggalkan Kinan sendirian di ruanganya.
Belum sempat Kinan menjawabnya Aftar sudah pergi begitu saja.
"Sekarang, aku sudah mau menjadi seorang ibu. Siapa yang sangka kalau pernikahan yang awalnya hanya kontrak 100 hari dan sekarang menjadi pernikahan nyata," kata Kinan sambil mengelus-elus perutnya.
Kinan terus menatap perutnya yang semakin hari semakin buncit dan tanda-tanda Kinan melahirkan sudah dekat.
"Apa malam ini langsung pergi USG saja? Kan Mas Aftar juga pulang lebih awal," kata Kinan. "Tapi ada benarnya juga malam ini saja, kalau besok pagi takut Mas Aftar sibuk," kata Kinan lagi.
Kinan memantapkan hatinya untuk melakukan USG malam ini.
Di ruangan Vino, Aftar langsung membuka pintu ruangan Vino dengan pelan seperti biasanya Aftar langsung masuk begitu saja. Seketika mata Aftar melolot dan tentunya ternganga dengan pandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Aish tempelin Vin," batin Aftar dalam hatinya.
Caca saat ini ada di dekapan Vino, kini tubuh Caca terkunci karena Vino mempepetkan Caca ke tembok. "Ini di kantor," lirih Caca detak jantungnya berdebar kencang.
"Memangnya kenapa? Disini hanya ada kita berdua, bukankah itu bagus?" Bisik Vino di telinga Caca. Sungguh hembusan nafas Vino bisa Caca rasakan dengan jelas.
"Mulutnya wangi sekali," batin Caca dalam hatinya.
Aftar senyam-senyum tanpa bersuara ternyata sekertarisnya ini berani juga dengan seorang wanita.
"Aku kira kamu sangat kalem Vin, ternyata kamu lebih ganas dari seekor singa." Aftar tertawa dalam hatinya.
Mata Caca yang melihat sekeliling betapa terkejutnya ternyata Aftar sudah berdiri di ruangan Vino, sambil senyam-senyum melihat kemesraan Caca dan Vino.
"Ada Pak Aftar," bisik Kinan dengan pelan seketika mata Vino terkejut dan buru-buru meyingkirkan tubuhnya dengan cepat.
"Aish Pak Aftar, kenapa anda datang di saat yang tidak tepat?" Gerutu Vino dalam hatinya.
Vino tersenyum malu melihat Aftar yang sedang berdiri tegak. "Kenapa? Lanjutkan saja! Biar aku keluar," kata Vino dengan nada meledek.
"Emm tidak pak, saya permisi dulu." Caca berlalu pergi dari ruangan Vino, betapa malunya Caca di saat sedang seperti itu tadi kepergok sama bos perusahaan.
"Aish mau taruh dimana mukaku ini? Sungguh Vino kamu selalu saja tidak tahu tempat," Caca terus mengomel dalam hatinya.
Caca hanya bisa menghela nafas panjang, sesampainya di dapur Caca menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Caca tenanglah!" Gumam Caca dalam hati, sungguh malu sekali rasanya.
__ADS_1
Setelah Caca pergi, Vino tersenyum malu-malu pada Aftar. "Sudah mulai berani, kenapa tidak di nikahi saja?" Goda Aftar dengan jail.
"Pak Aftar, itu tadi tidak sengaja." Jawab Vino malu-malu.
"Semua orang dewasa paham, apalagi aku yang sudah menikah." Aftar terus menggoda Vino dengan jail.
"Pak Aftar bisa saja, oh iya ada apa bapak ke ruangan saya?" Tanya Vino mengalihkan pembicaraan Aftar.
"Aku mau pulang dulu, kamu gantikan lembur aku malam ini!" Kata Aftar.
"Siap pak," jawab Vino.
Aftar tersenyum seolah-olah meledek Vino, lalu dia keluar dari ruangan Vino. "Vin, segera menikahlah atau ketiganya setan!" Celetuk Aftar sebelum keluar dari ruangan Vino.
Vino hanya senyam-senyum, dalam hatinya haruskah aku segera menikahinya?
Vino berjalan ke kursi kerjanya lalu dia duduk tiba-tiba ada pesan masuk dari no yang tidak di kenal.
Vin apa kabar?
Vino membaca pesan tersebut. "No siapa? Ini baru," lirihnya sambil mengetik balasan.
Baik, maaf ini siapa?
"Haah, apakah Vino sudah tidak mengenalku? Aish aku lupa no ponselku kan di ganti baru," batin wanita itu dalam hatinya.
Aku Anya, masa kamu lupa denganku*?
Vino mengingat-ingat siapa Anya itu?
"Anya!" Gumam Vino.
Maaf Anya, mungkin karena sudah lama kita tidak bertemu jadi aku lupa.
Anya senyam-senyum, ternyata Vino masih mengingatnya.
"Kira-kira Vino sudah punya kekasih belum ya? Yang aku dengar setelah mantan kekasih nya itu meninggal dia belum punya kekasih, mudah-mudahan aku masih punya kesempatan untuk bisa bersamanya." Batin Anya dalam hatinya.
Wanita yang beberapa tahun pernah menaruh perasaan pada Vino, tapi waktu itu Vino sudah pacaran dengan Nayla. Dan kini dia kembali muncul, akankah dia menghancurkan hubungan Vino dan Caca?
Tapi kamu masih mengingatku kan?
Vino membalas pesan Anya.
__ADS_1
Iya aku masih mengingatmu.
Anya terus senyam-senyum, bagi Anya ini adalah kesempatan untuk mendapatkan cinta yang tertunda waktu dulu.
*****
Setelah pulang dari kantor Aftar dan Kinan langsung menuju ke tempat USG, untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Di dalam mobil, Aftar sekali-kali mengelus-elus perut istrinya dan tangan yang satunya memegang setir mobil.
"Mas, kamu fokuslah menyetir!" Pinta Kinan, dia kawatir terjadi apa-apa.
"Aku sudah tidak sabar sayang, ingin mengetahui jenis kelamin anak kita." Kata Aftar, membuat Kinan tersenyum simpul.
"Lihat nak papamu, dia itu selalu tidak sabaran dalam segala hal!" Kinan mengambil tangan suaminya agar tidak terus mengelus-elus perutnya. "Menyetirlah dengan benar, nanti di rumah mas bisa menyapa anak mas lagi," lirih Kinan sambil tersenyum.
Senyum hangat Kinan yang terukir di sudut bibirnya, sungguh ini membuat hati Aftar terasa adem dan sangat tenang.
"Sayang, kamu punya anak berapa?" Tanya Aftar tiba-tiba.
"Emm, entahlah mas. Satu saja belum lahir mas," jawab Kinan sambil tersenyum.
Aftar hanya tersenyum simpul, melihat istrinya kemana-mana membawa-bawa perut besar seperti itu kadang Aftar juga merasa kasian, apalagi kalau mengingat awal pernikahan mereka rasanya Aftar sangat menyesal karena dia sering sekali bersikap dingin dan cuek pada Kinan.
Wajarlah awal pernikahan mereka hanya sebuah pernikahan kontrak.
Sesampainya di sebuah klinik kandungan, Aftar turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Kini mereka berjalan menuju ke dalam klinik, Kinan sengaja meminta suaminya untuk pergi ke klinik saja agar tidak terlalu mengantri.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Dokter, Kinan juga sedang berbaring Aftar juga sudah berdiri di sebelahnya.
"Lihat pak, jenis kelaminnya sudah terlihat." Kata Dokter.
Aftar tersenyum matanya terus terpaku ke layar USG. "Jenis kelaminnya apa Dok?" Tanya Aftar dengan begitu antusias.
"Laki-laki pak," jawab sang Dokter.
Kinan dan Aftar sama-sama tersenyum, akhirnya mereka mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Setelah selesai melakukan USG, Aftar dan Kinan langsung pulang menuju ke rumahnya.
BERSAMBUNG😊
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🤗