Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Ciuman pertama


__ADS_3

"Apa maksud bapak itu adalah Ronal?" Jawab Caca dengan nada lembut.


"Iya mungkin, katakan Ronal itu siapa?" Vino menatap Caca dengan tatapan tegas.


"Dia adalah.....!" Caca menghentikan kata-katanya.


"Haruskah aku mengatakan Ronal itu siapa pada Vino?" Tanya Caca dalam hatinya.


Menurut Caca pertanyaan Vino itu tidak penting sama sekali karena Vino juga bukan siapa-siapanya.


"Bapak, tidak perlu tahu laki-laki yang bersama saya itu siapa?" Jawab Caca, dia tidak berani melihat Vino dan hanya bisa menundukkan kepalanya.


Vino mengangkat dagu Caca dengan tangannya dengan lembut, kini sorot matanya terus menatap manik mata Caca dengan tatapan penuh arti.


"Aku akan membuat dia mengatakannya padaku!" Batin Vino begitu yakin.


"Pak Vino..." Lirih Caca, yang lagi-lagi berusaha mengalihkan tatapannya tapi Vino menahannya sorot mata Vino meminta jawaban.


"Apa? Katakan padaku laki-laki itu siapa? Bukankah kamu bilang waktu itu, kamu belum punya kekasih." Kata Vino, membuat Caca semakin bingung di buatnya.


"Apa perduli Pak Vino dengan urusan pribadiku? Lalu kalau dulu aku tidak punya kekasih dan sekarang sudah punya gebetan, apa aku salah?" Lagi-lagi Caca bertanya pada hatinya.


"Dia adalah gebetan baruku!" Jawab Caca dengan tegas.


Seketika sorot mata menjadi begitu marah, entahlah hatinya juga tiba-tiba tidak terima mendengar jawaban dari Caca.


"Mulai sekarang lepaskan gebetan barumu itu! Karena hanya aku yang bisa mendekati dirimu!" Kata Vino, membuat Caca ingin sekali tertawa.


"Pak Vino, sepertinya dia kesambet." Caca tertawa dalam hatinya.


"Pak, hak apa bapak melarang saya menyuruhku menjauhi Ronal? Dia laki-laki baik lagian aku juga jomblo," tolak Caca penuh dengan penegasan.


"Karena mulai sekarang aku yang akan menjadi gebetan barumu!" Vino mempertegas perkataannya, lalu dia tiba-tiba menempelkan bibirnya di bibir Caca dan mencium bibir Caca dengan lembut.


Caca berusaha memberontak tapi Vino tangan Vino malah menarik tekuk leher Caca agar bisa memperdalam ciumannya. "Emm.." Desah Caca, nafasnya mulai tersengal-sengal karena Vino terus menciumnya dengan begitu nikmat.

__ADS_1


Setelah beberapa lama Vino melepaskan ciumannya, lalu dia tersenyum dan reflek tangan Caca langsung menampar pipi kekar Vino. " Dasar laki-laki kurang ajar! Plakkk..." Caca menatap Vino dengan penuh amarah.


Vino memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Caca.


"Minggir!" Caca akhirnya mendorong Vino dengan kasar dan dia langsung berlalu pergi meninggalkan Vino yang masih terdiam di bawah pohon.


Vino terdiam tidak bergeming, sungguh dia merasa kalau dirinya ini begitu lancang pada Caca.


"Apa aku sudah gila? Aku baru saja mencium bibir Caca." Batin Vino dalam hatinya, dia masih belum percaya kalau dirinya punya keberanian berbuat seperti tadi.


"Caca pasti sangat marah padaku, Vino kamu bodoh sekali, sungguh kamu sudah membuat Caca takut gara-gara ciuman tadi." Vino berdecak kesal, dia sangat menyesali perbuatannya pada Caca baru saja.


Dengan langkah gontai dan terus memegangi bibirnya, Vino merasa sangat menyesal.


Caca saat ini berada di dalam kamar mandi, dia bercermin sambil memegangi bibirnya yang tadi di cium oleh Vino.


"Kenapa, Pak Vino melakukan ini?" Caca terus memegangi bibirnya.


"Apa Pak Vino ini sudah gila, ini adalah ciuman pertamaku tapi dia merenggutnya begitu saja!" Caca terus mencuci mulutnya dengan air, berharap bekas ciuman bekas Vino hilang dari bibirnya.


Setelah beberapa lama Caca keluar dari dalam kamar mandi dan tidak sengaja berpapasan dengan Vino. Tapi Caca bersikap cuek dan hanya berlalu pergi dari hadapan Vino begitu saja.


Di ruangan Aftar


Aftar baru saja selesai dengan pekerjaannya, hari ini dia begitu santai karena memang tidak terlalu banyak pekerjaan. Setelah selesai dengan pekerjaannya Aftar beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Kinan yang sedang menikmati roti bakar dan susu yang tadi dirinya pesan.


"Mas, kamu sarapan dulu ya! Nanti perut kamu sakit," pinta Kinan dia menyuapkan roti bakar yang ada di tangannya ke dalam mulut Aftar, tapi Aftar menolaknya.


"Sayang, mas mual sekali. Kenapa sih calon anak kita ini malah menyuruh bapaknya yang ngidam?" Tanya Aftar, membuat Kinan hanya bisa tersenyum simpul.


Kinan meriah tangan Aftar, lalu menciumnya dengan penuh cinta.


"Sabar ya mas, aku yakin pasti jika anak kita lahir nanti dia akan sangat manja padamu," tutur Kinan dengan nada lembut.


Aftar tersenyum lalu mengelus-elus perut Kinan yang masih rata. "Sayang anak papa kamu pintar sekali ya, papa yang di buat ngidam." Aftar tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Sabar ya pa!" Jawab Kinan yang seolah-olah menjadi anak yang masih ada di dalam perut dirinya.


Aftar membaringkan kepalanya di pangkuan Kinan, karena Aftar merasa setiap dekat dengan sang istri seketika rasa mual hilang dan bawaannya pingin di manja terus oleh Kinan.


Kinan mengusap-usap rambut sang suami dengan penuh kelembutan, tiba-tiba Aftar melihat Kinan lalu tersenyum.


"Kenapa mas?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Sayang, mas bawaannya pingin nyusu terus kalau melihat kamu." Jawab Aftar, Kinan ternganga tidak percaya.


"Apa ini salah satu bagian ngidam Mas Aftar? Haruskah dia menyusu di kantor seperti ini?" Batin Kinan dalam hatinya.


"Tapi mas ini di kantor, bagaimana kalau ada yang melihat?" Tanya Kinan, dia sejenak berpikir macam-macam.


"Tidak akan ada yang melihat, mas juga sudah mengunci pintu ruangan mas." Jawab Aftar, dia berusaha meyakinkan istrinya.


Tanpa menunggu jawaban dari Kinan, tiba-tiba tangan Aftar sudah melepaskan satu-persatu kancing baju Kinan dengan cepat. Setelah kancing baju Kinan terlepas Aftar melepaskan pengait b*a Kinan lalu mengeluarkan dua gunung kembar Kinan hingga terlihat begitu jelas.


"Mas...." Kinan menggelengang kepalanya, tapi Aftar sudah mengarahkan bibirnya ke salah satu gunung kembar milik Kinan.


Kini Aftar mulai meng*l*mnya dengan lembut agar, lalu pelan-pelan mengh*s*pnya dan Kinan hanya bisa pasrah dengan ulah sang suami.


Setelah puas Aftar menghentikan aksinya, Kinan juga langsung membenarkan bajunya yang sudah berantakan karena ulah sang suami.


Aftar tersenyum. "Terimakasih Sayang, biarkan mas bobok sebentar ya!" Kata Aftar dia memejamkan matanya.


Setelah selesai membenarkan bajunya dan merapikannya dengan rapi. Kinan mengelus-elus kepala sang suami agar dia tertidur dengan begitu nyeyak.


"Mas, kenapa kamu sekarang maunya nyusu terus?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Mas juga tidak tahu, mas suka dekat dengan kamu karena rasa mual mas jadi hilang. Tapi kalau nyusu mas suka dan akhir-akhir ini mas suka tiba-tiba pingin nyusu seperti bayi." Aftar tersenyum pada Kinan, memang seperti itu kenyataannya.


Kinan hanya diam, memang akhir-akhir ini suaminya sangat manja pada dirinya tapi mau bagaimana lagi mungkin ini bawaan bayi yang sedang Kinan kandung.


BERSAMBUNG 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


Up malam, karena besok ada acara 🙏


__ADS_2