Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Takut Vino ngiler


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Kinan bingung mau ngapain? Sedangkan dia di rumah hanya sendirian.


Kinan hanya duduk sambil menonton televisi dan tiba-tiba dia terpikir untuk membawakan makan siang untuk suaminya.


"Lebih baik aku ke kantor Mas Aftar, aku bawakan makan siang buat dia saja." Kinan bergegas menuju ke dapur, seketika dia ingat di dapur hanya ada mie instan saja.


"Aku beli makan di luar sajalah." Kinan memutarkan balikkan badannya dan dia pergi menuju ke kamar.


Kinan bersiap-siap untuk pergi ke restoran untuk membelikan makan siang untuk sang suami.


Setelah selesai bersiap-siap, Kinan pergi dengan di antara oleh supir karena jika Kinan pergi sendiri atau naik kendaraan umum pasti Aftar akan mengoceh dan bersikap berlebihan pada dirinya. Jadi Kinan memilih di antara oleh supir saja.


Kini Kinan langsung menuju ke restoran, Kinan membeli banyak makanan sekalian untuk Vino. Di dalam restoran Kinan duduk di salah satu meja sambil menunggu pesannya selesai di buat.


Karin yang ternyata berada di restoran yang sama, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju ke tempat Kinan sedang duduk.


"Apa kabar gadis udik?" Sapa Karin dengan begitu sombongnya.


"Aku punya nama," Cetus Kinan tidak suka.


"Siapa namamu? Pelakor, dasar perempuan perebut pacar orang." Karin tertawa, dengan tatapan tidak suka pada Kinan.


"Karin, bisa jaga ucapanmu! Ini tempat umum, jangan permalukan dirimu sendiri, sadarlah kamu ini seorang artis," Jawab Kinan dengan tegas.


"Seorang pelakor sepertimu mana mungkin tahu malu, Kinan." Karin mengencangkan suaranya hingga semua pengunjung restoran langsung melihat ke arah mereka.


Sungguh rasanya Kinan ingin sekali menampar Karin, bisa-bisanya dia menuduh Kinan sebagai pelakor jelas-jelas Kinan tidak seperti itu.


"Cantik-cantik pelakor."


"Padahal dia terlihat masih muda, usianya juga pasti masih belasan tahun."


"Anak muda jaman sekarang yang penting duit."


"Jijik sekali sama pelakor."


Banyak pengunjung restoran yang memberikan komentar negatif pada Kinan, padahal mereka tidak tahu apa-apa yang sebenarnya di antara Kinan dan Karin.


"Lalu bagaimana denganmu? Kamu punya seorang kekasih yang kaya, hidupnya mapan dan dia adalah pengusaha muda yang sukses, tapi kamu malah sibuk dengan karirmu dan kamu juga tega menghianati cintanya padahal kamu tahu dia sangat sayang padamu, jika kamu bilang diriku ini pelakor, lalu kamu wanita j*l*ng yang menjajakan tubuhnya untuk mempermulus karirmu." Jawab Kinan yang tidak mau kalah, enak saja Karin bilang kalau Kinan ini pelakor.


"Wahh ternyata wanita yang di pelakorin, dia juga wanita j*l*ng."


"Sudahlah, ketika laki-laki memilih wanita lain yang lebih baik itu wajar dan aku yakin pasti itu punya alasan."


"Sudah-sudah, jangan bergosip kita tidak tahu apa urusan mereka."


Banyak para pengunjung yang berasumsi Semaunya sendiri, tapi kali ini mereka berasumsi pada Karin.


"Kinan, kamu sungguh berani padaku ya!" Karin mengangkat tangannya dan dia hendak men*mpar pipi mulus Kinan, tapi dengan kuat Kinan menahan tangan Karin. "Jangan berani menyentuhku dan ingat aku bukan pelakor!" Kinan mengibaskan tangan Karin dengan kasar.


Karin menatap Kinan dengan penuh amarah, Tapi Kinan langsung pergi meninggalkan Karin begitu saja karena makanan pesanan dia sudah jadi.


Setelah membayar makanan pesannya, Kinan keluar dari dalam restoran.

__ADS_1


"Ingat, jangan buat malu dirimu sendiri!" Bisik Kinan dengan tatapan kesal.


Kinan sudah berlalu keluar dari dalam restoran, sungguh tidak habis pikir semalam dia mimpi apa? Bisa-bisanya dia bertemu dengan emak lampir.


"Dasar gadis udik sialan, aku akan merebut Aftar kembali padaku," Karin melirik para tamu restoran dengan tatapan kesal.


Karin keluar dari dalam restoran dengan raut wajah marah.


Di kantor Aftar.


Dengan raut wajah yang masih tampak kesal, Kinan masuk ke dalam ruangan Aftar dan tiba-tiba Vino menyapanya.


"Nona Kinan," Sapa Vino sambil tersenyum.


"Vino, kebetulan ini aku bawakan makan siang buat kamu." Jawab Kinan, sambil memberikan satu porsi makanan dan minuman pada Vino.


"Terimakasih nona, nona Pak Aftar sebucin apa? Sampai-sampai mitting pagi ini tidak datang," Vino senyam-senyum dengan nada meledek.


"Vino apaan sih? Sudahlah aku ke ruangan Mas Aftar dulu," Kinan berlalu pergi dari hadapan Vino.


Vino tersenyum bahagia. "Sekarang panggilnya sudah Mas Aftar," Vino berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Di ruangan Aftar.


Sesampainya di ruangan Aftar, Kinan mengetuk pintu ruangan Aftar. "Tok.. tok..." Suara ketukan pintu.


"Masuklah, pintunya tidak di kunci!" Sahut Aftar dari dalam ruangannya.


"Ceklek...." Kinan membuka pintu ruangan Aftar, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Aftar. "Mas Aftar," Panggil Kinan dengan nada lembut.


Kini Aftar menuntun Kinan untuk duduk di sofa, "Kenapa, apa ada masalah?" Tanya Aftar dengan raut wajah sangat kawatir, Aftar duduk di sebelah Kinan.


"Aku bawakan makan siang buat mas," Kinan menaruh makanan yang dari tadi di tenteng di atas meja.


Aftar tersenyum, kali ini dirinya sangat bahagia.


"Senangnya punya istri, makan siang ada yang nganterin." Batin Aftar dalam hatinya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Aftar, dia melihat Kinan tampak beda dari biasanya.


Kinan hanya menggelengkan kepalanya, Aftar mendengus kesal. "Kamu kenapa, sayang?" Tanya Aftar dengan nada lembut.


"Tadi tidak sengaja di jalan bertemu dengan emak lampir," Jawab Kinan malas.


"Emak lampir, maksudnya?" Tanya Aftar semakin penasaran.


"Itu mantan kekasih suamiku, mas." Jawab Kinan yang enggan menyebutkan nama Karin.


Aftar tersenyum, lalu mencubit pipi Kinan dengan pelan. "Maksudnya, kamu bertemu dengan Karin," Jawab Aftar dengan nada meledek.


Kinan memanyunkan bibirnya, melihat ekspresi wajah suaminya biasa saja dia bertemu dengan Karin.


"Tidak usah di perjelas mas!" Rajuk Kinan dengan manja.

__ADS_1


Aftar bergeser dari tempat duduknya, dia duduk mendekati Kinan, "Kenapa, kamu cemburu?" Goda Aftar dengan jail.


"Mau apalagi, Karin menemui Kinan?" Tanya Aftar dalam hatinya.


"Cemburu, aku rasa tidak mas." Kinan menjulurkan lidahnya.


"Masa, boleh mas bertemu dengan Karin?" Tanya Aftar sengaja menggoda istrinya.


"Mas....." Lirikan Kinan sangat tajam, membuat Aftar langsung memeluknya dengan erat. "Hanya bercanda sayang, katanya tadi tidak cemburu," Aftar kembali menggoda sang istri dengan jail.


"Boleh aku menemui Arga?" Tanya Kinan dengan sengaja.


"Jika kamu berani menemuinya, maka aku akan marah padamu." Aftar melepaskan Kinan dari pelukannya, Aftar paling cemburu jika Kinan membahas laki-laki lain di hadapannya apalagi mantannya.


"Mas juga cemburu," Kinan tertawa jail.


"Sudahlah, ayo makan siang atau aku akan memakanmu." Aftar melihat dengan tatapan mesum.


Buru-buru Kinan mengalihkan tatapan suaminya itu, karena saat ini dirinya merasa sangat gerogi.


Kinan membuka makanan yang dia beli tadi dan mereka menikmati makan siang bersama dengan begitu romantis, bahkan Aftar juga meyuapi Kinan untuk pertama kalinya.


"Sayang, kamu sudah siap untuk nanti malam?" Tanya Aftar tiba-tiba, membuat Kinan semakin gugup.


"Mas, sebenarnya nanti malam kita mau ngapain?" Lagi-lagi Kinan bertanya dengan raut wajah menggemaskan, sungguh rasanya Aftar sudah tidak tahan ingin segera pulang dari kantor dan memakan istrinya yang sepolos toples itu.


"Tunggu nanti malam sayang, nanti kamu akan tahu." Aftar mendaratkan bibirnya di bibir Kinan, kini mereka saling berciuman dengan mesra.


Tiba-tiba pintu ruangan Aftar terbuka, Vino ternganga melihat adegan yang ada di hadapannya itu.


"Aish, Pak Aftar kamu membuat jiwa jombloku meronta-ronta." Batin Vino dalam hatinya.


Melihat Vino datang, Aftar langsung melepaskan ciumannya dari bibir Kinan. Betapa malunya Kinan kemarin ke pergok oleh sang kakek dan sekarang ke pergok oleh sekretaris suaminya.


"Aish.." Kinan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Vin, lain kali ketuklah pintu sebelum masuk! Dasar penganggu," Omel Aftar dan Vino menganggukan kepalanya.


"Biasanya juga tidak mengetuk pintu tidak masalah, kenapa aku bisa lupa kalau di ruangan Pak Aftar ada Nona Kinan." Batin Vino dalam hatinya.


"Maaf Pak," Vino tersenyum bersalah.


"Kamu lanjutkan pekerjaanku, aku mau pulang dulu!" Aftar meraih tangan Kinan dengan lembut.


"Mas, bukankah kamu harus bekerja?" Tanya Kinan dengan suara lirih.


"Ada Vino sayang, ayo kita lanjutkan di rumah saja! Takut Vino ngiler, kasian dia masih jomblo." Aftar membawa Kinan berlalu pergi dari dalam ruangannya.


Setelah bosnya pergi, Vino hanya berdecak kesal meratapi nasibnya yang masih jomblo.


Aftar dan Kinan langsung pulang ke rumah mereka dan sesampainya di rumah Aftar langsung membawa Kinan masuk ke dalam kamar.


BERSAMBUNG 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2