
"Kenapa?" Aftar mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan, membuat jantung Kinan berdetak kencang.
"Kamu mau apa?" Tanya Kinan, dia langsung menjauhkan wajahnya tapi Aftar malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan.
Jantung Kinan tiba-tiba berdetak dengan kencang, rasanya deg-deggan sekali apalagi saat ini wajah Aftar sudah semakin dekat, hebusan nafasnya juga bisa Kinan rasakan begitu dekat.
"Mas...." Lirih Kinan yang sudah memejamkan matanya.
Aftar tersenyum sambil menatap lekat wajah cantik Kinan saat ini.
"Sungguh, dia memang sangat cantik bulu matanya begitu lentik." Puji Aftar dalam hatinya.
"Jangan macam-macam!" Lirih Kinan yang belum membuka matanya.
"Dasar gadis jutek, aku hanya ingin...." Kata-kata Aftar terpotong, tiba-tiba dirinya juga merasa gerogi.
"Ingin apa?" Tanya Kinan ragu-ragu.
"Ingin mengambil ini, aku mandi dulu!" Aftar mengambil ponselnya yang ada di atas nakas meja, lalu dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk menutupi rasa gugupnya.
Setelah Aftar masuk ke dalam kamar mandi, Kinan mengeluarkan nafasnya dengan lega sungguh dia merasa sangat deg-deggan sekali, apalagi saat dia merasakan hembusan nafas Aftar sungguh di antara mereka terasa tidak ada jarak sama sekali.
Setelah beberapa lama akhirnya Aftar selesai mandi, setelah Aftar selesai mandi Kinan bergantian untuk mandi.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu Aftar sudah rapi dengan setelan kemeja warna abu-abunya. Kinan juga sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian.
Hari ini Kinan tampak cantik dengan dress warna putihnya, kulitnya yang putih membuat dirinya terlihat cerah, meka-up natural membuat dirinya terlihat semakin imut.
"Kita mau kemana?" Tanya Aftar dengan nada datar.
"Aku tidak tahu mas," Jawab Kinan sambil menundukkan kepalanya.
"Kita pergi bulan madu ehh tidak maksud aku kita liburan," Aftar tampak gugup, membuat Kinan ingin sekali tertawa tapi menahannya.
"Bulan madu? Anggap saja kita menginap di hotel ini sebagai bulan madu kita!" Jawab Kinan buru-buru.
"Aku tidak mau pergi bulan madu, aku takut terjadi sesuatu saat bulan madu." Batin Kinan dalam hatinya.
"Baiklah, jangan pergi bulan madu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Tanya Aftar sambil melihat Kinan yang terus menundukkan kepalanya.
"Baiklah, kita jalan-jalan!" Jawab Kinan, sungguh setelah kejadian tadi Kinan merasa gugup.
Aftar dan Kinan sama-sama keluar dari dalam kamar, Kinan jalan lebih dulu dan Aftar berada tidak jauh di belakang Kinan.
Belum sempat melangkahkan kakinya, tiba-tiba Aftar langsung menarik tangan Kinan dengan cepat. Kinan yang merasa terkejut tatapannya agak kesal "Ada apasih?" Tanya Kinan dengan nada kecil.
Mata Aftar melihat kesebuah tembok, mata Kinan juga mengikuti tatapan mata Aftar.
__ADS_1
"Mata-mata kakek ada dimana-mana, aku yakin ini semua untuk memastikan kita itu benar-benar menikah atau tidak. Jadi kita lakukan drama kita dengan mesra untuk melabui mata-mata kakek, karena aku yakin pasti mereka akan mengambil foto-foto kita dan mengirimkannya pada kakek." Aftar bicara dengan suara pelan pada Kinan.
Kinan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, kini tangan Kinan dan tangan Aftar sudah bergandengan dengan mesra.
Mereka berjalan sambil menunjukkan kemesraan mereka, benar apa yang dikatakan oleh Aftar ternyata dua orang yang dari tadi mengikuti dirinya dan juga Kinan itu orang suruhan kakeknya mereka mengambil foto-foto Aftar dan Kinan dan langsung mengirimkan pada Sanjaya.
Kedua penguntit itu langsung mengirimkan foto Kinan dan Kinan yang sedang bergandengan tangan dengan mesra, ada juga foto Aftar sedang mencium pipi Kinan dengan lembut.
Kinan tampak kesal, karena Aftar terus diam-diam memfaatkan keadaan.
"Bisakah kamu jangan asal cium pipiku!" Kinan menatap Aftar dengan tatapan kesal.
"Diamlah! Kita sedang berakting, jika mereka sampai mendengar maka semuanya akan kacau balau." Jawab Aftar, sambil terus mengandeng tangan Kinan dengan mesra.
Lagi-lagi Kinan hanya menurut pada Aftar. Pagi ini Aftar mengajak Kinan untuk sarapan berdua di restauran yang ada di hotel.
_______
Sanjaya yang sedang duduk sambil membaca koran, dia tampak bahagia dengan apa yang di lihatnya di ponselnya saat ini.
"Cucu-cucuku, mudah-mudahan kalian bahagia selalu dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua." Harapan Sanjaya ketika melihat foto-foto mesra Kinan dan Aftar, Sanjaya merasa sangat bahagia dan bersyukur karena cucu satu-satunya sudah menikah.
Tringg.... 1 pesan masuk.
"Pak Sanjaya, Pak Aftar dan Nona Kinan mereka terlihat mesra dan tidak ada yang mencurigakan di antara mereka."
"Bagus, terus pantau mereka tanpa sepengetahuan Aftar!"
Setelah melihat foto-foto yang telah di kirim oleh dua orang yang di suruhnya, Sanjaya kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan membaca korannya dan menikmati tehnya.
Aftar dan Kinan.
Kinan sudah memesan banyak makanan untuk dirinya sarapan, Aftar hanya geleng-geleng kepala melihat banyak makanan yang ada di meja saat ini.
"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Aftar pada Kinan.
"Tidak, kalau aku tidak habis kan ada Mas Aftar yang bisa membantu menghabiskan semuanya." Jawab Kinan dengan senyum jailnya.
Aftar tahu, pasti Kinan sengaja melakukan hal ini untuk membalas dirinya akan perbuatannya yang main cium pipinya tanpa izin.
"Baiklah, kita habiskan bersama!" Aftar dengan jail meyuapi Kinan makanan ke dalam mulut Kinan.
Lagi-lagi para penguntit suruhan kakeknya, mengambil foto mesra Kinan dan Aftar.
"Kamu juga harus makan, mas!" Kinan melirik kesal Aftar, sambil meyuapi makanan ke dalam mulutnya Aftar.
Pagi ini mereka terus berakting karena dua penguntit yang di suruh kakeknya untuk mengawasi mereka berdua. Aftar juga sekali-kali memanfaatkan kesempatan membuat Kinan merasa kesal tapi akting mereka cukup bagus, karena Sanjaya juga tidak curiga sama sekali dengan Kinan dan Aftar.
__ADS_1
Vira dan Arga.
Badan Vira masih panas, pagi ini Vira juga hanya berbaring di atas ranjang tempat tidur saja.
Arga yang dari tadi sudah bangun dengan penuh perhatian dia sudah membuatkan bubur untuk Vira.
"Kamu sudah bangun?" Arga duduk di tepi ranjang, sambil mengecek keadaan Vira "Masih panas, aku kompres dulu ya." Arga beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil air untuk mengompres Vira.
Vira diam-diam tersenyum, dia merasa Arga begitu perhatian pada dirinya.
"Apa Arga sudah berubah? Atau mungkin dia hanya merasa kasian padaku." Batin Vira dalam hatinya.
Arga kembali ke kamar sambil membawa baskom berisi air untuk mengompres Vira. Dengan sabar Arga mengompres Vira, setelah mengompres Vira. Arga juga membantu Vira berganti pakaian, tapi Vira menggelengang kepalanya karena merasa malu.
"Aku bisa sendiri." Lirih Vira, raut wajahnya tampak merah.
"Diamlah, aku ini suamimu biar aku yang merawatmu saat kamu sedang sakit. Dan ingat jangan pernah sebut nama laki-laki itu lagi!" Kata Arga dengan nada agak membentak, tapi matanya menunjukkan ketulusan.
Vira menganggukkan kepalanya "Apa, maksud kamu itu Rasyah?" Tanya Vira dengan suara lirih.
"Aku bilang jangan sembut namanya!" Arga lagi-lagi membentak Vira, karena rasanya sangat kesal.
Vira menggunakan kepalanya dan membiarkan Arga melakukan apa yang dirinya mau.
Dengan sabar Arga mengantikan pakaian Vira, Arga juga melihat jelas tubuh mulus membuat Arga hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
"Mulus sekali, bahkan g*n*Ng k*mb*rnya terlihat sangat kencang." Batin Arga dalam hatinya.
Vira tampak malu-malu, tapi dia berusaha menutupi rasa malunya. Lagian yang melihat lekuk tubuhnya itu adalah suaminya sendiri.
"Sudah selesai, sekarang kamu makan buburnya lalu minum obat!" Arga mengambil bubur yang ada di nakas meja, lalu meyuapkan ke mulut Vira dengan sabar.
"Ini bubur..." Kata-kata Vira terpotong.
"Ini bubur buatanku." Sambung Arga dan di anggukin oleh Vira.
Setelah selesai makan bubur, Arga memberikan obat pada Vira, lalu Vira meminum obat itu.
"Terimakasih," Vira tersenyum pada Arga.
Arga menganggukkan kepalanya "Ingat, jangan sebut-sebut nama laki-laki lain lagi!" Arga menatap Vira dengan tatapan penuh arti.
"Apa kamu....?" Vira tersenyum, tapi dia juga ragu melanjutkan perkataannya.
"Apa?" Arga melihat Vira.
BERSAMBUNG 😊
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🙏