
"Apa kalian macam-macam di belakang kita?" Tanya Caca dan Kinan dengan kompak.
Aftar dan Vino saling menatap, kini wajah keduanya sulit di artikan.
"Lalu taruhan apa mas?" Tanya Kinan, rasanya sangat penasaran. Pasti suaminya sedang menyembunyikan sesuatu di belakangnya.
"Baik-baiklah, mas taruhan mobil bersama Vino dan mas kalah." Jelas Aftar dengan santai.
"Apa? Apa kalian berjudi?" Tanya Kinan penuh selidik.
"Bukan sayang ih, kita hanya main tebak-tebakan dan yang kalah harus memberikan salah satu mobilnya dan mas kalah." Jelas Aftar, Kinan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar suamiku, tapi sudahlah biarkan saja lagian buat Vino ini." Batin Kinan dalam hatinya.
Caca menatap Vino dengan tatapan penuh makna. "Pak Aftar kalah, berati kamu yang menang dong sayang," celetuk Caca dengan antusias dan Vino menganggukan kepalanya.
Aftar dan Kinan mengatarkan Vino dan Caca berkeliling ke garasi mobilnya dan saat ini Vino sedang memilih salah mobil milik Aftar.
"Pilihlah salah satu yang kamu suka, Vin!" Kata Aftar pada Vino.
"Siap bos!" Jawab Vino dengan senang hati.
Akhirnya Vino memilih salah satu mobil kesayangan Aftar mobil sedan yang begitu mewah warna hitam.
"Haruskah yang itu?" Tanya Aftar, mimik wajahnya agak tidak rela.
"Ini taruhan loh bos," jawab Vino sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aftar tersenyum simpul, tapi mau bagaimana lagi? Aftar sudah kalah dari taruhan malam itu. Akhirnya Aftar merelakan salah satu mobil kesayangannya itu dengan iklhas.
"Baiklah, nanti supir biar mengantarkan mobil itu ke rumahmu," kata Aftar. Sungguh sayang sekali mobil yang Vino pilih adalah salah satu mobil kesayangannya.
"Siap bos, ayo kita ngeteh dulu!" Vino tersenyum pada Aftar.
Seketika Aftar menggelengkan kepalanya dengan pelan, yang tuan rumah siapa? Yang mengajak minum teh siapa? Dasar Vino ini ada-ada saja.
"Dasar b*doh, aku ini tuan rumahnya." Omel Aftar pada Vino dan membuat semua yang ada di situ terkekeh.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah untuk ngeteh bersama, Vino dan Aftar sibuk dengan obrolan mereka.
Sedangkan Kinan dan Caca duduk di kursi meja makan, mereka sengaja tidak ikut duduk bergabung dengan laki-laki mereka karena mereka ingin mengobrol berdua.
"Kin, sebentar lagi anak kamu akan lahir. Apa kamu sudah meyiapkan nama?" tanya Caca sambil menikmati tehnya.
"Nanti papanya aja yang kasih nama kak, kalau sama suamiku itu apa-apa pasti di perdebatkan kak," jawab Kinan membuat Caca tertawa kecil.
"Mungkin jika aku sudah menikah dengan Vino, pasti kita juga akan sering berdebat." Batin Caca dalam hatinya.
"Laki-laki itu memang menyebalkan," keluh Caca dengan mimik agak sedih.
"Apa ada masalah dengan sekretaris Vino?" Tanya Kinan, karena melihat wajah Caca terlihat begitu sedih.
"Tidak Kin, aku hanya kesal saja Vino hanya melamarku bukannya langsung saja bawa aku ke penghulu." Jawab Caca terkekeh, membuat Kinan tertawa. Dasar sahabatnya ini ngebet banget pingin kawin.
"Sabar kak, mungkin sebentar lagi!" Tutur Kinan sambil tersenyum.
__ADS_1
Kinan dan Caca asik mengobrol, mereka juga terus tertawa seperti tidak punya beban dalam hidupnya.
"Lihat, mereka sangat bahagia." Kata Vino sambil melihat ke arah Caca dan Kinan.
"Entah apa yang mereka obrolkan?" Celetuk Aftar terlihat bingung.
"Asal jangan laki-laki lain saja bos!" Sahut Vino dengan tawanya.
"Dasar kamu ini, oh iya Vin. Ayo kita ke ruangan kerjaku! Ada yang mau bicarakan," ajak Aftar tatapan matanya begitu tegas.
Aftar dan Vino sama-sama beranjak dari tempat duduknya. "Sayang, mas ke ruang kerja dulu ada hal penting." Kata Aftar pada Kinan.
"Iya mas!" Sahut Kinan.
Di ruangan kerja Aftar, Aftar duduk di sofa dan Vino duduk di sebelah Aftar.
"Bagaimana, pencarian tentang ibunya Kinan?" Tanya Aftar dengan serius.
"Kita sudah menemukan beberapa tanda, dan bos ingat perancang gaun pengantin yang bos dan Nona Kinan?" Jawab Vino dengan serius juga.
"Bu Herlin!" Aftar melihat ke arah Vino.
"Iya benar, menurut informasi penyelidikan Bu Herlin dulu meninggalkan Nona Kinan, waktu itu Nona Kinan masih bayi, Nona Kinan di tinggalkan Bu Herlin setelah suaminya meninggal dan Nona dulu tinggal bersama neneknya tapi neneknya meninggal waktu Nona masih SD." Jelas Vino dengan tegas.
Aftar mencerna kata-kata Vino dengan baik, dia mengerti.
"Kira-kira ada sesuatu benda yang di tinggalkan oleh ibunya tidak?" Tanya Aftar lagi.
"Sebuah kalung, ini foto Nona waktu mengenakan kalung yang saya maksud." Vino menunjukkan foto yang ada di ponselnya pada Aftar. Foto itu di kirim oleh orang suruhannya.
Aftar melihat kalung itu dengan baik, dia seperti sedang mengingat-ingat dimana dia melihat kalung itu?
"Baiklah, aku mengerti." Kata Aftar.
"Aku harus bertemu dengan Bu Herlin, aku harus memastikan apakah dia benar ibunya Kinan atau bukan?" Batin Aftar dalam hatinya.
Setelah selesai dengan urusan penting mereka, Aftar dan Vino sama-sama keluar dari ruangan kerja Aftar.
Kini mereka berjalan menuju meja makan menghampiri wanita-wanita mereka.
"Udah lamaran, sekarang tinggal nikahnya yang belum." Aftar tersenyum meledek, Caca tersenyum malu-malu.
Vino tersenyum sinis, tentu saja ada kelicikan yang tersimpan.
"Bagaimana kalau kita melakukan taruhan lagi bos, siapa tahu kali ini aku memang lagi dan biaya pernikahan bisa di bayarin sama bos." Vino senyam-senyum, membuat Aftar menjitak kepalanya dengan pelan.
"Dasar kamu ini, menikahlah secepatnya aku tidak akan membayarkan semuanya tapi buat catring aku yang urus," kata Aftar sambil tersenyum. Biar bagaimanapun Vino adalah sahabatnya yang selama ini menemani Aftar selama Aftar menjadi pemimpin di perusahaannya.
"Saya setuju dengan Pak Aftar, sayang kamu itu harus berusaha sendiri!" Kata Caca pada Vino.
"Baiklah sayang, bulan depan kita menikah. Dan Pak Aftar jangan lupa catringnya," kata Vino dengan tegas.
Caca memeluk Kinan dengan hati-hati, Vino terkejut.
"Sayang, kenapa kamu malah memeluk Nona Kinan? Bukan aku?" Kinan terlihat manyun.
__ADS_1
Aftar tertawa sambil menjulurkan lidahnya, membuat Vino tambah manyun. Sungguh tidak bos, tidak anak buahnya semuanya koplak. Yang waras hanya wanita-wanita mereka saja.
******
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Arga sedang di rumah sakit dia sedang menemani Vira yang sedang melahirkan anak pertama mereka.
Arga dari tadi terlihat gusar, pikirannya tidak tenang dia takut anak dan istrinya kenapa-kenapa hingga terdengar suara tangisan bayi dan itu membuat Arga merasa begitu lega.
Akhirnya pada malam ini Arga resmi menjadi seorang ayah.
Setelah menjalani proses lahiran, akhirnya Vira di pindahkan ke ruang rawat inap.
"Istriku, terimkasih." Arga menghujani Vira dengan banyak ciuman di wajah cantiknya.
"Mas, anak kita sudah lahir, aku sudah menjadi seorang ibu." Vira meneteskan air mata bahagianya.
"Iya sayang, dia cantik seperti kamu." Kata Arga, melihat putri cantik yang ada di tangan sang istri.
Anak Arga dan Vira adalah perempuan, Arga dan Vira sangat bahagia. Malam ini Arga dan Vira hanya berdua di rumah sakit, Rosa tidak datang karena dia sedang berada di luar negeri.
"Kita mau kasih nama siapa, mas?" Tanya Vira dengan nada lembut.
"Kimmy Dharmawan, nama Kimmy itu lucu." Jawab Arga dan Vira mengangguk pertanda setuju.
Kimmy terus mencari-cari p*t*ng s*s* mamanya dia saat ini sedang nyusu dengan kuat.
Arga tidak henti-hentinya bersyukur dalam hatinya, mengingat dulu dirinya begitu jahat pada Vira kadang Arga merasa sedih.
"Aku janji selamanya akan menyayangi kamu Vira, hanya kamu wanita yang aku cintai," batin Arga dalam hatinya.
"Sayang, fotokan aku dan anak kita. Lalu kirim ke Kinan, pasti dia akan sangat senang!" Pinta Vira dengan begitu antusias.
Arga mengambil foto anak dan istrinya, lalu langsung mengirimkan pada Kinan.
Kinan yang sedang duduk di sofa, dia membuka pesan dari Arga.
"Arga," celetuk Aftar. "Kamu masih...." Aftar terlihat curiga.
"Mas, buka dulu! Jangan berpikir macam-macam deh!" Potong Kinan, sebelum sang suami cemburu berlebihan.
Kinan menggeser layar ponselnya, lalu dia membuka pesan dari Arga dan Kinan tersenyum bahagia.
"Mas lihat, Vira sudah melahirkan. Kita besok kesana ya jenguk Vira." Kata Kinan dan Aftar mengangguk, Ternyata Aftar sudah salah paham.
Aftar mengelus-elus perutnya Kinan, sungguh dia juga ingin seperti Arga ingin segara melihat anaknya lahir ke dunia ini.
Kinan hendak bangun, tapi tiba-tiba dia merasakan sakit pada perutnya.
"Achh mas, perut aku sakit sekali.....!" Kinan merintih kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang!" Aftar terlihat panik dan dia buru-buru membopong Kinan ke mobil.
Aftar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sungguh rasanya sangat takut dan kawatir sekali.
"Ahhchh mas, sakit mas...." Kinan terus merintih sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊