Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Gara-gara ide Vino


__ADS_3

"Pak Aftar, apa kamu mengenal wanita di meja itu?" Tanya Aurel semakin penasaran.


"Sebenarnya apa yang mereka lihat?" Batin Aurel dalam hatinya.


"Aku...." kata Aftar terhenti, tatapannya semakin kesal karena melihat Kinan begitu akrab dengan Ziyan.


"Kinan, kamu itu ya sekarang sudah pintar ya." Batin Aftar dalam hatinya.


"Aku apa Pak Aftar?" Tanya Aurel, kini dia semakin penasaran. Dalam hatinya apasih yang di lihat oleh Aftar?


Vino sudah mengepalkan kedua tangannya, kini tatapannya semakin kesal melihat Caca tampak akrab dengan Nino.


"Siapa laki-laki itu? Dasar Caca, tapi tunggu! Apa sekarang aku yang sedang merasakan cemburu?" Batin Caca dalam hatinya.


Di meja Kinan dan Caca, kini mereka sedang menikmati makanan pesanan mereka sambil mengobrol.


"Kinan, kamu semakin cantik. Kalau kamu jadi janda aku siap buat menikahimu," goda Ziyan dia tertawa kecil. Caca juga ikut tertawa kecil, "Iya Kin, lagian buat apa? Suami saja sudah berani main api," sambung Caca dengan sengaja Caca mengeraskan suaranya.


Meja mereka yang tidak terlalu jauh, membuat Aftar dan Vino bisa mendengar obrolan Kinan dan Caca.


"Biarkan saja kak, aku masih cantik. Pasti banyak yang menanti jandaku." Kinan melirik Aftar, dia tahu pasti suaminya ini sedang kalang-kabut tidak karuan.


"Coba seberapa tahan kamu menahan rasa cemburumu, mas?" Kinan tertawa dalam hatinya.


"Iya Kin, aku percaya buktinya Ziyan juga siap menunggu jandamu!" Sambung Caca, dengan sengaja.


Kini di meja Aftar dan Vino sungguh suasananya sudah tidak karuan, dua laki-laki ini sama-sama menahan rasa cemburunya.


Heslin dan Aurel juga semakin bingung dengan klien dan sekretarisnya ini? Kenapa dengan mereka?


"Sekertaris Vino, kamu tidak memakan makananmu?" Tanya Heslin dengan nada lembut.


"Iya, Pak Aftar juga tidak memakan makananmu pak?" Tanya Aurel, sungguh dia merasa kesal karena dari tadi Aftar tidak memperdulikan dirinya.


"Aku sudah dandan secantik ini, tapi Pak Aftar tidak sedikitpun melihatku?" Batin Aurel dalam hatinya.


"Nona Aurel, Nona Heslin, kita permisi dulu ya! Soalnya ada urusan rumah tangga." Aftar beranjak dari tempat duduknya, Vino juga beranjak dari tempat duduknya. Kini keduanya sama-sama pergi dari mejanya.

__ADS_1


Di meja Kinan dan Caca begitu adem, apalagi obrolan mereka juga terlihat hangat. Nino dan Ziyan juga diajak sekongkol mereka sangat kompak jadi ini sangat mempermudah Kinan dan Caca menjalankan rencananya.


"Oh iya Kin, kamu pergi denganku suamimu tidak marah?" Tanya Ziyan, dia sengaja agar Aftar semakin kesal.


"Biarkan saja marah, dia saja sedang meeting bersama klien cantik," jawab Kinan dengan nada lembut. Tatapannya juga begitu lembut pada Ziyan.


"Apa-apaan Kinan, dia berani sekali menatap laki-laki lain dengan tatapan seperti itu," batin Aftar dalam hatinya.


"Lalu kamu Ca?" Tanya Nino pada Caca.


"Aku mah, baru belum lama pacaran. Kalau dia saja bisa bermain dengan wanita lain, aku juga bisa bermain dengan laki-laki lain," jawab Caca. Tawanya begitu lembut, Nino saja tidak akan menolak jika Caca masih jomblo.


Aftar dan Vino sama-sama mengepalkan kedua tangannya. Kini wajah mereka sudah di penuhi dengan amarah, rasanya sudah tidak tahan sekali melihat para wanitanya bersama dengan lain.


"Ehem...ehem....." Aftar berdehem sambil melipat kedua tangannya ke dada.


"Istriku!!" Serunya dengan tatapan garang, Kinan menoleh ke sumber suara tapi dia malah mengabaikan suaminya.


"Caca, ikut aku sekarang!!" Vino meraih tangan Caca, lalu dia menariknya entah kemana?


Aftar juga melakukan hal yang sama, apalagi Kinan malah mengabaikannya begitu saja sungguh ini membuat Aftar semakin kesal.


"Aku mau menyelesaikan masalah rumah tangga kita, kamu itu ya bisa-bisanya malah makan bersama dengan laki-laki lain." Aftar terus mengoceh, membuat Kinan berdecak kesal.


Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil, Aftar langsung melajukan mobilnya rasanya ingin sekali cepat-cepat sampai rumah agar bisa memberikan pelajaran pada istrinya.


Vino dan Caca kini berada di sebuah taman dengan kasar Caca melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Vino.


"Jangan sentuh aku!" Sentak Caca, tatapannya begitu marah.


"Kenapa kamu pergi dengan laki-laki lain?" Tanya Vino dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Kamu saja bisa dengan wanita lain, iya aku bisa melakukan hal yang sama," tutur Caca. Tentu saja dia juga tidak mau kalah dari Vino.


Vino semakin berdecak kesal, rasanya kesal sekali hatinya di penuhi dengan rasa cemburu yang begitu dalam.


"Tapikan mereka hanya klien!" Tegas Vino.

__ADS_1


"Terserah, kamu sengaja kan membuat aku dan Kinan marah. Ini juga semua rencanamu, aku mendengar semuanya waktu di ruangan meeting." Caca terus mengoceh, Vino yang mulai tapi dia yang tidak terima.


"Sudahlah, aku lelah. Aku mau pulang, intinya kalau kamu bisa macam-macam aku juga bisa melakukan hal yang sama!" Tegas Caca dan dia langsung berlalu pergi dari hadapan Vino, kini Caca pergi naik taksi dan Vino hanya terdiam.


"Sekarang, aku membuatnya marah. Aish Vino, niatnya biar Caca cemburu ini malah menjadi seperti ini." Vino mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Dengan langkah gontai, Vino melangkahkan kakinya sambil memikirkan cara bagaimana meminta maaf kepada Caca?


****


Di kediaman Aftar, Sanjaya yang sedang duduk di sofa merasa bingung apalagi Kinan dan Aftar yang biasanya terlihat mesra, malam ini mereka begitu cuek, bahkan jalan aja tidak bergandengan.


"Kinan, Aftar, kalian sudah pulang?" Tanya Sanjaya, dia melihat kedua cucu dan cucu menantunya.


"Sudah kek, kek Kinan ke kamar dulu ya." Kinan tersenyum pada Sanjaya, lalu dia berlalu pergi ke kamar.


"Aftar, katakan apa yang terjadi? Kakek yakin pasti kamu sudah membuat masalah, sampai Kinan terlihat kesal," tanya Sanjaya penuh selidik.


Aftar terdiam, jika dia mengatakan apa yang terjadi pada kakeknya pasti Sanjaya akan sangat marah padanya. Apalagi saat ini Kinan juga sedang hamil. Sanjaya pasti tidak akan segan-segan memarahinya habis-habisan.


"Semua ini gara-gara ide Vino. Aftar kamu itu bodoh mengikuti ide gila Vino dan sekarang Kinan pasti sangat marah." Batin Aftar dalam hatinya.


"Hanya salah paham, kek." Jawab Aftar dia tidak berani berkata jujur pada Sanjaya.


"Selesaikan salah paham yang ada secepatnya! Awas saja jika kamu sampai membuat Kinan sakit hati, makan kakek akan membawa Kinan pergi dari rumah!" Ancam Sanjaya, hati Aftar semakin kacau dia tidak akan rela jika Sanjaya membawa istrinya pergi dari rumah.


"Baik kek, Aftar susul Kinan ke kamar dulu ya kek." Aftar berlalu pergi menyusul Kinan ke kamar.


Sanjaya menghela nafasnya, apalagi yang di perbuat cucunya pada cucu menantu kesayangannya itu?


"Aftar, awas saja jika Kinan sampai kenapa-kenapa. Kakek tidak akan segan-segan membawa Kinan pergi dari rumah." Batin Sanjaya dalam hatinya.


Sesampainya di kamar, Kinan sudah berbaring di atas tempat tidur. Dia tidur dengan posisi membelakangi suaminya dan Kini Aftar sudah duduk di tepi ranjang.


Entah, bagaimana Aftar akan menyelesaikan masalahnya ini?


BERSAMBUNG 😊

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 🤗


__ADS_2