Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Herlin terus menangis. Dalam hatinya terus berpikir akankah Kinan memaafkan kesalahannya di masa lalu?


Sesampainya di rumah sakit.


Herlin terlihat ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah sakit, kakinya terasa berat mengingat kesalahan yang telah dia lakukan pada Kinan.


Menurut Herlin dirinya begitu tega meninggalkan Kinan pada saat itu yang masih bayi, bayi yang masih merah dan tentunya masih sangat butuh kasih sayang dari seorang ibu tapi di tinggalkan begitu saja.


Herlin tidak tahu seberapa sesaranya Kinan waktu hidup hanya berdua dengan neneknya, Kinan harus berjualan koran dan mencari pekerjaan sampingan lainnya hanya untuk bisa membeli obat sang nenek yang waktu itu sedang sakit.


Kinan sering tidak makan, karena demi neneknya agar neneknya bisa kenyang. Kinan rela melakukan pekerjaan apa saja yang penting neneknya makan dan bisa membeli obat untuk sang nenek.


Hingga perjuangannya tumbang, karena neneknya meninggal dan waktu itu Kinan masih SD. Setelah neneknya meninggal Kinan hanya hidup sebatang karah dan dia tetap menjalani hidup pekerjaan serabutan demi bisa makan dan melanjutkan sekolahnya.


"Nak, apakah Kinan akan memaafkan kesalahan ibu?" Tanya Herlin, raut wajahnya terlihat sangat menyesal.


"Percayalah bu, Kinan adalah gadis yang baik dan dia sangat bijak." Aftar menggenggam tangan ibu mertuanya, dia meyakinkan bahwa Kinan akan memaafkan ibunya ini.


"Tapi nak...." Herlin menghela nafas panjang, kakinya juga mau melangkah masih takut.


"Kita coba dulu bu, Aftar bersama ibu!" Aftar meyakinkan Herlin.


Akhirnya dengan dukungan dari Aftar, Herlin memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah sakit.


"Kinan, kamu ingin bertemu dengan ibumu kan sayang. Mas bawa dia, mudah-mudahan kamu bahagia," batin Aftar dalam hatinya.


Kini mereka sudah berada di depan pintu ruangan rawat Kinan. Aftar membuka pintu itu dengan hati-hati dan mata Kinan tertuju pada suaminya yang baru datang.


"Mas Aftar...." panggilnya dengan lembut, tapi tatapan matanya terlihat terkejut melihat Aftar datang bersama Herlin.


Aftar dan Herlin sama-sama masuk ke dalam ruangan rawat Kinan.


"Kinan, anak ibu....." lirih Herlin sambil terus menatap Kinan dengan tatapan begitu dalam.


"Anak ibu?" Kinan mengulangi kata-kata Herlin dengan raut wajah bingung.


Kinan melihat ke arah Aftar, seolah-olah meminta jawaban pada suaminya.

__ADS_1


"Mas...."


Aftar duduk di tepi ranjang, dia mengusap pucuk rambut Kinan dengan lembut. Caca dan Sanjaya terlihat bingung, tapi kalau Vino dia tahu jadi dia hanya diam saja dengan santai.


"Sayang, bukankah kamu ingin bertemu dengan ibumu?" Tanya Aftar dengan nada lembut dan Kinan mengangguk pelan.


Aftar mengambil Kenzo, lalu memberikannya pada Caca. "Ca, tolong jaga jagoan kecilku dulu!" Pinta Aftar sambil memberikan Kenzo pada Caca dan Caca menerima Kenzo dari tangan Aftar.


Mata Aftar kembali menatap Kinan dengan begitu dalam sedangkan Herlin hanya berdiri rasanya ingin memeluk Kinan tapi dia tidak punya keberanian untuk itu.


"Sayang, Bu Herlin ini adalah ibu yang selama ini kamu cari." Tutur Aftar, tatapan matanya penuh dengan keseriusan.


Kinan tampak berpikir, apakah benar wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini adalah ibu kandungnya?


Herlin mendekati Kinan, dia duduk ditepi ranjang Kinan berbaring, tangannya meraih satu tangan Kinan dengan lembut, air mata penyesalan terus berderai di pipi mulusnya.


"Kinan, iya aku ini ibu kandungmu." Kata Herlin, isak tangisnya mulai terdengar.


"Kinan tidak pernah tahu seperti wajah ibu Kinan sebelumnya bu, jika ibu benar ibu kandung saya. Apakah ibu ada buktinya?" Tanya Kinan, terlihat keraguan di matanya apalagi Herlin adalah seorang perancang busana terkenal, apakah benar wanita sehebat Herlin adalah ibu kandungnya?


Herlin melepaskan tangannya dari tangan Kinan, dia membuka tas yang di bawahnya lalu dia mengeluarkan dompet miliknya.


Foto ini di ambil sehari sebelum Ayahnya Kinan mengalami kecelakaan, Kinan saja masih bayi dan bisa di bilang ini adalah foto satu-satunya Herlin bawah kemana-mana selama ini.


Foto yang sudah lusuh karena memang sudah bertahun-tahun di simpan oleh Herlin, berharap ini bisa menjadi bukti kalau Kinan adalah anak kandungnya.


"Ini nak, ini foto keluarga kita!" Herlin menunjukkan foto yang sudah lusuh itu pada Kinan.


Kinan melihat foto itu, dia melihat foto sang nenek yang selama ini merawatnya dengan baik, biarpun tidak sampai dewasa tapi nenek nya ini adalah nenek terhebat buat Kinan.


"Mas, ini nenek aku....." Kinan meneteskan air matanya dan Herlin memeluknya.


"Iya dia adalah nenek kamu, nenek Lasmi." Kata Herlin di sela-sela pelukannya, Kinan terus menangis. Dalam hatinya terus bertanya-tanya kenapa Herlin tega meninggalkan dirinya selamanya ini?


Aftar mengusap-usap punggung sang istri, bahkan Aftar yang tidak pernah menangis hari ini air matanya jatuh juga.


"Kenapa dulu ibu meninggalkan Kinan? Apa salah Kinan?" Tanya Kinan, tangisnya pecah begitu saja.

__ADS_1


"Bukan salah kamu nak, tapi semua ini salah ibu. Ibu terlalu egois," jawab Herlin penuh rasa penyesalan dalam hatinya.


Kinan melepaskan dirinya dari pelukan ibunya. "Kinan, maafkan ibu waktu itu ibu terpaksa meninggalkanmu," tutur Herlin, berharap dapat maaf dari Kinan.


"Tapi kenapa bu, tega ibu ninggalin Kinan dan nenek sendirian!" Kinan terlihat marah, sungguh ada rasa kecewa dalam hatinya.


Herlin menceritakan pada Kinan, kenapa dirinya meninggalkannya pada saat itu. Kinan mendengarkan cerita ibunya dengan baik dan dia mengerti alasan ibunya pergi begitu saja meninggalkan dia dan sang nenek ya karena keadaan ekonomi keluarganya selama ini.


Kali ini Kinan hanya bisa menangis, dia bahagia bisa bertemu dengan ibunya tapi dia juga kecewa mendengar alasan sang ibu yang begitu tega meninggalkan dirinya dan sang nenek.


"Maafkan ibu nak, ibu janji akan menebus semua kesalahan ibu selama ini." Herlin, terus berharap Kinan memaafkan dirinya.


Aftar menghela nafasnya dalam-dalam, lalu dia memegang kedua pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, aku tahu kamu pasti kecewa dan sedih. Tapi ibu yang selama ini kamu cari, dia ada di hadapanmu. Apa kamu tega melihat ibu kamu pergi lagi?" Tanya Aftar, dia tidak mau istrinya menjadi orang yang pendedam.


"Mas," Kinan menangis di pelukan Aftar. Saat ini hanya Aftar yang bisa menopang rasa sedih dan kecewa dalam hatinya.


Gara-gara ekonomi membuat Kinan harus di tinggalkan oleh sang ibu, bahkan selama ini Kinan hidup sesara dan jika Kinan mengingat semua itu rasanya Kinan ini menangis.


Aftar melepaskan Kinan dari pelukannya, sedangkan Herlin masih terisak dalam tangisnya. Sanjaya, Caca dan Vino, mereka juga ikut terharu.


Sanjaya berjalan menghampiri Kinan, lalu memberikan isyarat pada Aftar agar meyingkir. Aftar meyingkir, kini Sanjaya sudah memegang tangan Kinan sambil tersenyum.


"Cucuku, memaafkan itu hal yang baik. Jangan pernah menaruh rasa dendam apalagi dengan orang tua," nasehat Sanjaya. Sambil mengusap kepala Kinan Sanjaya tersenyum.


Kinan menganggukan kepalanya pertanda mengerti, dalam hatinya bersyukur karena hidupnya di kelilingi dengan orang-orang baik dan sangat menyayanginya.


Kinan menatap Herlin sambil tersenyum, lalu Herlin kembali menangis.


Kinan menghapus air matanya Herlin dengan kedua tangannya. "Nak, apa kamu mau memaafkan ibu?" Tanya Herlin yang di iringi Isak tangis.


"Iya bu, Kinan mau memaafkan ibu." Kinan memeluk ibunya dengan erat.


Akhirnya hari ini menjadi sebuah pertemuan yang mengharukan dan bercampur bahagia hari ini Kinan melahirkan anak pertamanya dan dia juga bertemu dengan ibu kandungnya yang selama ini dia cari.


BERSAMBUNG 🤗

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2