Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Pingin makan somay


__ADS_3

Buru-buru Aftar menjauhkan wajahnya dari wajah Kinan.


"Lain kali ketuk pintu dulu!" Aftar menatapnya dengan kesal.


Vino tersenyum dia merasa bersalah, kebiasaan kalau masuk ke ruangan Aftar tidak mengetuk pintu lebih dulu.


"Siapa yang tahu kalau ada Nona Kinan di ruangan bapak," batin Vino dalam hatinya.


"Maaf pak, lain kali saya akan mengetuk pintu lebih dulu." Jawab Vino, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Entahlah Vino sering sekali menemui hal seperti ini ketika Aftar sudah menikah kadang ini semua membuat dirinya merasa iri dan ingin punya istri juga seperti Aftar.


"Ada apa Vin?" Tanya Aftar, raut wajahnya sudah tidak sekesal tadi. Kinan juga sudah turun dari pangkuannya.


"Ini ada berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani!" Vino menaruh berkas-berkas yang di bawanya di atas meja kerja Aftar.


Aftar memeriksa berkas-berkas yang Vino bawa dia mengeceknya satu-persatu lalu menanda tanganinya.


Kinan melihat Vino dengan raut wajah yang sudah merah merona karena malu gara-gara Vino melihat adegan romantis dirinya dan suaminya. Vino diam-diam tersenyum, Aftar melirik Vino dengan tatapan tidak suka karena Vino terus mencuri-curi senyum pada Kinan. "Vin, jaga matamu! Atau aku akan mencongkel kedua matamu," cetus Aftar dan buru-buru Vino mengalihkan tatapan matanya pada Kinan, dia juga langsung menghilangkan senyumnya di sudut bibirnya.


Pipi Kinan semakin merah, apalagi suaminya malah bersikap seperti saat ini.


"Mas Aftar, kenapa harus bersikap berlebihan sih?" Batin Kinan dalam hatinya.


"Sudah selesai, kamu keluarlah! Aku mau melanjutkan adegan romantis yang tertunda gara-gara jomblo karatan," Aftar tersenyum jail sambil memberikan berkas-berkas yang sudah di tanda tangani pada Vino.


Seketika Vino hanya bisa pasrah menerima ledek demi ledekan dari sang bos.


"Ingat pak, pintunya di kunci ya!" Vino tersenyum jail, membuat Aftar menatapnya dengan kesal.


"Emangnya bapak bapak doang yang bisa ledekin saya." Vino tertawa dalam hatinya.


Aftar beranjak dari tempat duduknya lalu mengantarkan Vino keluar dari dalam ruangan kerjanya. Setelah Vino keluar Aftar mengunci pintu ruangan kerjanya agar Vino tidak sembarangan masuk ke dalam ruangannya.


Aftar kembali ke kursi kerjanya, tatapannya begitu lembut pada Kinan. "Sudah aman, sekretaris jomblo itu pasti tidak akan masuk lagi kesini, karena aku sudah mengunci pintu ruangan ini dengan rapat." Aftar menarik Kinan hingga jatuh ke dalam pangkuannya.


"Mas, jangan nakal ih. Kita lakukan di rumah saja," kata Kinan dengan raut wajah malu-malu.


"Tidak mau, mas pingin main manja-manjaannya sekarang," jawab Aftar dengan begitu manja.

__ADS_1


Akhirnya Aftar berulang kali mencium bibir Kinan hingga merasa puas. Setelah puas Aftar kembali melanjutkan pekerjaan yang ada di atas meja kerjanya.


"Tunggulah, aku selesai kerja nanti kita makan siang di pinggir jalan aku mau makan somay pingir jalan." Kata Aftar, Kinan terkejut tidak biasanya seorang Aftar itu meminta makan di pinggir jalan.


"Mas Aftar aneh sekali," batin Kinan dalam hatinya.


"Mas sungguh mau makan somay di pinggir jalan?" Tanya Kinan masih tidak percaya.


"Sungguh, rasanya mas tiba-tiba pingin makan somay pingir jalan seperti enak," jawab Aftar dengan begitu yakin.


Seorang Aftar yang tidak pernah makan di pinggir jalan, lalu tiba-tiba dia meminta makan di pinggir jalan itu membuat Kinan terkejut. Tapi baguslah Kinan juga suka makan-makanan pingir jalan.


"Apa, kamu tidak mau makan di pinggir jalan? Kamu mau makan di restoran mewah?" Aftar melihat Kinan dengan tatapan begitu penuh cinta.


"Tidak mas, aku mau makan somay pinggir jalan juga. Aku punya tukang somay langganan yang enak, dulu pernah kesana bersama Arga." Kata Kinan, sambil tersenyum begitu manis.


Seketika wajah Aftar berubah menjadi garang, Aftar tidak suka Kinan menyebut-nyebut nama sang mantan.


"Haruskah kamu menyebut nama Arga!" Cetus Aftar dengan tatapan kesal.


"Hanya menyebutkan nama saja, aku sudah tidak punya perasaan pada dirinya." Tutur Kinan, dia tersenyum merasa bersalah.


"Lain kali jangan menyebutnya! Atau aku akan menjewer telingamu." Omel Aftar dengan cepat Kinan menganggukkan kepalanya.


___


Kini Kinan berbaring di atas sofa sambil menunggu suaminya selesai kerja, rasanya jenuh tapi mau bagaimana lagi suaminya sedang begitu manja pada dirinya.


Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar selesai dengan pekerjaan dan dia langsung mengajak Kinan pergi ke tukang somay langganan yang Kinan katakan tadi. Biarpun sempat kesal gara-gara Kinan menyebut nama Arga, tapi Aftar tetap mau makan di tukang somay langganan Kinan.


Aftar langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan.


"Mas, aku heran biasanya kamu tidak suka makanan pinggir jalan." Kata Kinan, sambil melihat jalanan yang begitu rame mobil.


"Entahlah sayang, masih jauh tukang somaynya?" Jawab Aftar yang terus fokus menyetir.


"Sebentar lagi, oh iya mas aku kangen sama kakek." Kata Kinan, raut wajahnya tampak sedih.


"Kakek masih betah di sana." Jawab Aftar.

__ADS_1


Kinan menganggukkan kepalanya, biasanya di rumah ada kakeknya tapi selama kakeknya pergi liburan Kinan jadi sendirian di rumah kalau Aftar berangkat kerja.


"Mas, Karin masih sering mengirim pesan atau telpon mas tidak?" Tanya Kinan, dia tampak ragu-ragu tapi dia juga merasa penasaran.


"Tidak pernah, entahlah aku juga tidak tahu kabar dia." Jawab Aftar dengan malas, dia paling tidak suka membahas Karin tapi dia juga tidak mau kalau Kinan berpikiran macam-macam.


Kinan kembali terdiam, dalam hatinya dia merasa senang karena suaminya sudah benar-benar terlepas dari sang mantan.


Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka sampai di tukang somay langganan Kinan. Letaknya di dekat danau dan tempatnya juga begitu asri, banyak pepohonan rindang yang membuat tempatnya terasa nyaman.


Aftar turun dari dalam mobil lebih dulu, lalu dia membukakan pintu mobil untuk Kinan.


Aftar menuntun Kinan menuju salah satu meja, kini mereka sudah duduk menunggu pesanan somay mereka.


"Kamu sering kesini?" Tanya Aftar.


"Dulu sering mas, somay disini enak mas. Arga juga sangat menyukainya," jawab Kinan.


Aftar langsung menatap Kinan dengan tatapan begitu garang rasanya kesal sekali lagi-lagi Kinan menyebut nama Arga di hadapannya.


"Haruskah Arga?" Cetus Aftar dengan nada kesal.


"Maaf mas, ini somaynya sudah datang ayo kita makan dulu." Kinan tersenyum, sungguh mulutnya ini dari tadi menyebalkan sekali karena berulang kali menyebut nama mantan sang kekasih.


Aftar masih kesal tapi dia sudah asik menikmati somay pesannya. Kinan tersenyum melihat suaminya begitu lahap malam somay pesannya.


"Sayang, ini enak sekali." Kata Aftar dan Kinan hanya menganggukkan kepalanya. "Makannya pelan-pelan!" Lirih Kinan sambil melihat sang suami sedang menikmati somay pesanannya.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berhenti tempat di meja Kinan dan Aftar.


"Kinan...." Panggilnya.


Kinan dan Aftar sama-sama menoleh.


"Kamu?"


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


Maaf ya baru update, tadi ada acara baru selesai 🙏


__ADS_2