
Sesampainya di rumah sakit, Kalandra dan Kenzo sama-sama membangunkan istri-istri mereka yang masih tertidur pulas, mungkin karena kelelahan apalagi mereka sedang hamil muda.
Kini setelah Melly dan Kimmy bangun. Kenzo, Melly, Kalandra, Kimmy dan Revan langsung masuk ke dalam rumah sakit.
Mereka duduk di kursi tunggu sedangkan Kalandra datang menemui Dokter yang sedang menangani para pelanggan cafe yang mengalami keracunan tadi.
"Dok, bagaimana keadaan para korban?" tanya Kalandra, terlihat sangat kawatir diraut wajah tampannya.
"Semuanya baik-baik saja pak, hanya saja ada beberapa yang harus dirawat untuk beberapa hari, tapi ada yang sudah boleh pulang juga pak," jawab sang Dokter.
Seketika hati Kalandra merasa lega, bagi Kalandra biaya bukanlah masalah, tapi kalau salah satu korbannya ada meninggal itu yang membuat Kalandra sangat takut.
"Terimakasih Dok, rawat semuanya dengan baik ya Dok, untuk masalah biaya saya yang akan menanggung semuanya." Pinta Kalandra sambil tersenyum kecil, akhirnya semua korban baik-baik saja.
Dokter mengangguk, setelah berbincang dengan Dokter dan sudah mengetahui seluruh kondisi korban kerancuan, Kalandra kembali menemui Kenzo dan yang lainnya.
"Bagaimana Kalan?" tanya Kenzo pada sang adik.
"Semuanya baik-baik saja kak, kak berikan ATM kakak padaku!" Jawab Kalandra, tangannya mengulur ke tangan Kenzo.
Kenzo menatap Kalandra tapi Kalandra malah memasang wajah memelas membuat Kenzo menjadi tidak tega pada adiknya itu.
Kenzo merogok saku celananya lalu mengeluarkan dompetnya, Kenzo membuka dompet miliknya lalu mengambil salah satu kartu ATM miliknya. "Tunggu, mau buat apa?" tanya Kenzo, dia menatap Kalandra dengan tatapan penuh keraguan.
"Kak, aku mau membayar semua pengobatan para korban. Aku takut di ATM ku ini tidak cukup..."
"Iya baiklah pakailah punya kakak, itu pasti akan cukup bahkan lebih!" Sambung Kenzo, dia sudah paham maksud adiknya ini.
Kalandra tersenyum, bahagianya punya kakak sebaik Kenzo. Buru-buru Kalandra pergi ke bagian administrasi untuk membayar semua pengobatan para korban.
__ADS_1
Kalandra membayar semuanya dengan kartu milik Kenzo.
Setelah selesai melakukan semua pembayaran, Kalandra kembali ke Kenzo dan yang lainnya.
"Kak ini sudah, nanti aku ganti ya kak, soalnya kartu milikku, aku yakin tidak akan cukup," kata Kalandra dan Kenzo hanya mengangguk.
"Mana kartuku?" tanya Kenzo, lalu Kalandra memberikan kartu milik Kenzo pada Kenzo.
Kenzo paham sekali kalau adiknya ini boros, bahkan dulu waktu masih belum menikah, dering sekali Kalandra menghambur-hamburkan uang untuk membelanjakan para gadis yang jalan dengan dirinya, bahkan sampai kartu ATM miliknya itu semua saldonya kadang limit.
Dasar Kalandra, dia sangat jauh berbeda dengan Kenzo, kalau Kenzo lebih suka nabung dan tentunya Kenzo lebih suka membangun yayasan, sekolah, bahkan Kenzo juga membuat perpustakaan di sebuah taman bermain.
Mungkin karena Kenzo juga seorang pengusaha muda juga, jadi Kenzo lebih sering memanfaatkan uang yang dia dapat untuk membuat hal-hal yang menurutnya itu di butuhkan orang lain dan tentunya bermanfaat.
Kini Kalandra menjenguk satu persatu korban untung saja mereka berada di satu ruangan yang sama, jadi Kalandra juga lebih muda untuk melihat kondisi para korban.
Kalandra berbincang pada satu persatu ke para korban, dia juga tidak lupa meminta maaf pada semuanya.
"Tunggu, anaknya Sandi di rawat dirumah sakit mana?" tanya Kalandra pada Revan.
"Di rumah sakit ini juga bos," jawab Revan.
"Kita jenguk anaknya Sandi sekalian ya, Kakak Ipar dan Kak Ken, tidak apa-apakan?" tanya Kalandra dan di anggukin oleh Melly dan Kenzo secara bersamaan.
Kini mereka langsung menuju ke ruangan tempat anaknya Sandi di rawat, Revan yang menuntun jalan mereka, karena Revan tahu dimana ruangan anaknya Sandi di rawat.
Sesampainya disana, Kalandra dan yang lainnya masuk di ruangan itu ada tiga pasien dalam satu ruangan.
"Re, urus semuanya dan pindahkan anaknya Sandi ke ruangan VIP ya!" Kata Kalandra karena tidak tega melihat keadaan anaknya Sandi yang saat ini terbaring lemah.
__ADS_1
Sinta terkejut melihat Revan dan beberapa orang datang menghampiri dirinya yang sedang menjaga anaknya.
"Re, mana Mas Sandi?" tanya Sinta, biasanya Revan datang bersama Sandi.
"Maaf Nyonya, Sandi saya pindahkan kerja keluar negeri, karena cafe saya disana sedang membutuhkan karyawan yang handal seperti Sandi," kata Kalandra dan Revan mengangguk.
Sinta terlihat sedih, apalagi di saat anaknya terbaring lemah Sandi malah pergi jauh.
"Mas, apakah aku sanggup menghadapi semuanya sendiri?" batin Sinta dalam hatinya.
"Iya pak, maaf pak saya tidak tahu. Bapak bos nya Mas Sandi ya? Maaf ya pak ruangannya sangat sempit," Sinta menatap Kalandra dengan tatapan tidak enak.
"Tidak apa-apa, saya sudah menyuruh Revan untuk memindahkan putranya Sandi ke ruangan VIP, oh iya jika Nyonya butuh sesuatu katakan saja pada Revan!" tutur Kalandra, membuat Sinta mengangguk karena tidak tahu harus menjawab apa?
Ternyata bos nya suaminya ini sangat baik, hanya ini yang ada di pikiran Sinta saat ini.
Kini Kalandra berbincang dengan Sinta sedangkan yang lainnya menunggu di depan karena ruangan itu terlalu sempit jika semua orang ada di dalam.
Kalandra menyampaikan pada Sinta apa yang di pesankan oleh Sandi pada dirinya.
Mendengar pesan dari sang suami, Sinta hanya meratapi kesedihannya dalam hatinya, tapi Sinta juga mengerti Sandi rela pergi kerja keluar negeri demi kesembuhan anaknya yang sedang sakit.
Kini Revan sudah selesai mengurus semuanya, lalu anaknya Sandi juga langsung di pindahkan ke ruangan VIP.
Akhirnya semua masalah hari selesai, Revan langsung pulang naik taksi sedangkan Kenzo, Kalandra dan istri-istri mereka juga langsung pulang ke rumah karena Kimmy dan Melly juga sudah sangat kelelahan untuk hari ini.
Sesampainya di rumah mereka langsung masuk kamar mereka masing-masing untuk segera istirahat.
Setelah seharian mengurus semua masalah yang ada akhirnya semuanya beres dan Kalan juga bisa tidur nyenyak karena semua korban juga baik-baik saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🤗