Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Membasmi kucing garong


__ADS_3

Pagi hari menujukan pukul 7 pagi, Kinan sudah cantik dan saat ini dia berada di dapur untuk membuat sarapan.


Kinan memang tidak bisa diam, kalau lihat dapur tangannya gatel pingin masak padahal Aftar sudah melarangnya untuk masak jika tidak berdua dengan Aftar, tapi tetap saja Kinan ini bandel sekali.


"Nona, biar bibi yang masak. Nanti kalau Pak Aftar tahu Nona ke dapur lagi pasti...." Kata-kata Bi Ijah terhenti, saat melihat Aftar yang sudah rapi dengan setelan warna hitamnya dan saat ini dia berdiri tepat di belakang Kinan sambil melipat kedua tangannya.


"Tidak akan bi, tadi dia masih tidur bi." Jawab Kinan yang kini tengah di sibukkan dengan alat penggorengan.


Ijah mengedip-ngedipkan matanya untuk memberikan isyarat pada Kinan, kalau Aftar sudah berdiri di belakangnya tapi Kinan tidak paham.


"Mata Bibi, kenapa? Apa sakit? Biar aku ambilkan tetes mata ya bi." Kinan berbalik, berniat mengambil tetes mata untuk Ijah tapi Aftar sudah tersenyum garang, membuat Kinan mengeluarkan senyum paksanya. "Mas, sudah bangun?" Tanya Kinan dengan ragu-ragu.


"Kapan dia datang? Aish, pagi-pagi sudah seperti ini pasti dia akan bermain drama lagi. Naskah apalagi yang sudah dia siapkan?" Batin Kinan dalam hatinya.


Aftar mengarahkan tangannya ke telinganya Kinan, lalu menjewer telinga Kinan. "Apa, kamu tidak mendengarkan apa yang suamimu katakan Kinan?" Tanya Aftar dengan tatapan penuh ancaman.


"Aku hanya ingin memasak." Jawab Kinan dengan nada lembut.


Aftar menjewer telinga Kinan sambil berjalan, Kinan mendengus kesal, dia meminta Aftar melepaskannya tapi Aftar tidak melepaskan tangannya dari telinga Kinan.


Kini mereka sudah duduk di ruang tengah, akhirnya Aftar melepaskan tangannya dari telinga Kinan juga.


"Sakit mas." Kinan memegangi telinganya yang barusan di jewer oleh suaminya.


Sanjaya yang ternyata dari tadi memperhatikan kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Baru semalam ehem-ehem, sekarang pagi-pagi sudah berdebat lagi. Ntahlah apa yang mereka debatkan yang penting mereka bahagia dan terus bersama sampai maut yang memisahkan." Batin Sanjaya dalam hatinya.


"Makanya jangan bandel, patuhlah pada suamimu!" Aftar menatap Kinan dengan tajam.


"Suami kontrak, maksudnya!" Bisik Kinan di telinga Aftar.


Sanjaya yang baru saja datang dia duduk di sofa sambil melihat cucu-cucunya itu.


"Kakek," sapa Kinan dan dia langsung berpindah tempat duduk ke sebelah Sanjaya.


"Kakek, Mas Aftar menjewer telinga Kinan sakit kek." Kinan mengadu pada Sanjaya dengan begitu manja.


Sanjaya melirik Aftar. "Aftar, kamu itu apa-apaan? Wanita itu di sayangi bukan untuk di sakiti!" Omel Sanjaya pada Aftar.


Dalam hati Aftar, Dasar tukang ngadu. Awas saja kamu akan aku balas nanti.


"Kek, Aftar tidak mungkin menjewer telinganya kalau cucu menantu kakek itu menurut pada suaminya." Jawab Aftar, dia melirik ke arah Kinan dengan kesal.


"Cucu kakek, kamu harus patuh pada suamimu ya nak." Sanjaya mengacak-acak rambut Kinan dengan tangannya.

__ADS_1


Aftar akui untuk hari ini dia kalah, apalagi kalau sudah berhadapan dengan sang kakek Aftar tidak punya keberanian untuk melawan sama sekali.


"Kalau sama aku galak, giliran sama Kinan marah saja bisa selembut itu." Gerutu Aftar dalam hatinya.


"Iya kek, tapi Mas Aftar suka nakal." Kinan menjulurkan lidahnya pada Aftar.


Sanjaya hanya bisa tertawa bahagia, biarpun cucu dan cucu menantunya itu sering sekali ribut tapi Sanjaya bersyukur karena Kinan bisa bersabar menghadapi cucu satu-satunya itu.


"Baiklah, Mas minta maaf. Sekarang sudah mau jam 8 pagi, mas berangkat kerja dulu ya." Pamit Aftar dia beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju ke tempat Kinan duduk. "Cup," Aftar mencium kening Kinan dengan lembut.


Kinan terdiam dia begitu terkejut, tapi Sanjaya malah megancungkan jempol pada Aftar. "Nah, begitu kalau sama istri jadikan enak kalau di lihat," Sanjaya tertawa, lalu Aftar menyalami tangan kakeknya.


Setelah menyalami tangan kakeknya, Aftar mengarahkan tangannya tepat di depan Kinan, Kinan merasa bingung. "Ada apa?" Tanya Kinan yang merasa bingung.


"Sayang, ciumlah tangan suamimu sebelum berangkat kerja!" Aftar menahan tawanya.


"Mumpung di depan kakek, aku kerjain saja Kinan." Aftar tertawa dalam hatinya.


Kinan meraih tangan Aftar, lalu mencium tangan Aftar.


"Selalu saja mengambil kesempatan, kalau tidak di hadapan kakek. Aku tidak mau di suruh cium tangannya," Gumam Kinan dalam hatinya.


"Tunggu! Kamu tidak sarapan dulu mas?" Tanya Kinan tiba-tiba.


"Aku sarapan di kantor saja." Aftar berlalu pergi dari hadapan Sanjaya dan Kinan.


Di sebuah taman yang indah, Sanjaya sangat bahagia bahkan dia berbagai cerita tentang kelucuan Aftar pada Kinan. Kinan sampai terbahak-bahak mendengar cerita dari Sanjaya tentang Aftar.


____


Di rumah Vira dan Arga.


Vira dan Arga sedang menikmati sarapan pagi bersama, hari ini Arga berangkat ke kantor agak siang jadi dia meminta Vira untuk membuatkan sarapan untuk dirinya.


Arga juga hari ini tampak aneh, karena tiba-tiba meminta Vira meyiapkan bekal untuk dirinya makan siang nanti di kantor.


"Vira, siapkan bekal untuk aku makan siang. Terus kita pergi ke supermarketnya nanti saja kalau aku sudah pulang kerja," Kata Arga dengan nada lembut.


"Iya aku siapkan dulu," Jawab Vira.


Vira meninggalkan Arga yang sedang menikmati sarapan paginya. Dia pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya.


"Arga, sungguh kamu selama beberapa hari ini sangat aneh." Batin Vira dalam hatinya.


Tiba-tiba ponsel Vira yang ada di atas meja makan, berbunyi ternyata ada telpon dari seorang laki-laki. "Farel, Siapa Farel?" Arga mengambil ponsel Vira lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel milik Vira.

__ADS_1


"Hallo Vir, aku merindukanmu." Sapa Farel dengan begitu antusias.


Arga menarik nafasnya dengan kesal.


"Apa-apaan dia ini, dia menelpon istri orang dengan seriang itu bahkan dia bilang dia merindukan istriku, enak saja minta di cincang dia." Batin Arga dalam hatinya.


"Vira, kenapa kamu diam saja?" Tanya Farel.


Arga meletakkan ponsel Vira di atas meja makan.


"Akan aku kasih pelajaran kamu!" Arga tersenyum penuh kelicikan.


"Sayang, kamu jangan lupa makan yang banyak ya! Pasti gara-gara semalam kamu sangat kelelahan, sayang semalam kamu begitu membuatku panas dingin." Kata Arga dengan nada agak berteriak.


Vira bingung ada apa dengan suaminya?


"Vira, Vira...." Panggil Farel.


"Sayang, punyaku sungguh puas!" Kata Arga lagi dengan nada agak berteriak.


Farel yang merasa bingung, akhirnya mematikan saluran teleponnya.


Vira yang baru selesai membuat beka makan siang untuk suaminya, dia kembali ke meja makan.


"Maksud, kamu apa?" Tanya Vira dengan raut wajah bingung.


"Tidak apa-apa, tadi ada kucing garong yang perlu aku basmi saja." Arga tersenyum penuh kemenangan.


"Kucing garong, maksudnya?" Tanya Vira bingung.


"Sudahlah lupakan, mana bekal makan siang aku?" Tanya Arga mengalihkan pembicaraan.


Vira memberikan bekal makan siang yang buat tadi pada Arga, Arga menerima kotak bekal itu dari tangan Vira. "Cup," Arga tiba-tiba mencium kening Vira, membuat Vira agak terkejut.


"Apa, Arga sungguh tidak waras?" Tanya Vira dalam hatinya.


"Aku berangkat kerja dulu, kamu diamlah di rumah. Ingat jangan biarkan laki-laki lain menelponmu!" Arga berlalu pergi dari hadapan Vira.


Vira menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Setelah Arga pergi, Vira mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan lalu dia menggeser layar ponselnya.


"Panggilan masuk dari Farel?!"


BERSAMBUNG 😊

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2