
Beberapa hari telah berlalu, Kakek Sanjaya akhirnya pulang karena mendengar kabar bahagia bahwa Kinan sedang hamil.
Bertapa bahagianya Sanjaya akhirnya impiannya untuk punya cicit akan segera terwujud.
Kinan dan Aftar yang masih di dalam kamar dan tidak tahu kalau Sanajaya hari ini pulang karena Sanjaya sengaja ingin memberikan kejutan pada Kinan dan juga Aftar.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Sanjaya sudah duduk di ruang makan sambil menunggu Kinan dan Aftar yang belum keluar dari dalam kamar mereka.
"Siapkan susu untuk cucu menantuku!" Pinta Sanjaya dan Ijah langsung pergi membuatkan susu untuk Kinan.
Setelah beberapa lama Ijah datang dari dapur sambil membawa susu putih untuk Kinan. Ijah menaruh susu itu di atas meja, lalu dia kembali ke dapur.
Kinan sudah cantik dengan dress warna pinknya. Aftar juga tampan dengan setelan jas warna hitamnya, kini mereka bersama-sama keluar dari dalam kamar mereka dan langsung pergi menuju ke meja makan.
Mata Kinan membulat sempurna, bibirnya langsung tersenyum melihat Sanjaya sudah duduk di meja makan. "Kakek....." Teriaknya sambil berlari lalu memeluk Sanajaya.
Aftar hanya geleng-geleng kepala, menurutnya istrinya itu begitu ceroboh karena sangking bahagianya melihat sang kakek. Dia lupa kalau dirinya sedang hamil dan tidak boleh berlari karena takut terjatuh.
"Kakek, Kinan sangat merindukan kakek," tutur Kinan dengan begitu manja.
Sanjaya tersenyum, lalu Kinan melepaskan pelukannya dari Sanjaya.
"Kamu duduklah, kamu harus makan yang banyak dan tidak boleh kecapean. Kamu tahu kakek pulang, karena kakek dengar kamu sedang hamil." Sanjaya tertawa kecil, raut wajahnya tampak bahagia.
"Kakek sudah tahu," Kinan terus memancarkan senyum bahagianya.
"Aftar mengirim pesan pada kakek," jawab Sanjaya sambil tersenyum.
Aftar menarik kursi lalu duduk di sebelah Kinan. "Apa Kakek dan kamu akan terus mengobrol? Ayo sarapan dulu," kata Aftar dengan nada lembut.
Kinan mengambilkan makanan untuk suaminya dan kakeknya. Kini mereka menikmati sarapan pagi dengan begitu bahagia, Kinan juga tidak lupa minum susu yang sudah di sediakan oleh Sanjaya.
Setelah selesai sarapan Sanjaya duduk di sofa, Aftar dan Kinan juga ikut duduk di sofa.
"Ijah, kemarilah!" Panggil Sanjaya. Ijah yang mendengar panggilan itu dia beranjak dari dapur dan berjalan menuju ke tempat Sanjaya duduk. "Iya pak ada apa?" Tanya Ijah.
Sanjaya mengeluarkan tas pribadinya, lalu dia mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam tasnya itu. "Ini bagikan pada seluruh pekerja di rumah ini! Ini adalah rasa syukurku karena cucu menantuku sedang mengandung cicit pertamaku," Sanjaya tersenyum dengan senang hati Ijah menerima uang gepokan yang di berikan oleh Sanjaya.
Sesuai dengan perintah Sanjaya, Ijah membagikan uang yang Sanjaya berikan dengan adil dan rata pada semua pekerja di rumah Sanjaya. Mereka yang menerima uang dari Sanjaya terlihat bahagia dan sangat bersyukur.
__ADS_1
***
Jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi, Akhirnya hari ini Aftar terlambat berangkat ke kantor karena sangking asiknya mengobrol dengan sang kakek.
"Sayang, sudah jam setengah 8. Aku berangkat ke kantor ya, apa kamu mau ikut dengan mas?" Aftar membelai rambut Kinan dengan lembut.
"Berharap kamu ikut dengan mas, biar mas kerjanya semangat." Batin Aftar dalam hatinya.
Kinan tersenyum, belum sempat menjawab Sanjaya langsung menatap Aftar dengan tatapan tegas. "Tidak, hari ini Kinan harus temanin Kakek di rumah!" Sanjaya tersenyum pada Aftar.
Kalau sudah seperti ini, Aftar bisa apa? hanya bisa mengiyakan apa yang di inginkan oleh sang Kakek tanpa melakukan pembantahan.
"Mas, aku di rumah saja tidak apa-apakan?" Tanya Kinan dan Aftar mengangguk sambil mengusap wajah cantik istrinya. "Iya sudah, mas berangkat dulu ya." Aftar mencium kening Kinan dengan penuh cinta.
"Iya mas hati-hati! Cepat pulang," Kinan menyalami tangan suaminya lalu mencium tangan suaminya.
Aftar berlalu pergi dari hadapan Kakeknya dan istrinya. Setelah Aftar pergi ke kantor Kinan dan Sanjaya asik mengobrol.
"Kakek, kenapa pulang tidak bilang dulu sama Kinan?" Tanya Kinan, dia memeluk kakeknya dengan penuh kasih sayang.
"Kakek sengaja memberikan kejutan untuk kamu dan Aftar," jawab Sanjaya dengan nada lembut.
Kinan melepaskan dirinya dari pelukan Sanjaya, lalu dia tersenyum bahagia. Dia juga tertawa kecil apalagi melihat Sanjaya yang terus tersenyum bahagia.
"Kakek, bagaimana kalau Kinan ajak Kakek jalan-jalan?" Tanya Kinan dengan begitu antusias.
"Nanti kamu kamu kecapean," Sanjaya terlihat kawatir.
"Tidak kek, kan hanya jalan-jalan di taman sekalian Kinan juga pingin jajan." Kinan terus menyakinkan Sanjaya dan akhirnya Sanjaya setuju.
Seperti biasanya Kinan mendorong Sanjaya yang sudah naik di kursi roda. Dan pagi ini mereka jalan-jalan di temanin oleh Ijah dan Pak Arif.
****
Aftar baru saja sampai di kantor dan dia langsung pergi menuju ke ruangan Vino karena ada hal penting.
"Ceklek," Aftar membuka pintu ruangan Vino dengan pelan.
Sejenak Aftar terdiam, dia terus melihat Vino yang terus memegangi bibirnya dengan jari-jarinya. Bahkan Vino juga senyam-senyum sendiri seperti orang tidak waras.
__ADS_1
"Vino kenapa? Apa dia sudah gila?" Tanya Aftar dalam hatinya.
"Kamu membuatku gila!" Cetus Vino tanpa sadar yang ternyata di dengar oleh Aftar.
"Hahh, siapa yang membuat Vino gila? Aku yakin pasti ada yang tidak beres," Hati Aftar berbicara.
Aftar melangkahkan kakinya menuju ke meja kerja Vino. Kini Aftar sudah duduk di kursi yang terbatas meja kerja Vino, tapi Vino belum sadar kalau ada Aftar di hadapannya.
Vino terus tersenyum, pikirannya semakin traveling kemana-mana mengingat ciuman dirinya dengan Caca.
"Sungguh, aku harus menjadikan dia sebagai milikku selamanya!" Vino tersenyum penuh semangat.
Aftar hanya bisa geleng-geleng kepala, rasanya ingin sekali menyiram Vino dengan air agar Vino sadar dan tidak seperti orang gila lagi.
"Aku akan mengejarnya, aku akan mendapatkan dia!" Vino begitu yakin, raut wajahnya tampak begitu semangat.
Sungguh Aftar tidak tahan melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Apakah laki-laki jomblo ini kesambet? Kenapa dia semakin gila?" Tanya Aftar pada hatinya.
"Hee.... sadarlah!" Aftar melempar Vino dengan pulpen yang ada di meja kerjanya Vino.
"Aish..." Vino berdecak kesal, lalu dia melihat Aftar yang sudah duduk di kursi tepat di hadapannya. "Pak Aftar!" Vino terkejut, dia terkekeh malu.
"Sudah selesai travelingnya?" Tanya Aftar.
"Traveling kemana pak? Saya dari tadi hanya duduk saja," jawab Vino dengan begitu polosnya.
"Sudahlah lupakan, katakan padaku siapa yang mau kau jadikan selamanya untukmu? Apa dia seorang wanita?" Tanya Aftar penuh selidik.
"Dia adalah seorang wanita....." kata-kata Vino mengantung, karena ada yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Tok..tok..." suara ketukan pintu.
"Sebentar pak, masuklah!" sahut Vino dari dalam ruangannya.
"Ceklek.....!"
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊