
Sesampainya di kamar, Kinan sudah berbaring di atas tempat tidur. Dia tidur dengan posisi membelakangi suaminya dan Kini Aftar sudah duduk di tepi ranjang.
Entah, bagaimana Aftar akan menyelesaikan masalahnya ini?
Aftar menghela nafasnya dengan pelan, lalu dengan wajah frustasi Aftar berjalan menuju ke kamar mandi.
"Kinan, pasti sangat marah. Aku harus bagaimana? Dasar Vino, gara-gara aku mengikuti ide bodohmu ini istriku sekarang marah," geretu Aftar. Dengan perasaan penuh penyesalan Aftar terus mengacak-acak rambutnya karena merasa frustasi.
"Sudahlah, aku mandi dulu. Baru nanti aku pikirkan untuk membujuk Kinan," kata Aftar sambil meninggalkan seluruh pakaiannya.
Kini Aftar sedang mandi sedangkan Kinan hanya terdiam dalam selimut, rasanya kesal bahkan Kinan ingin sekali menjambak rambut suaminya dengan keras.
"Anak mama, lihat papamu dia sangat menyebalkan hari ini." Batin Kinan dalam hatinya.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas berdering, ternyata telpon dari Caca dan Kinan langsung mengangkatnya.
"Hallo Kak Caca," sapa Kinan.
"Iya Kin, kamu bagaimana sama Pak Aftar?" Tanya Caca.
"Aku hanya mengabaikannya. Biarkan saja, lagian dia mencari masalah, aku sedang hamil tapi dia malah seperti itu." Jawab Kinan nada suaranya agak tinggi.
"Kita kasih pelajaran buat para laki-laki kita, aku saja tadi meninggalkan Vino begitu saja." sambung Caca.
"Iya kak, kak aku tutup telponnya dulu ya suamiku sudah selesai mandi." Kinan mematikan saluran teleponnya, lalu menaruh kembali ponselnya di atas nakas.
Caca menghela nafasnya dengan pelan, sungguh dia juga sangat kesal dengan Vino.
"Tadi, aku tinggalkan dia begitu saja. Apa dia sudah pulang?" Caca berbicara sendiri.
Dengan gusar Caca membuka ponselnya ternyata banyak pesan masuk dan panggilan masuk dari Vino.
"Buat apa kamu menelponku? Dasar pacar menyebalkan, lagian kamu cari-cari masalah." Caca menaruh ponselnya dengan kasar dan enggan membalas atau menelpon balik Vino.
****
Vino sudah berada di kamarnya, kini perasaannya merasa sangat bersalah gara-gara idenya kini dia malah kena batunya. Dia harus saling marahan dengan Caca.
__ADS_1
"Sungguh, ide bodoh apa yang sudah aku buat? Caca, maafkan aku!!" Teriak Vino raut wajahnya tampak frustasi.
Vino terus melihat ponselnya, berulang kali dia mengecek pesan yang dia kirim ke Caca tapi tidak ada balasan Caca. Raut wajahnya tampak kesal, rasanya ingin sekali melempar ponselnya tapi dia tidak sampai hati, Vino hanya menaruh ponselnya di atas nakas meja dekat tempat tidurnya.
"Aku besok harus meminta maaf pada Caca, jika tidak pasti Caca tidak akan mau berbicara denganku lagi, makanya Vino lain kali tidak usah macam-macam!" Vino memaki-maki dirinya sendiri.
Sungguh sangat menyesal karena sudah membuat ide gila bersama sang bos.
"Pasti Pak Aftar juga sedang marahan bersama Nona Kinan. Niat hanya mau buat para pasangan kita cemburu, ini malah jadi petaka buat kita." Batin Vino dalam hatinya.
Dengan perasaan yang masih sangat menyesali perbuatannya, Vino hanya bisa memejamkan matanya dan berharap pagi cepat datang.
*****
Setelah selesai mandi, Aftar langsung berganti pakaian. Dia berjalan ragu menuju ke ranjang tempat tidur, apalagi melihat Kinan yang hanya diam di dalam selimut sana.
Pelan-pelan Aftar duduk di tepi ranjang, ingin rasanya memeluk istrinya tapi dia tidak punya keberanian untuk itu.
"Sayang, kamu sudah tidur?" Tanya Aftar, dengan ragu-ragu dia menyentuh bahu sang istri. Tapi dengan kasar Kinan menepis tangan sang suami tanpa berbicara apapun.
"Nikmati saja mas, aku tidak akan semudah itu memaafkanmu." Batin Kinan dalam hatinya.
"Bahkan Kinan tidak mau aku sentuh," batin Aftar dalam hatinya.
Kinan memejamkan matanya, malam ini dia tidur membelakangi suaminya. Aftar juga malam ini tidur tidak tenang karena tidak bisa memeluk istri tercintanya.
*****
Pagi menujukan pukul 6, seperti biasanya sebelum pergi keluar dari dalam kamarnya Kinan meyiapkan pakaian untuk suaminya berangkat kerja, biarpun Kinan sedang marah dengan Aftar tapi dia tidak melupakan tugas dirinya sebagai seorang istri.
"Sayang, terimkasih." Lirih Aftar, tapi Kinan hanya diam dan berlalu pergi dari dalam kamar.
Aftar memakai baju yang sudah di siapkan oleh istrinya, perasaannya semakin penuh dengan rasa bersalah.
"Bahkan istriku marah, tapi dia masih menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik." Batin Aftar dalam hatinya.
"Aku harus meminta maaf padanya!" Kata Aftar dengan begitu yakin.
__ADS_1
Kini Kinan sudah duduk di kursi meja makan bersama Sanjaya.
"Kinan, mana suamimu nak? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Sanjaya dengan nada lembut, tatapan matanya begitu lembut pada Kinan.
"Sedang ganti pakaian kek, tidak kek. Kinan dan Mas Aftar baik-baik saja kok," jawab Kinan dengan nada lembut, dia tidak mau kalau Sanjaya sampai memarahi Aftar karena masalah yang terjadi di antara mereka.
Suara langkah kaki terdengar, Kinan dan Sanjaya sama-sama menoleh ke sumber suara itu. Senyum yang begitu manis kini di saksikan oleh Sanjaya dan Kinan.
"Selamat pagi sayang, selamat pagi kek," sapa Aftar dengan nada lembut.
Kinan hanya tersenyum, sedangkan Sanjaya terus menatap wajah Aftar. "Selamat pagi juga nak," jawab Sanjaya sambil tersenyum.
"Aku yakin pasti sudah terjadi di antara Kinan dan Aftar. Terlihat jelas pagi ini wajah Kinan sangat berbeda dari biasanya," batin Sanjaya dalam hatinya.
Kini mereka menikmati sarapan pagi bersama, Kinan juga mengambilkan makanan untuk suaminya seperti pagi-pagi biasanya.
Seperti itulah Kinan biarpun sedang ada masalah di antara dirinya dan suaminya tapi Kinan, tetap melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik.
Setelah selesai sarapan, Sanjaya langsung kembali ke kamar sedangkan Kinan dan Aftar masih duduk di meja makan.
"Sayang, terimakasih kamu sudah meyiapkan bajuku," kata Aftar sambil tersenyum tapi lagi-lagi Kinan hanya bersikap cuek.
"Itu sudah tugas istri," jawabnya dengan begitu cuek.
Aftar terdiam, dalam hatinya bahkan istriku terus bersikap cuek padaku. Aftar beranjak dari tempatnya duduk.
"Aku berangkat kerja dulu ya," pamit Aftar. Dia hendak mencium kening istrinya seperti pagi biasanya tapi Kinan lagi-lagi mengabaikannya dan langsung pergi begitu saja.
"Maaf mas, aku masih terlalu kesal padamu." Batin Kinan dalam hatinya.
Aftar menghela nafasnya, sungguh dia sudah tidak tahan dengan sikap istrinya yang begitu cuek pada dirinya.
"Sampai kapan kamu mengabaikanku, sayang?" Tanya Aftar dalam hatinya.
Aftar berlalu pergi dari ruang makan, Kinan pun tidak menoleh ataupun memanggil suaminya. Sungguh kali ini dia ingin memberikan pelajaran untuk suaminya.
Aftar berangkat ke kantor dengan perasaan tidak senang, hatinya terus memikirkan bagaimana caranya agar Kinan mau memaafkan dirinya?
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊