
Aftar memeluk Kinan dengan erat, lalu dia ikut memejamkan matanya hingga dia terlelap tidur juga.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, sayup-sayup Kinan membuka matanya dia tersenyum merasakan hangatnya pelukan suaminya.
"Mas, bangun!" Kinan menepuk-nepuk pipi Aftar dengan lembut.
Aftar hanya bergulat, lalu melepaskan Kinan dari dalam pelukannya. "Sayang, aku masih mengantuk badan aku juga pegal semua," Jawab Aftar yang masih memejamkan matanya, membuat Kinan hanya tersenyum.
Kinan memainkan hidung Aftar dengan jari-jarinya, dengan pelan Kinan merabah wajah tampan sang suami. "Mas, apa aku sungguh sudah melaksanakan kewajibanku sebagai istri kamu?" Tanya Kinan malu-malu dan Aftar membuka matanya. "Iya sayang sudah dan sepenuhnya kamu adalah milikku," Aftar meraih tangan Kinan yang sedang membelai-belai wajahnya lalu Aftar mencium tangan Kinan. "Berhentilah, menganggu tidurku atau aku akan kembali memakanmu!" Pinta Aftar sengaja menggoda istrinya.
Buru-buru Kinan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aftar dan dia langsung beranjak dari tempat tidurnya."Kamu mau kemana?" Tanya Aftar, dia menahan tangan Kinan.
"Aku mau mandi mas." Jawab Kinan dan buru-buru pergi ke dalam kamar mandi karena takut suaminya akan menggarapnya untuk kedua kalinya.
Kinan berlari ke kamar mandi tanpa memakai sehelai benang apapun karena buru-buru mau ambil selimut juga, takutnya Aftar malah malah aneh-aneh badan saja masih terasa pegal semua karena perbuatan sang suami.
Setelah Kinan masuk ke dalam kamar mandi, Aftar membuka sedikit selimutny. "Ternyata bukan mimpi dan Kinan sepenuhnya sudah menjadi milikku," Aftar senyam-senyum sudah seperti orang tidak waras.
Beberapa menit telah berlalu, Kinan keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk kimono saja.
Kinan duduk di tepi ranjang, lalu Aftar mendekatkan dirinya. "Kenapa?" Tanya Aftar berbisik di telinga Kinan.
"Agak nyeri mas, ini akan lama tidak sembuhnya?" Tanya Kinan dengan raut wajah polosnya.
Aftar tersenyum lalu memeluk Kinan dari belakang. "Tidak sayang, asalkan kamu cukup diam dan tidak banyak gerak pasti sakitnya tidak terlalu lama," Jawab Aftar meyakinkan Kinan.
Kinan menganggukan kepalanya pertanda mengerti, "Mas, mandi dulu sana!" Suruh Kinan dengan nada lembut.
Aftar melepaskan Kinan dari pelukannya, lalu dia bergegas menuju ke kamar mandi. Sambil menunggu suaminya sedang mandi Kinan berganti pakaian dan meyiapkan baju ganti juga untuk sang suami.
Arga dan Vira.
Arga dan Vira semakin hari hubungannya semakin hangat, bahkan Vira yang sekarang lebih cemburuan ke Arga. Karena sekertaris baru yang begitu cantik dan tentunya Vira takut kalau suaminya akan tergoda dengan sekretarisnya itu.
Hari ini Vira juga ikut ke kantor, karena mau melihat secara langsung secantik apa sekertaris sang suami?
Vira tampak jenuh, karena dari tadi hanya melihat Arga sibuk dengan laptopnya saja. "Sayang, apa masih lama kerjanya?" Rengkek Vira yang merasa bosan hanya duduk di sofa ruangan Arga.
__ADS_1
Arga tersenyum simpul. "Kan sudah aku bilang jangan ikut ke kantor, tapi malah ikut. Kamu pergi shopping saja ya nanti aku jemput!" Kata Arga yang masih fokus dengan laptopnya.
Pikiran Vira langsung traveling kemana-mana, dia berpikir Arga menyuruhnya shopping agar Arga bisa berduaan dengan sekertaris cantik barunya.
"Tidak, aku tidak mau! Kamu sengaja kan menyuruhku shopping, agar kamu bisa berduaan dengan sekretaris baru kamu," Jawab Vira dengan begitu galak.
Arga hanya tersenyum, susah kalau sang istri sudah berpikir macam-macam seperti ini.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Masuklah!" Sahut Arga dari dalam ruangannya.
"Ceklek..." suara gagang pintu.
Silvi melangkahkan kakinya menuju ke meja kerja Arga, dengan dress yang begitu cantik dan penampilan yang agak sexy membuat banyak para lelaki tertarik pada dirinya. Tapi Silvi agak genit dan dia selalu diam-diam melirik Arga dengan tatapan penuh arti.
Mata Vira langsung melotot tidak suka.
"Apa ini sekertaris baru Mas Arga? Apakah Mas Arga tidak bisa mencari sekretaris seorang laki-laki saja, dari wajahnya saja dia terlihat genit." Batin Vira dalam hatinya.
"Pak Arga, ini berkas-berkas yang harus Pak Arga tanda tangani!" Silvi menaruh berkas-berkas yang dia bawa di atas meja kerja Arga.
"Pak, nanti bisa makan malam bersama tidak?" Tanya Silvi, dengan tidak tahu malunya padahal di dalam ruangan itu ada Vira yang tidak lain istrinya Arga.
"Tidak bisa Sil, aku mau makan malam bersama istriku," jawab Arga sambil melihat Vira.
Silvi ternganga tidak percaya, dia tidak tahu kalau Arga sudah punya seorang istri apalagi dia sekretaris baru di kantor Arga.
"Istri?" Silvi terkejut.
"Iya istri, itu yang sedang duduk di sofa istriku." Jawab Arga.
Silvi melihat ke arah sofa dan dia hanya melirik Vira sebentar tanpa menyapanya.
"Oh itu istri Pak Arga, aku tidak perduli yang penting aku bisa dekat dengan Pak Arga, jadi istri kedua juga aku rela," batin Silvi dalam hatinya.
"Iya pak, kalau begitu saya permisi dulu," Silvi berlalu pergi dari dalam ruangan Arga.
__ADS_1
Setelah Silvi pergi, Vira langsung menatap Arga dengan tatapan begitu garang. "Mas, sekertarisnya ganti saja!" Pinta Vira agak manyun.
Arga menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan menuju ke sofa. Dia tahu kalau istrinya saat ini sedang di selimuti dengan perasaan cemburu dan rasa takut kalau Silvi akan merebut dia dari Vira.
Kini Arga sudah duduk di sofa, dia membawa Vira masuk ke dalam pelukannya. "Sayang, mencari sekertaris baru itu susah. Kamu jangan berpikir macam-macam ya! Karena aku hanya mencintaimu," Arga mencium kening Vira dengan lembut.
Biar bagaimanapun sebagai seorang istri Vira kawatir kalau Arga akan main belakang dengan sekertaris barunya itu.
"Jika, kamu sampai macam-macam maka aku akan pergi dari dalam hidupmu." Ancam Vira membuat Arga mempererat pelukannya. "Itu tidak akan terjadi istriku," Arga meyakinkan Vira.
Kembali ke Aftar dan Kinan.
Kinan yang sudah rapi dengan dress cantik warna putihnya, kini dia duduk di tepi ranjang sedangkan Aftar sedang berganti pakaian.
Tiba-tiba ponsel milik Aftar berbunyi, Kinan mengambil ponsel milik Aftar. "Karin, buat apa dia menelpon suamiku?" Tanya Kinan pada dirinya sendiri.
"Mas ada telpon dari Karin." Kata Kinan pada Aftar.
"Angkat saja sayang!" Jawab Aftar yang sedang sibuk berganti pakaian.
Kinan tidak mau mengangkat telpon dari Karin dan dia membawa ponsel Aftar ke ruang ganti pakaian, lalu memberikan pada sang suami. "Kamu saja yang angkat, mas!" Kata Kinan dan Aftar menerima telpon dari Karin.
"Kancingin baju aku!" Pinta Aftar dan Kinan mengancing satu-persatu kancing baju Aftar.
"Hallo." Sapa Aftar.
"Hallo pak, pak ini yang punya ponsel mabuk berat dan saya tidak tahu harus menelpon siapa? Makanya saya telpon bapak karena di sini nama bapak "Sayang" jadi saya menelpon bapak," jelas sang pelayan bar.
"Baiklah pak, saya akan datang kesitu." Jawab Aftar dan langsung mematikan saluran teleponnya.
Kinan baru saja selesai mengancing baju suaminya. "Ada apa mas?" Tanya Kinan.
"Karin mabuk berat dan aku harus kesana untuk menjemputnya." Jawab Aftar.
"Apakah, harus mas?" Tanya Kinan yang merasa tidak rela.
Aftar terdiam, haruskah dia pergi menjemput Karin yang sedang mabuk?
__ADS_1
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊