
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Kinan terdiam di atas ranjang tempat tidurnya dan Aftar sedang sibuk di meja kerjanya.
Kinan hanya diam-diam memperhatikan Aftar tapi tetap hatinya masih sedikit marah sama suaminya itu.
"Mas Aftar, sudah jam 9 malam saja masih sibuk dengan pekerjaannya." Batin Kinan dalam hatinya.
"Kenapa, kamu belum tidur?" Tanya Aftar, dia melihat Kinan yang masih terjaga di atas ranjang tempat tidur.
"Belum ngantuk mas, mas masih lama?" Jawab Kinan, sambil balik bertanya pada suaminya.
Aftar tersenyum diam-diam dia berpikiran mesum di otaknya.
"Aku yakin, pasti Kinan tidak bisa tidur. Apa Kinan ingin aku menyiram benih aku di rahimnya sana? Ahh tapikan dia sedang menghukumku dan menyuruhku tidur di sofa." Batin Aftar dalam hatinya.
"Kenapa? Apa, mau mas tidurin?" Tanya Aftar dengan tatapan mesum.
Kinan mendengus kesal, sungguh suaminya ini bisa-bisanya menggodanya di saat Kinan masih marah pada dirinya.
"Tidak mas, ingat malam ini kamu tidur di sofa!" Jawab Kinan dan tentu saja tidak menerima penolakan dari sang suami.
Aftar menganggukan kepalanya, dia tidak mungkin melawan istrinya apalagi mereka baru saja berbaikan beberapa jam yang lalu.
Kinan memejamkan matanya, setelah beberapa lama Kinan tertidur dan Aftar juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Aftar menuju ke tempat tidur lalu dia duduk di tepi ranjang tempat tidur.
"Dasar istriku, katakan saja kamu merindukanku tapi gengsimu itu gede gara-gara masih marah padaku." Aftar membelai pipi Kinan dengan lembut. Melihat istrinya tertidur begitu pulas, Aftar tersenyum dengan bahagia.
"Terimakasih, kamu sudah menjadi istri yang baik dan sudah mau menjadi ibu dari anakku." Batin Aftar dalam hatinya.
Aftar mengambil bantal, lalu dia berlalu pergi ke sofa ingin rasanya tidur di sebelah sang istri tapi Aftar tidak punya keberanian, karena takut istrinya akan kembali marah dan dia memilih untuk menjalani hukuman dari Kinan yaitu tidur di sofa.
Aftar menghela nafasnya, semalam di cuekin sama istrinya dan sekarang malah di suruh tidur di sofa.
"Sabar ya adik kecilku, nanti kalau Kinan sudah tidak marah lagi. Kita bermain-main dengan benih yang aku tanam agak lama," Aftar tertawa dalam hatinya.
Malam menujukan pukul 10, terdengar suara gemuruh petir yang sekali-kali menyambar di luar rumah sana. Aftar yang masih terjaga beranjak dari sofa lalu melihat ke jendela.
"Hujannya sangat lebat sekali," lirih Aftar lalu dia berjalan ke ranjang tempat tidurnya untuk menyelimuti istrinya agar tidak kedinginan.
__ADS_1
Setelah menyelimuti istrinya, Aftar kembali ke sofa untuk tidur.
*****
Hujan semakin lebat, Vino masih terdiam di depan rumah Caca bahkan kemejanya juga basah karena terciprat air hujan.
"Caca, apa kesalahanku begitu besar?" Tanya Vino pada dirinya sendiri.
Vino tampak frustasi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa hanya diam saja berharap Caca membukakan pintu rumahnya untuk dirinya.
Mendengar suara gumuruh petir, Caca tidak bisa tidur. Sekali-kali dia mengingat Vino sudah pulang atau belum? Caca yang terlihat begitu kawatir dia beranjak dari tempat tidur lalu pergi menuju ke depan untuk melihat Vino sudah pulang atau belum?
Caca membuka sedikit tirai jendelanya dan melihat Vino masih duduk di depan rumah. "Apakah dia sudah gila? Sudah tahu hujan, bukannya pulang ini malah diam saja." Caca menggerutu sendirian.
"Aku yakin, pasti dia kedinginan. Apa aku harus sekejam ini? Padahal Vino juga tidak macam-macam dengan klien-kliennya itu." Lagi-lagi Caca berbicara sendiri.
Dengan perasaan kasian melihat sang kekasih yang mungkin sudah basah kuyup karena terkena air hujan. Akhirnya Caca membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek." Caca membuka pintu rumahnya.
Mendengar suara gagang pintu, Vino menoleh dan dia sekilas tersenyum.
Vino bangun dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menghampiri Caca. "Kenapa belum pulang?" Tanya Caca nada suaranya agak jutek dan tatapan matanya tampak kesal.
"Aku menanti maaf darimu sayang," kata Vino dengan nada lembut.
Caca kembali terdiam, sungguh kalau mengingat kejadian waktu itu Caca masih sangat kesal.
"Minta sekarang, tapi lain kali pasti akan mengulangi hal yang sama." Jawab Caca, lagi-lagi nada suaranya jutek.
"Tidak akan sayang, aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Apalagi gara-gara ini kamu mengabaikanku, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi!" Vino menatap Caca dengan tatapan begitu dalam.
Caca terdiam sejenak, lalu dia tersenyum simpul pada laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya itu.
"Kamu mau kan sayang, memaafkanku?" Tanya Vino dengan senyum penuh harap.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi kalau kamu melakukan hal yang sama lagi, aku tidak akan memaafkanmu." Jawab Caca dengan penuh penegasan.
__ADS_1
Biasanya Vino yang suka memaksa dan tidak mau di bantah. Tapi kali ini Vino hanya bisa pasrah agar bisa mendapatkan maaf dari Caca kekasih tercinta.
"Iya sayang, jika aku melakukan hal yang sama aku rela kamu apakan saja." Vino melihat Caca dengan lekat, dalam hatinya berharap Caca akan memeluknya karena saat ini dia sudah merasa kedinginan.
"Baguslah kalau gitu, sudah malam kamu pulanglah!" Kata Caca dengan begitu cuek.
Rasanya Vino sangat kesal sekali dengan Caca. Karena Caca lagi-lagi bersikap cuek pada dirinya.
"Biarkan, aku minum teh hangat sebentar. Aku dingin sekali," pinta Vino berharap Caca akan berbelas kasian pada dirinya.
Caca juga tidak tega dengan Vino, apalagi melihat jas Vino yang sudah basah terkena air hujan.
"Baiklah, ayo masuk! Tapi ingat, kamu tidak boleh macam-macam!" Caca menatap Vino dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Macam-macam, maksudnya macam-macam apa? Dasar, Caca ini mesum sekali." Batin Vino dalam hatinya.
"Iya, lagian aku mau ngapain? Apa, kamu takut aku memakanmu?" Tanya Vino dengan begitu jail.
"Makan apa? Emangnya aku makanan, sudah kamu duduklah! Aku buatkan teh hangat dulu," Caca berlalu pergi ke dapur dan Vino duduk di sofa.
"Rumah sekecil ini, apa dia nyaman tinggal di rumah sekecil ini?" Gumam Vino dalam hatinya.
Rumah yang berukuran kecil dan hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang makan, lalu ruang tamu yang tidak terlalu besar. Itu membuat Vino bertanya-tanya, apalagi rumah miliknya begitu besar di bandingkan dengan rumah Caca ya tidak ada apa-apanya.
Setelah beberapa lama, Caca kembali ke ruang tamu membawa satu cangkir teh hangat untuk Vino.
"Minumlah!" Caca menaruh satu cangkir teh itu di atas meja.
Vino menganggukan kepalanya, lalu mengambil satu cangkir teh yang ada di atas meja dan langsung meminumnya.
Sekilas Vino melihat bibir mungil Vino, otaknya mulai traveling memikirkan hal kotor saat ini.
"Aish Vino, buanglah pikiran kotormu!" Gumam Vino dalam hatinya.
"Caca, apa kamu sebelumnya sudah pernah berciuman dengan seorang laki-laki?" Tanya Vino tiba-tiba, sungguh mulutnya ini tidak bisa di jaga sekali.
"Saya....."
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊