
"Apakah, harus mas?" Tanya Kinan yang merasa tidak rela.
Aftar terdiam, haruskah dia pergi menjemput Karin yang sedang mabuk?
Kinan menatap Aftar dengan tatapan penuh tanda tanya? Sorot matanya menunjukkan kalau Kinan tidak rela Aftar pergi.
"Mas jangan pergi, aku takut ini hanya akal-akalan Karin saja untuk merebut kamu dari Aku," batin Kinan dalam hatinya.
Seketika Kinan mengingat kata-kata Karin waktu mereka bertemu di restoran kemarin.
Kinan berpikir, dia harus mencegah suaminya agar tidak pergi menjemput Karin.
"Sayang, tapi Karin...." Kata-kata Aftar terhenti.
"Mas, perut aku sakit sekali," Rintih Kinan sambil memegangi perutnya.
Aftar terlihat panik. "Kinan, kamu kenapa?" Tanya Aftar dengan raut wajah panik.
"Mas sakit sekali," Kinan kembali merintih dan Aftar langsung membopong Kinan ke atas tempat tidur.
Aftar membaringkan Kinan dan menyelimuti tubuh Kinan, raut wajah tampak kawatir dan ketakutan. "Bagian mana yang sakit," tanya Aftar dengan nada lembut.
Kinan mengambil tangan Aftar, lalu menaruh tepat di atas perutnya. "Ini mas sakit sekali," Keluh Kinan dengan manja.
"Maaf Mas, aku harus berbohong aku tidak mau kalau sampai emak lampir itu macam-macam," batin Kinan dalam hatinya.
Aftar mengelus-elus perut Kinan dengan begitu lembut. "Mas buatkan teh anget ya," tawar Aftar, tapi Kinan geleng-geleng kepala dan malah memegangi tangan Aftar dengan erat.
"Mas jangan pergi!" Pinta Kinan dengan begitu manja.
"Iya mas tidak pergi, Mas telpon Vino dulu biar jemput Karin ya." Aftar tersenyum pada Kinan dan Kinan menganggukan kepalanya.
"Yes berhasil, jangan harap aku akan memberikan kesempatan agar kamu bisa dekat-dekat dengan suamiku," batin Kinan dalam hatinya.
Aftar merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya, lalu dia langsung menelpon Vino.
Vino yang masih berada di kantor, melihat telpon dari Aftar Vino langsung mengangkat telponnya.
"Hallo pak." Sapa Vino.
"Vin, tolong pergi ke bar tempat biasa Karin datang. Dia mabuk berat di sana, kamu urus dia ya!" Kata Aftar pada Vino.
"Baik pak." Jawab Vino.
Aftar mematikan saluran teleponnya, Vino berdecak kesal karena sang bos masih saja mengurusi Karin.
"Dasar Pak Aftar, sudah di kasih yang seperti Nona Kinan. Masih saja ngurusin sih Karin," Vino mengerutu sambil merapikan berkas-berkas yang ada di meja.
Setelah selesai Vino langsung pergi menuju ke bar tempat Karin mabuk, Vino sangat hafal tempatnya jadi dia langsung meluncur ke lokasi.
Aftar dan Kinan.
Kinan terus memegangi tangan suaminya, sungguh dia tidak rela kalau suaminya harus pergi menjemput Karin.
"Apa masih sakit?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
__ADS_1
"Mas, berbaringlah di sampingku!" Pinta Kinan dengan begitu manja.
Aftar tersenyum mesum. "Mau ngapain Sayang? Tadi saja rasa pegalnya masih terasa," lagi-lagi Aftar tersenyum mesum.
Bagaimana tidak pegal Aftar menggoyang Kinan dengan begitu nikmat dan sangat kuat.
"Mas, memangnya kita mau ngapain? Aku kan hanya menyuruh mas berbaring saja." Kinan menatap kesal Aftar, sungguh otak suaminya ini begitu mesum.
Aftar membaringkan tubuhnya di samping Kinan. "Sudah berbaring, sekarang mau ngapain?" Tanya Aftar, tangannya mengelus-elus perut Kinan.
"Peluk aku mas, pokoknya mas tidak boleh jauh-jauh dariku!" Rengkek Kinan dengan manja, demi menahan Aftar agar tidak pergi menjemput Karin.
Aftar menuruti apa kata istrinya, dia memeluk Kinan dengan erat.
"Karin, lihat suamiku sangat penurut dan aku yakin kamu tidak akan bisa merebutnya dari diriku," Kinan tertawa dalam hatinya.
Kinan membenarkan posisinya tidurnya menjadi miring, lalu dia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Karin.
Karin sedang duduk di salah satu meja, di atas meja itu penuh dengan alkohol dan gelas-gelas kecil.
"Aftar mana sih, lama sekali?" Kesal Karin yang sudah tidak sabar menunggu ke datangan Aftar untuk menjemput dirinya.
Karin sengaja mengatakan pada Aftar dia mabuk berat, karena dulu waktu mereka masih pacaran Aftar selalu siap siaga untuk menjemput Karin dimana pun?
"Pak kemarilah!" Panggil Karin pada pelayan yang tadi di suruh menelpon Aftar.
Pelayan itu menghampiri Karin. "Iya nona?"
"Benar nona dan tadi yang mengangkat telpon seorang laki-laki," jawab sang pelayan.
"Baiklah, terimkasih kamu boleh pergi!"
Pelayan itu pergi dari hadapan Karin dan Karin melihat-lihat ke arah pintu masuk, tapi Aftar tidak kunjung datang.
"Sayang datanglah, aku butuh kamu." Batin Karin dalam hatinya.
Mata Karin membulat sempurna melihat ternyata Vino yang datang. "Kenapa, harus sekertaris sialan itu yang datang," Karin mengerutu tatapannya tampak tidak suka.
Vino tahu ini pasti akal-akalan Karin saja, tapi jika Vino menolak untuk tidak mau jemput Karin, Vino takut kalau sang bos yang akan pergi secara langsung dan tentunya pasti itu akan menimbulkan keributan dengan Kinan.
"Nona Karin, apa sudah selesai beraktingnya?" Tanya Vino tiba-tiba yang langsung di tatap kesal oleh Karin.
"Mana Aftar?" Tanya Karin dengan begitu jutek.
Vino berdiri dengan tegak, dua tangannya masuk ke dalam kantong celananya dan saat ini gayanya Vino tampak sangat keren sekali.
"Tentu saja Bos Aftar sedang menikmati masa-masa bucinnya dengan sang istri," jawab Vino dengan tawa khasnya.
Karin sejenak membayangkan Kinan dan itu membuatnya semakin kesal.
"Dasar gadis udik perbuat kebahagiaan orang lain," batin Karin dalam hatinya.
"Sekarang, kita bisa pulang?" Tanya Vino yang sebenarnya merasa malas.
__ADS_1
"Dasar wanita ular," batin Vino dalam hatinya.
"Aku bisa pulang sendiri!" Jawab Karin dengan raut wajah marah.
Kinan menatap Vino dengan tatapan tidak suka, rasanya Karin ingin sekali menampar pipi mulus Vino saat ini tapi Karin menahannya karena dia seorang artis dan tentunya dia tidak mau nama baiknya tercemar.
"Baguslah, setidaknya aku tidak perlu capek-capek dan buang-buang tenaga untuk mengurus wanita ular seperti anda nona," Vino berlalu pergi dari hadapan Karin.
Sungguh betapa geramnya Karin, apalagi melihat Vino yang tidak pernah bersikap baik pada dirinya.
"Dasar sombong, gelar sekretaris saja belagu sekali," Karin mengerutu sambil pergi dari mejanya.
Vino langsung menaiki mobilnya, lalu dia langsung melajukan menuju ke kantor.
Karin sangat marah, apalagi bukan Aftar yang datang menjemputnya tapi sekertarisnya yang datang.
"Baiklah, kali ini aku gagal." Karin masuk ke dalam mobilnya, lalu dia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Rencana yang sudah di atur dengan baik, pada akhirnya gagal dan itu membuat Karin sangat marah.
Kinan dan Aftar.
Setelah dua jam berlalu, Aftar melihat Kinan terlelap tidur di pelukannya. Aftar membelai-belai rambut Kinan dengan lembut, lalu mencium keningnya dengan begitu hangat.
"Kamu tidur nyenyak sekali, tadi katanya perut sakit," Aftar tersenyum sambil memainkan hidung Kinan dengan tangannya.
Kinan bergulat. "Mas, geli ih aku mengantuk sekali," rengkek Kinan dengan manja.
"Sayang, aku lapar bangunlah! Oh iya, perut kamu masih sakit?" Aftar membelai pipi Kinan dan Kinan membuka matanya. "Sudah tidak mas, baiklah aku buatkan makan ya," Kinan bangun dari tidurnya dan dia bergegas turun dari tempat tidur.
"Mau kemana?" Tanya Aftar.
"Mau masak, bukankah mas lapar?" Jawab Kinan dia berjalan keluar dari kamarnya dan Aftar juga ikut keluar dari dalam kamar.
Kini mereka sudah di dapur, Kinan tampak berpikir apa yang akan dirinya masak?
"Sayang, biar aku saja yang masak." Kata Aftar membuat Kinan ternganga.
"Mas, bisa masak?" Tanya Kinan ragu-ragu.
"Apasih yang mas tidak bisa, mas hanya tidak bisa kehilangan kamu." Jawab Aftar, dia menggombali Kinan dengan mesra.
Kinan hanya tersenyum dan Aftar mulai menunjukkan aksinya, ternyata benar Aftar bisa memasak.
"Mas, sungguh bisa masak?" Kinan masih tidak percaya.
"Sungguh, mas belajar jadi bisa." Jawab Aftar.
"Bisa sayang, kamu tunggulah!" Aftar terus melanjutkan memasaknya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar selesai memasak dan mereka menikmati masakan Aftar berdua di atas meja makan.
BERSAMBUNG 😘
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1