Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Hanya 20 menit sayang


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu malam yang begitu dingin begitu terasa karena hujan yang sangat lebat.


Kinan merasa kedinginan dia hanya meringkuk di atas kasur, tubuhnya tidak berani berkutik dari dalam selimut karena malam ini begitu dingin.


Kinan terdiam di dalam selimut, Aftar yang baru saja selesai mandi dan masih memakai handuk saja dia datang menghampiri Kinan.


"Sayang, apa kamu kedinginan?" Tanya Aftar pada Kinan dan Kinan menganggukan kepala.


"Kasian istriku, sini biar aku hangatkan." Aftar masuk ke dalam selimut, Kinan meronta-ronta manja. "Sayang, geli ih kamu itu nakal," omel Kinan pada Aftar.


Aftar tersenyum mesum, lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Kinan dan dia mel*mat bibir Kinan dengan begitu lembut.


Setelah puas Aftar melepaskan ciumannya. "Mas, kakek kok belum pulang?" Tanya Kinan.


"Dia sedang bersenang-senang, nanti juga pasti akan pulang sayang." Jawab Aftar.


Aftar kembali melanjutkan aktivitasnya, kini tangannya sudah menyusup masuk ke dalam baju Kinan dan tentunya tangannya itu sudah menyentuh benda kenyal yang ada di dalam sana.


"Mas sakit, jangan di r*mas-r*mas!" Lirih Kinan sambil mengeluarkan suara rintihan manja.


Aftar kembali tersenyum mesum. "Sakit yang pegang suami ini sayang," jawab Aftar dia tidak mau tahu.


"Mas, apa selama ini sekertaris Vino itu tidak punya pacar?" Tanya Kinan dan dia membiarkan suaminya menyentuh kedua benda kenyal miliknya itu.


Aftar agak menekannya, Kinan menglinjang. "Setelah, Nana pergi meninggalkan Vino selamanya, selama itu juga Vino belum mau membuka hatinya untuk wanita lain," tutur Aftar membuat Kinan berpikir pasti Vino sungguh mencintai wanita yang sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Sayang, jangan tanyakan tentang Vino. Malam ini fokus saja dengan acara malam kita," rengkek Aftar dia menatap Kinan dengan tatapan manja.


"Memangnya kita mau ngapain?" Tanya Kinan sambil mencubit pipi mulus suaminya.


"Mau membuat adonan biar cepat jadi," Aftar terus menatap Kinan dengan tatapan penuh cinta.


Kinan hendak menggeser tubuhnya tapi belum sempat bergeser, Aftar sudah menahan tubuhnya dengan kuat.


"Kamu mau kemana?" Aftar mendaratkan bibirnya di bibir Kinan, kini bibir sexynya itu semakin nakal dan sudah traveling kemana-mana.


R*nt*han dan er*ngan keluar dari mulut keduanya, di dalam selimut sana tangan Aftar semakin nakal, benda tumpul milik Aftar juga semakin kuat untuk kembali membobol gawang Kinan untuk kesekian kalinya dan berharap malam ini adonannya itu jadi.

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya dan ca*ran hangat milik Aftar berhasil menghangatkan rahim Kinan.


"Rasanya lega sekali," Aftar berbaring di sebelah Kinan, kini handuk yang tadi melilit tubuhnya sudah entah kemana perginya.


Kinan tersenyum simpul, lalu memeluk suaminya. "Butuh berapa kali lagi biar adonan kita jadi, mas?" Tanya Kinan, sungguh Kinan itu selalu bersikap polos membuat Aftar merasa gemas.


"Berkali-kali sayang, kamu mau lagi?" Aftar menatap mesum Kinan.


Kinan menggelengang kepalanya, tapi Aftar malah kembali melanjutkan aksinya dan kini dia kembali beraksi di dalam selimut sana.


Malam semakin larut, hujan semakin lebat tapi di antara Kinan dan Aftar sama-sama merasakan kehangatan yang nyata.


Arga dan Vira.


Semakin hari cinta mereka semakin dalam, Arga juga semakin manja pada sang istri dan tentunya itu membuat Vira sangat bahagia.


Malam yang semakin larut, Arga masih terjaga karena belum bisa tidur kali ini Arga tidur seperti anak kecil bahkan dia meminta Vira membacakan buku cerita kesukaannya.


"Sayang, nanti kalau kita punya anak kamu bakal lebih memperhatikan anak kamu atau suami kamu?" Tanya Arga, dia berbaring di pangkuan Vira.


Vira tersenyum dia mengusap-usap rambut Arga dengan lembut. "Aku akan berusaha adil suamiku," jawab Vira. Biar bagaimanapun anak dan suaminya itu sama-sama penting bagi dirinya.


"Jadi benda kenyal ini satu milikku satu milik anak kita," Arga mengelus-elus dua benda kenyal milik Vira.


Vira membiarkannya saja, lagi di sentuh oleh sang suami itu membuat dirinya merasa nyaman dan tentunya bahagia.


"Bagaimana kalau kita bagi waktu?" Tanya Vira, sambil menguap pipi suaminya.


"Maksudnya?" Tanya Arga bingung.


"Kalau anak kita belum tidur benda kenyal ini milik anak kita, tapi kalau anak kita sudah tidur baru ini menjadi milik kamu." Vira tersenyum, Arga agak manyun tapi dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.


Vira sungguh tidak habis pikir padahal Vira saja belum hamil, tapi Arga sudah berpikir tentang berbagi g*n*ng kembar miliknya.


Malam semakin larut, Setelah mengobrol Vira melanjutkan membacakan cerita untuk sang suami hingga suaminya lelap tertidur. Setelah suaminya tidur Vira juga ikut tidur.


Vino.

__ADS_1


Vino berdiri menghadap ke jendela kamarnya, dia menatap arah keluar kamarnya. Vino tiba-tiba tersenyum.


Iya Vino tersenyum karena mengingat kenangan yang indah waktu bersama Nana.


"Ana, dulu kamu suka sekali dengan hujan." Kata Vino, dia terbiasa menyebut Nana dengan panggilan Ana.


Sekilas bayangan Nana muncul dia tersenyum pada Vino. Vino mendekati bayangan itu, tapi bayangan itu semakin jauh bahkan tidak bisa Vino sentuh dengan tangannya.


"Ana, aku mencintaimu," Vino terus berusaha mendekati bayangan itu tapi bayangan itu semakin menjauh.


"Aku tahu, kamu harus kembali membuka hatimu untuk wanita lain, ingat jangan terus-terusan memikirkanku kamu harus bahagia!" Kata Nana, bayangnya terus tersenyum pada Vino.


Vino ingin sekali memeluk bayangan itu, tapi semakin Vino mendekat dan ingin berusaha menyentuhnya bayangan itu hilang begitu saja.


"Ana....." Vino meneteskan air matanya.


Setelah bayangan Nana berlalu pergi, Vino rasanya lemas sekali. Wanita yang selama ini dia cintai datang hanya sebagai bayangan yang tidak bisa Vino sentuh sama sekali.


"Ana, aku akan membuka hatiku kembali ketika aku sudah siap." Tutur Vino, berharap Nana akan mengerti.


Malam semakin larut, dalam kesedihannya malam ini Vino membaringkan tubuhnya di atas lantai dan tanpa sadar dia tertidur lelap.


___


Pagi hari yang cerah, seperti pagi-pagi biasanya Kinan sedang meyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


Kini Kinan sedang sibuk di dapur, tiba-tiba Aftar memeluknya dari belakang. "Mas, kamu mau ngapain?" Tanya Kinan, merasakan bibir Aftar sudah traveling di leher jenjangnya.


Aftar hanya diam dan dia terus melanjutkan aksinya. "Mas, kamu kan mau berangkat ke kantor jangan seperti ini!" Tutur Kinan dengan nada lembut.


Aftar menghentikan aktivitasnya dan dia langsung membopong tubuh mungil Kinan. "Mas, kamu harus ke kantor." Lirih Kinan, tangannya sudah mengalung di leher Aftar.


"Sayang, jika aku ke kantor di saat seperti ini maka aku tidak akan bisa fokus kerja, hanya 20 menit sayang biar aku selesaikan tugasku sebagai suami, semalam kurang puas sayang," Bisik Aftar di telinga Kinan.


"Tapi mas...." Kata-kata Kinan terpotong, karena Aftar sudah membawa masuk ke dalam kamar.


Entah apa yang akan terjadi dengan 20 menit itu?

__ADS_1


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2