Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Dasar manusia es


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Vira sudah bangun dari tidurnya bahkan dia sudah berdandan cantik dan sudah selesai masak.


"Apa, Arga belum bangun juga?" Tanya Vira pada dirinya sendiri, Vira melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk melihat suaminya.


Sesampainya di kamar, Vira melihat Arga sudah mandi dan sudah memakai kaos oblong dan celana pendek.


"Tumben, apa dia libur kerja?" Batin Vira dalam hatinya.


"Ada apa?" Tanya Arga dengan ketus, yang melihat Vira masuk ke dalam kamar.


"Sarapan dulu, aku juga sudah buatkan teh hangat untuk kamu." Jawab Vira, biarpun hatinya sedih tapi biar bagaimanapun dia adalah seorang istri yang harus tetap melakukan tugasnya dengan baik.


Arga beranjak dari tempat duduknya, tanpa menjawab perkataan Vira Arga langsung keluar dari dalam kamarnya. Lagi-lagi Vira hanya bisa mengelus dadanya agar selalu sabar menghadapi Arga.


Sesampainya di ruang makan, Arga langsung menarik kursi lalu duduk untuk menikmati sarapan paginya.


"Kamu yang masak?" Tanya Arga dengan nada datar.


"Iya, aku yang masak." Jawab Vira dengan nada lembut.


Arga mengambil nasi, lalu mengambil bermacam-macam lauk "Aku kira, gadis manja sepertimu tidak bisa masak." Jawab Arga dengan nada meremehkan.


Kita hanya diam, dia sangat malas meladeni suaminya itu. Karena pasti ujung-ujungnya Arga akan mengajaknya berdebat.


Arga menghentikan aktivitasnya makannya sambil membanting sendok yang ada di tangannya dengan kasar "Apa kamu tidak punya mulut, sehingga kamu tidak menjawab apa yang aku katakan?" Sentak Arga, membuat Vira merasa kaget.


"Dasar laki-laki aneh, setiap hari ngajaknya berdebat terus. Kalau tidak berdebat pasti dia hura-hura mabuk-mabukan tidak jelas, kenapa aku bisa punya suami seperti laki-laki ini?" Batin Vira dalam hatinya.


Vira menghentikan aktivitasnya makannya, dia merasa sangat kesal "Kita sedang sarapan, haruskah kamu mengajakku berdebat?" Jawab Vira dengan nada agak membentak.


Arga yang merasa kesal, dia langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Bahkan dia tidak menghabiskan makanannya lebih dulu.


Lagi-lagi Vira harus mengelus dadanya agar bisa selalu bersabar.


"Sabar Vira, tunggu sampai pernikahanmu beberapa bulan baru kamu meminta cerai pada suamimu." Vira berbicara dalam hatinya.


Arga malah pergi menonton televisi dan membiarkan Vira menghabiskan sarapannya sendirian.


____


Jam menunjukkan pukul 9 pagi, seperti apa kata Aftar kalau pagi ini supirnya akan menjemput Kinan untuk mengantarkan Kinan melakukan perawatan ke salon.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak Aftar." Sapa Fery atau yang tidak lain supir pribadi Sanjaya.


"Pagi juga Fer, oh iya Fer hari ini aku saja yang mengantar Kinan ke salon." Aftar tersenyum pada Fery.


"Bukankah bapak harus ke kantor?" Tanya Fery pada Aftar.


"Karena ini menjelang pernikahanku, jadi aku ambil cutti. Aku juga sekalian mau perawatan bareng Kinan," Jawab Aftar, tatapan matanya begitu penuh makna.


Sebenarnya Aftar sengaja melakukan hal ini, biar dia bisa dekat-dekat dengan Kinan terus.


"Baiklah pak, mau pakai mobil yang mana pak?" Tanya Fery sambil melihat Aftar yang dari tadi senyam-senyum tidak jelas.


"Setelah sekian lama, aku baru melihat Pak Aftar tersenyum. Dulu di suruh Nikah sama Pak Sanjaya nolak mulu, sekarang malah sepertinya semangat sekali." Batin Fery dalam hatinya.


"Baiklah pak, saya permisi dulu. Hati-hati di jalan pak!" Fery berlalu pergi dari hadapan Aftar.


Dengan senyum penuh maknanya, Aftar segera masuk ke dalam mobilnya dan dia langsung menyalakan mesin mobilnya untuk menuju ke rumah Kinan.


Sanjaya yang ternyata dari tadi berdiri melihat Aftar tersenyum bahagia, membuat Sanjaya juga sangat bahagia.


"Lihatlah nak, anak kalian bahagia sekali. Besok dia akan menikah, doakan pernikahan anak kalian lancar dan mereka menjadi keluarga yang rukun selamanya." Batin Sanjaya dalam hatinya.


____


Sesampainya di rumah Kinan, Aftar terus menyalakan klakson mobilnya, Kinan yang sedang menikmati sarapannya merasa kesal dan buru-buru keluar dari dalam rumahnya.


"Siapa sih, pagi-pagi berisik sekali!" Kinan marah-marah sambil berjalan ke depan.


Sesampainya di depan rumahnya, Kinan mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya.


"Ternyata manusia es, tapi untuk apa dia pagi-pagi datang ke rumahku? Bukankah kata dia supirnya yang akan menjemputku." Tanya Kinan pada hatinya.


"Dasar manusia es, apa hidupmu hanya untuk menganggu ketenangan orang lain?" Teriak Kinan dengan lantang, Aftar langsung turun dari mobilnya lalu menghampiri Kinan.


"Apa-apaan dia, berani sekali berteriak pada calon suaminya dengan sebutan manusia es." Batin Aftar dalam hatinya.


Sesampainya di hadapan Kinan, Aftar tiba-tiba menjewer telinga Kinan "Aku ini calon suamimu, panggil aku dengan sebutan yang benar!" Omel Aftar, sambil terus memegangi telinga Kinan.


Kinan merintih kesakitan "Lepaskan dulu telingaku, sakit pak!" Rengkek Kinan dengan kesal.


"Kinan, panggil aku dengan sebutan yang benar!" Tegas Aftar tidak mau tahu.

__ADS_1


"Iya iya, Mas Aftar tolong lepaskan telingaku sakit." Kinan memasang wajah memohon.


Aftar langsung melepaskan telinga Kinan, lalu mengusap telinga Kinan dengan lembut dan penuh perhatian "Makanya, lain kali panggil aku dengan sebutan yang benar!" Aftar mengomel pada Kinan.


Semakin hari, menurut Kinan sikap bosnya ini semakin aneh tapi Kinan tidak perduli, lagian pernikahannya kan hanya sebuah pernikahan Kontrak.


"Iya iya, tapi supir kamu mana mas?" Tanya Kinan, yang tidak mau salah panggil sebutan Aftar lagi atau Aftar akan kembali menjewer telinganya.


"Hari ini, aku yang akan menjadi supirmu. Kamu sudah siap belum?" Jawab Aftar dengan begitu tengilnya.


"Sudah, tapi aku mau sarapan dulu." Jawab Kinan dan mengajak Aftar masuk ke dalam rumahnya lebih dulu.


"Aku juga mau sarapan masakanmu, jadi tadi aku sengaja dari rumah tidak sarapan dulu." Kata Aftar, membuat Kinan menganggukkan kepalanya.


"Bilang saja kamu ketagihan masakan yang aku buatkan." Kinan tertawa dalam hatinya.


Kini mereka sudah duduk di meja makan, Kinan melanjutkan makannya.


"Gadis jutek, calon suamimu ada di hadapanmu bukannya kamu layani dulu dia makan, ini malah asik makan sendiri." Aftar kembali mengoceh, sungguh membuat Kinan merasa pusing.


Dalam hati Kinan, dia selalu membuatku pusing. Kita kan hanya akan melakukan pernikahan kontrak. Tapi dia seolah-olah menganggap aku ini calon istri sungguhan dia, kalau bukan bosku sudah aku usir keluar dia.


"Manusia es, kamu kan.....!" Kata-kata Kinan terpotong.


"Ingat jangan membantah dan panggil aku dengan sebutan Mas Aftar!" Sambung Aftar dengan tatapan dingin seperti biasanya.


"Dia saja memanggilku dengan sebutan gadis jutek, tapi aku memanggil dia dengan sebutan manusia es dia tidak terima." Gumam Kinan dalam hatinya.


Kinan males berdebat, akhirnya dia melakukan apa yang di perintahkan oleh Aftar. Kinan mengambilkan makanan dan memberikan pada Aftar.


"Makanlah dulu, berdebat juga butuh tenaga!" Kinan menaruh piring berisi nasi dan lauk di hadapan Aftar.


Aftar tersenyum simpul seolah-olah dirinya merasa senang, karena membuat Kinan kesal tapi tetap menurut pada dirinya.


Setelah selesai makan, Aftar langsung mengajak Kinan pergi.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Nanti di nikahan Aftar dan Kinan, Kita undang tamu dari karya-karya Author yang lain juga ya, itung-itung mereka reunian 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2