
"Kinan, aku mencintaimu!" Aftar menarik tekuk leher Kinan dan mereka berciuman di hadapan Karin dan Vino.
"Aftarrrr......!" Teriak Kinan dengan penuh amarah tapi Aftar malah mengabaikannya dan dia hanya fokus ciumannya dengan Kinan.
Setelah beberapa lama Aftar melepaskan ciumannya, sungguh jantung Kinan berdetak dengan kencang bahkan Kinan tampak ternganga tidak percaya dengan yang Aftar lakukan pada dirinya tadi.
"Apa ini bagian dari akting atau bagian dari kontrak?" Tanya Kinan pada hatinya.
"Aftar, berhentilah bergurau!" Pinta Karin sambil berdecak kesal, tangannya sudah mengepal erat ingin rasanya mencabik-cabik wajah cantik Kinan.
"Bergurau? Karin, ini kenyataan yang ada aku memang sudah menikah dengan Kinanti Alisya, jika kamu tidak percaya aku akan tunjukkan buktinya." Aftar menggeser layar ponselnya, lalu menunjukkan foto pernikahan dirinya dan Kinan.
Rasanya hati Karin bagi teriris-iris pisau yang sangat tajam, Karin menahan amarahnya. Lalu matanya tertuju ke Vino yang dari tadi meyaksikan pertunjukan yang ada di hadapannya itu.
"Vino, katakan padaku. Aftar sedang bergurau kan? Aftar tidak mungkin menikah dengan gadis miskin itukan?" Tanya Karin pada Vino.
"Mereka memang sudah menikah, Nona Karin." Jawab Vino yang kembali menegaskan perkataan Aftar.
"Kamu tega Aftar, kamu sudah menyakiti hatiku." Karin berlari pergi dari ruangan Aftar, seketika tangisnya pecah menghadapi kenyataan yang ada saat ini.
Aftar membiarkan Karin pergi begitu saja, bahkan dia tidak coba mencegahnya sama sekali.
Banyak pegawai kantor Aftar yang melihat Karin berlari sambil menangis.
"Kenapa, Nona Karin menangis sambil berjalan?"
"Mungkin bertengkar dengan Pak Aftar."
"Baguslah, aku berharap mereka putus saja. Sungguh aku sangat tidak suka dengan Karin yang begitu sombong."
"Hush, jangan bilang seperti itu!"
"Aku bicara kenyataan, Karin itu memang sombong."
"Sudahlah jangan bergosip! Atau Pak Aftar akan memecat kita nanti."
Para pegawai bubar dan mereka langsung menuju ke tempat kerja mereka masing-masing.
Pegawai kantor Aftar memang sangat kenal dengan Karin, karena dulu Aftar sering membawa Karin ke kantornya. Tapi banyak pegawai kantor Aftar yang tidak suka dengan Karin karena terlalu sombong mentang-mentang pacarnya bos Karin sering memarahi para pegawai Aftar seenak jidat sendiri.
Di ruangan Aftar.
Aftar, Kinan dan Vino mereka saling terdiam di ruangan Aftar. Saat ini ruangan Aftar terasa hening tanpa ada suara sama sekali.
__ADS_1
Aftar menghela nafasnya dengan pelan, lalu memberikan isyarat pada Vino agar keluar dari dalam ruangannya. Vino yang paham akan isyarat yang Aftar berikan Vino langsung keluar dari dalam ruangan Aftar.
Kini di ruangan Aftar hanya ada Aftar dan Kinan.
"Kinan, kenapa kamu diam saja?" Tanya Aftar mencoba memecahkan keheningan yang ada saat ini.
"Emm, tidak apa-apa pak. Oh iya pak apa wanita itu....." Kata-kata Kinan terpotong.
"Tidak usah membahasnya, kamu duduklah aku akan menyelesaikan pekerjaanku lalu kita pergi makan siang berdua." Aftar memotong perkataan Kinan, karena enggan membahas masalah Karin.
Kinan hanya diam dan menuruti apa kata Aftar, kini Kinan sudah duduk di sofa dan Aftar kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Karin, aku tidak menyangka kamu yang selama ini begitu aku cintai ternyata kamu tidak sebaik yang aku kira selama ini. Rasanya lega sekali karena aku sudah bisa membongkar kebusukanmu." Batin Aftar dalam hatinya.
Kinan hanya diam sambil memperhatikan Aftar yang sedang sibuk dengan kerjaannya.
"Mas Aftar, kamu bilang kamu mencintaiku apa artinya? Auh sudahlah Kinan, Aftar melakukan itu hanya untuk meyakinkan Karin saja." Batin Kinan dalam hatinya.
Sambil berkerja hati Aftar merasa bahagia, ntahlah apa yang membuat Aftar bahagia? Sekali-kali mata Aftar melirik Kinan diam-diam yang sedang duduk di sofa.
"Kinan, kamu begitu cantik, kamu juga sangat baik biarpun kamu jutek tapi kamu sangat berbeda dengan Karin." Diam-diam hati Aftar membandingkan Kinan dan Karin.
"Mas, apa masih lama? Aku pulang saja ya?" Tanya Kinan tiba-tiba.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya dan Aftar membereskan meja kerjanya karena kerjaannya sudah selesai.
Aftar beranjak dari kursi kerjanya, lalu dia menghampiri Kinan yang sedang duduk di sofa.
"Kita, pergi makan siang sekarang?" Tanya Aftar pada Kinan dan di anggukin oleh Kinan.
Aftar mengeluarkan tangannya. "Ayo berangkat!" Ajak Aftar dan Kinan menerima uluran tangan Aftar.
Aftar mengandeng tangan Kinan dengan mesra dan mereka langsung menuju ke kantin kantor.
Karin.
Karin baru saja sampai rumah, dia langsung membantingkan dirinya di atas tempat tidur sungguh hari ini Karin merasa sangat marah, bahkan kecewa pada Aftar.
"Aku harus membuat gadis miskin itu pergi meninggalkan Aftar. Aku tidak rela jika Aftar hidup bahagia bersama dengannya."
"Aftar, kamu tega menyakitiku, kamu tega menghiyati hubungan kita."
"Aku harus cari cara, bagaimana caraku untuk memisahkan mereka."
__ADS_1
"Aftar Sanjaya, kamu adalah tambang emas ku jika aku kehilanganmu maka aku juga akan kehilangan sebagian hidupku."
Karin terus mengoceh seperti burung beo, bahkan tanpa dia mencabik-cabik bantal yang dia pegang hingga isinya berserakan dimana-mana.
Karin beranjak dari tempat duduknya, lalu dia menuju ke meja Rias. "Dasar Aftar laki-laki br*ngsek." Teriak Karin sambil mengobrak-abrik meja rias itu hingga semuanya berantakan dan berserakan kemana-mana.
Aftar dan Kinan.
Aftar dan Kinan sedang menikmati makan siang mereka. Banyak mata para pegawai yang tertuju pada Kinan dan Aftar menurut mereka Aftar lebih serasi dengan Kinan daripada dengan Karin.
"Mereka sangat cocok."
"Aku denger mereka memang sudah menikah."
"Iya, hanya saja pernikahan mereka tidak banyak orang yang tahu."
"Mungkin, mereka menikah secara rahasia."
"Sudahlah, kita jangan bergosip. Yang penting kita tahu kalau Kinan itu sudah menikah dengan Pak Aftar."
"Iya Kinan beruntung sekali bisa menikah dengan Pak Aftar."
Para pegawai yang melihat Aftar dan Kinan, mereka terus bergosip.
Setelah selesai makan siang, Aftar mengajak Kinan kembali ke ruangannya tapi tiba-tiba Kinan menahan tangan Aftar. "Kenapa?" Tanya Aftar sambil melihat Kinan.
"Aku mau pulang saja mas." Jawab Kinan dengan suara lirih.
Aftar mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam ruangannya. " Bagaimana, kalau aku ajak kamu jalan-jalan?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
Kinan bingung harus bersikap seperti apa? Kinan ingin menanyakan apa maksudnya Aftar bilang mencintai dirinya, tapi Kinan tidak punya keberanian sama sekali setiap kali ingin bertanya lidahnya terasa kaku tiba-tiba.
"Jalan-jalan, kemana mas?" Tanya Kinan.
"Nanti kamu akan tahu." Jawab Aftar.
Aftar mengandeng tangan Kinan keluar dari kantornya, kini mereka sudah naik mobil ntah Aftar mau mengajak Kinan kemana?
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Ini hanya sebuah cerita karangan Author saja, mudah-mudahan kakak-kakak semuanya terhibur dengan cerita yang Author buat 🙏
__ADS_1